“In-do-ne-sia dug..dug..dug..tak dug..dug. In-do-ne-sia dug..tak..dug..tak..dug..dug.” Kalau nasionalisme diukur dari berapa banyak menyebut kata Indonesia dan seberapa sering mengibarkan merah putih, maka tak ada yang lebih nasionalis daripada para suporter sepakbola.

Saya adalah seorang mahasiswa perantau. Sudah 4 tahun saya tinggal di kota rantauan. Namun saya tak akan pernah lupa berbagai kebiasaan di kampung halaman saya. Rumah saya terletak di pusat kota. Kami tinggal satu keluarga terdiri dari ibu dan 4 orang anak. Salah satunya, saya, anak paling sulung.
Salah satu kebiasaan yang saya ingat adalah tentang bendera merah putih. Saya selalu terkenang saat ibu saya menyuruh mencari bendera merah putih menjelang hari kemerdekaan tiba. “Cari di gudang ya nak,“ pintanya. Bendera itu berdebu terjepit di antara benda-benda tak terpakai lainnya seperti buku-buku sekolah bekas dan kardus bekas TV. Ukuran benderanya pun tidak sama dengan ukuran bendera standar seperti yang saya pelajari di pelajaran PPKN. Keluarga kami tidak ada keturunan dari tokoh nasionalis seperti bung Karno ataupun Ki Hajar Dewantara, tidak ada pula yang veteran pejuang 45, aktivis partai, apalagi calon presiden. Kami tidak begitu peduli dengan tetek bengek perayaan kemerdekaan. Gembar-gembor Ketua RT di TOA mesjid adalah satu-satunya alasan keluarga kami memasang bendera merah putih di depan rumah.





















