Perkembangan Terbaru Terapi Stroke Perdarahan Intraserebral
Posted by prima almazini on 6 September 2008
Stroke perdarahan intraserebral terkenal sangat mematikan. Beberapa penelitian terbaru memperlihatkan setitik cahaya terang dalam kemajuan terapinya meskipun belum sepenuhnya dapat diterapkan secara klinis.
Stroke adalah gangguan peredaran darah di otak yang mengakibatkan terganggunya fungsi otak dan menyebabkan kematian sel-sel otak. Salah satu jenis stroke dengan tingkat kematian tertinggi dan paling sulit ditangani yaitu stroke perdarahan intraserebral. Sekitar 40% dari pasien dengan perdarahan intraserebral meninggal dalam 30 hari dan yang bertahan hidup sebagian besar memiliki hendaya yang berat. Hingga kini belum ditemukan pengobatan yang dapat menurunkan tingkat kematian pasien stroke akibat perdarahan intraserebral.
Menurut penelitian Davis, dkk yang diterbitkan dalam Journal Neurology pada tahun 2006, dalam waktu 3 jam pascaonset gejala stroke, pada 70% lebih pasien stroke intraserebral ditemukan perluasan hematoma di otak. Volume hematoma pada jaringan parenkim otak adalah indikator penting dalam penanganan perdarahan intraserebral. Para ilmuwan mengaitkan pelebaran daerah hematoma dengan tingkat mortalitas yang tinggi dan hasil terapi yang buruk. Mereka kemudian berasumsi bahwa dengan mencegah perluasan hematoma akan dapat memperbaiki keluaran terapi yang sudah ada.
Salah satu cara yang dipikirkan oleh para peneliti yaitu dengan memberikan rekombinan faktor VIIa (rFVIIa). Sebenarnya, penggunaan rFVIIa untuk mengurangi pelebaran daerah hematoma pada pasien perdarahan serebral yang mempunyai sistem koagulasi yang normal merupakan suatu hal yang baru. Sebelumnya faktor VII yang telah diaktivasi hanya diindikasikan pada penanganan perdarahan, pencegahan terjadinya perdarahan saat prosedur invasif pada pasien hemofilia kongenital, serta untuk pasien yang menderita hemofilia didapat serta defisiensi faktor VII kongenital yang mengalami perdarahan.
Penelitian tentang efektivitas rFVIIa dalam manajemen stroke pertama kali dipublikasikan pada tahun 2005. Mayer melakukan penelitian pada 399 pasien yang telah dibuktikan dengan CT scan memiliki perdarahan intraserebral 3 jam pascaonset gejala stroke. Mereka secara acak diberi plasebo, 40 mikrogram, 80 mikrogram, dan 160 mikrogram rFVIIa per kilogram berat badan dalam jangka 1 jam setelah scan. Dalam 24 jam, rata-rata peningkatan volume hematoma pada kelompok plasebo yaitu 29%, sedangkan pada kelompok yang diberi, secara berurutan , 40 mikrogram, 80 mikrogram, dan 160 mikrogram rFVIIa, yaitu 16%, 14%, dan 11 %. Perdarahan intraventrikuler terjadi pada 43% kelompok plasebo, sedangkan pada kelompok rFVIIa hanya 39%. Secara umum, penelitian ini menunjukkan efek yang signifikan pemberian rFVIIa terhadap perdarahan intraventrikuler maupun perdarahan intraserebral.
Baru-baru ini, Mayer dan kawan-kawan mempublikasikan hasil studi klinis lanjutan di New England Journal of Medicine 2008. Hasilnya memperlihatkan bahwa terapi hemostatik dengan rFVIIa dapat mengurangi pelebaran daerah hematoma akan tetapi tidak meningkatkan tingkat harapan hidup maupun hasil secara fungsional pascaperdarahan intraserebral. Meskipun gagal untuk memperlihatkan manfaat secara klinik, percobaan rFVIIa pada pengobatan perdarahan intraserebral akut telah memperlihatkan kemampuan rFVIIa untuk membatasi perluasan daerah hematoma dengan efek samping trombosis yang minimal. Satu hal yang pasti, tunggal ataupun kombinasi, cara ini akan tetap membawa keuntungan bagi pasien.
Alternatif pengobatan lain tengah dicoba. Para peneliti tengah berupaya mengurangi efek negatif dari perdarahan intraventrikuler dan perluasan hematoma intraserebral dengan pendekatan lain yaitu dengan pemberian agen trombolitik. Pemberian agen trombolitik dengan bantuan kateter intraventrikuler terbukti dapat mempercepat pengeluaran darah dari sistem ventrikuler. Selain itu, upaya menurunkan tekanan darah dianggap sebagai pendekatan yang tepat dan lebih murah untuk meminimalisir perluasan hematoma. Panduan dari American Heart Association mengenai manajemen perdarahan intraserebral spontan telah menganjurkan agar tercapai target tekanan darah 160/90 mm Hg atau mean arterial pressure sebesar 110 mm Hg bersamaan dengan menjaga tekanan perfusi otak dalam kisaran 60-80 mm Hg. Studi klinik untuk menentukan efektivitas penurunan tekanan darah terhadap penurunan risiko perluasan hematoma sedang dilakukan. Kedua pendekatan tersebut masih dalam penelitian lebih lanjut.(primz, dari berbagai sumber)





















Nugroho said
thanks atas infonya yg sangat berarti. Gini Dok, Bapak saya terkena stroke pendarahan sejak thuni’98. Dia diserang sebelah kiri maka yg lumpuh sebelah kanan. Dia kena srtoke pendarahan lagi kemarin,skitar 1 minggu yg lalu, bsok rencananya udah boleh pulang, karena pendarahanya udah bagus. tpi kata dokter terdapat air di otak bapak saya, karena stroke yg lama yg mengakibatkan otaknya mengkerut.untuk itu perlu di ambil airnya dngan jalan operasi. tpi dokternya jg ngak bisa memberikan kepastian tentang keberhasilan operasi tersebut. makanya bapak saya di ijinkan pulang….
yg saya tanyakan disini…
1. Apakah ada cara lain menghilangkan air di otak bapak saya selain di operasi, soalnya saraf2 beliau udah rapuh……?(umur bapak saya 70th)
2. Apakah ada obat herbal atau alternatif yang dapat membantu kesembuhan bapak saya….?
sebelumnya saya ucapkan terima kasih atas perhatian dan jawabanya…
Salam,
Nugroho