Stetoskop

Menyimak Keajaiban Tubuh Manusia

ARV, Dambaan Semua ODHA

Posted by prima almazini on 11 November 2007

Kematian menjadi ancaman serius bagi ODHA di sepanjang usia hidupnya. Prevalensi ODHA yang meningkat harus diimbangi upaya penyediaan ARV yang merata dan terus menerus untuk menyelamatkan kehidupan mereka.
AntiretroviralDi Indonesia, angka prevalensi HIV/AIDS pada subpopulasi beresiko tinggi telah melebihi 5%. Hingga Juni 2005, tercatat jumlah penderita AIDS sebanyak 3.358 orang. Tetapi penderita yang sebenarnya diperkirakan mencapai 103.971 orang. Ancaman epidemi telah terlihat melalui data infeksi yang terus meningkat di kalangan kelompok beresiko tinggi. Diperkirakan pada tahun 2010 akan ada sekitar 110.000 orang yang menderita atau meninggal karena AIDS, serta 1-5 juta orang yang mengidap virus HIV.


Salahsatu langkah penting untuk menanggulangi HIV/AIDS adalah meningkatkan Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) yang minum obat Anti Retroviral (ARV). Menurut Prof. Dr. Zubairi Djoerban, Sp.PD, KHOM, dengan pengunaan obat ARV, terbukti angka kematian turun drastis sehingga jarang sekali ODHA yang masuk rumah sakit. Sebaliknya tanpa pengobatan yang adekuat, akan semakin banyak ODHA meninggal karena AIDS. Karena itu, pada Kongres Internasional AIDS XVI di Kanada 13-16 Agustus 2006 lalu, AIDS tidak lagi dikategorikan penyakit yang selalu mematikan. Namun, menjadi penyakit kronik yang dapat diobati.
Berdasarkan data Joint United Nations Programme on HIV/AIDS (UNAIDS), pada tahun 2004 di Indonesia baru 5000 orang yang mendapatkan ARV, padahal jumlah infeksi diperkirakan sudah mencapai 200.000 orang. Apabila dibandingkan dengan Bostwana, hal itu masih jauh dari harapan. Di sana, 70% ODHA telah mendapatkan ARV gratis.
Peningkatan akses obat di Indonesia menjadi tanggung jawab bersama antara pemerintah, badan multilateral, industri farmasi, media, LSM, maupun funding agencies. Obat HIV AIDS merupakan life saving dan sangat dibutuhkan oleh ODHA. Menurut Prof. Dr. dr. Samsuridjal Djauzi, Sp.PD, sesuai dengan tujuan pembangunan milenium tahun 2015, agar AIDS di Indonesia dapat dikendalikan dan diturunkan angka penularannya maka semangat penanggulangan AIDS perlu dihidupkan terus.
Akses obat harus didukung informasi ilmiah alasan penggunaan, diketahui mutu dan jumlah obat yang diperlukan untuk importansi, diketahui pasien yang diobati, dan pelaksanaan pengobatan harus dibawah pengawasan ketat dokter. Paket pengadaan obat harus merupakan bagian terintegrasi dalam pelayanan minimal penderita HIV/AIDS. Risiko manajemen obat HIV/AIDS yang tidak baik dapat menyebabkan kegagalan terapi, meningkatkan risiko munculnya resistensi, menurunkan kepatuhan pasien, menurunkan profesi kesehatan dan meningkatkan suplai yang tidak teratur. Permasalahan pengobatan AIDS memang bukan sekadar penyediaan yang merata. Namun obat juga perlu tersedia terus menerus agar terapi dapat dilaksanakan berkelanjutan.

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>