Stetoskop

Menyimak Keajaiban Tubuh Manusia

Archive for the ‘Cerita Pengalaman’ Category

Nasionalisme di Mata Saya

Posted by prima almazini on 8 February 2009

“In-do-ne-sia dug..dug..dug..tak dug..dug. In-do-ne-sia dug..tak..dug..tak..dug..dug.” Kalau nasionalisme diukur dari berapa banyak menyebut kata Indonesia dan seberapa sering mengibarkan merah putih, maka tak ada yang lebih nasionalis daripada para suporter sepakbola.

bendera merah putih

Saya adalah seorang mahasiswa perantau. Sudah 4 tahun saya tinggal di kota rantauan. Namun saya tak akan pernah lupa berbagai kebiasaan di kampung halaman saya. Rumah saya terletak di pusat kota. Kami tinggal satu keluarga terdiri dari ibu dan 4 orang anak. Salah satunya, saya, anak paling sulung.

Salah satu kebiasaan yang saya ingat adalah tentang bendera merah putih. Saya selalu terkenang saat ibu saya menyuruh mencari bendera merah putih menjelang hari kemerdekaan tiba. “Cari di gudang ya nak,“ pintanya. Bendera itu berdebu terjepit di antara benda-benda tak terpakai lainnya seperti buku-buku sekolah bekas dan kardus bekas TV. Ukuran benderanya pun tidak sama dengan ukuran bendera standar seperti yang saya pelajari di pelajaran PPKN. Keluarga kami tidak ada keturunan dari tokoh nasionalis seperti bung Karno ataupun Ki Hajar Dewantara, tidak ada pula yang veteran pejuang 45, aktivis partai, apalagi calon presiden. Kami tidak begitu peduli dengan tetek bengek perayaan kemerdekaan. Gembar-gembor Ketua RT di TOA mesjid adalah satu-satunya alasan keluarga kami memasang bendera merah putih di depan rumah.

Read the rest of this entry »

Posted in Cerita Pengalaman | 6 Comments »

Menanti Senyum Kaum Perempuan Indonesia

Posted by prima almazini on 24 October 2008

Jaga IGD bagi seorang ko-asisten sepertiku tak lebih dari sebuah rutinitas saja di sela-sela jadwal kuliah kedokteran yang padat. Tapi ada yang berbeda siang itu.

women abuse

Seorang ibu menatap tajam ke arahku. Sinar matanya memantulkan kesedihan sekaligus ketegaran yang sepertinya telah lama menemani waktu-waktu hidupnya. Tak ada gurat sesal di wajahnya. Hanya gurat-gurat keriput yang alamiah muncul saat menjelang usia senja yang tampak di wajahnya. Detik itu aku memberanikan diri bertanya andai saja si ibu membutuhkan bantuanku, karena memang siang itu IGD sepi dan tak ada hal yang harus kukerjakan.

Sejurus kemudian, si ibu pun mulai bercerita. Anak pertamanya mengalami kecelakaan sepeda motor saat hendak pulang ke rumah. Boleh dibilang anak laki-laki satu-satunya itu adalah anak kesayangannya. Kekhawatiran sangat terlihat dari bahasa tubuh dan caranya berbicara. Tanpa terasa tetes demi tetes air matanya jatuh membasahi pakaiannya. Namun ternyata bukan anaknya yang membuatnya menangis.

Read the rest of this entry »

Posted in Cerita Pengalaman | 4 Comments »