<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Stetoskop</title>
	<atom:link href="http://myhealing.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://myhealing.wordpress.com</link>
	<description>Menyimak Keajaiban Tubuh Manusia</description>
	<lastBuildDate>Sun, 15 Nov 2009 04:43:40 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='myhealing.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/997a2bb08b0d54eae5ffb2df4f4ace71?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Stetoskop</title>
		<link>http://myhealing.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>Nobel Kedokteran 2009 : Misteri Telomer Terpecahkan</title>
		<link>http://myhealing.wordpress.com/2009/11/08/nobel-kedokteran-2009-misteri-telomer-terpecahkan/</link>
		<comments>http://myhealing.wordpress.com/2009/11/08/nobel-kedokteran-2009-misteri-telomer-terpecahkan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 08 Nov 2009 14:58:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>prima almazini</dc:creator>
				<category><![CDATA[Biologi Molekuler]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://myhealing.wordpress.com/?p=913</guid>
		<description><![CDATA[Elizabeth H. Backburn, Carol W Greider, dan Jack W Szostak berhasil meraih penghargaan Nobel Kedokteran 2009 berkat sebuah penemuan yang berjudul “Bagaimana Kromosom Dilindungi oleh Telomer dan Enzim Telomerase”.

Kromosom mengandung genom pada molekul DNA-nya. Pada awal tahun 1930-an, Hermann Muller (peraih hadiah Nobel tahun 1946) dan Barbara McClintock (peraih Nobel tahun 1983) telah meneliti bahwa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=myhealing.wordpress.com&blog=2051869&post=913&subd=myhealing&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><div id="pd_rating_holder_792756"></div>
<script language="javascript">
	PDRTJS_settings_792756 = {
		"id" : "792756",
		"unique_id" : "wp-post-913",
		"title" : "Nobel+Kedokteran+2009+%3A+Misteri+Telomer+Terpecahkan",
		"permalink" : "http%3A%2F%2Fmyhealing.wordpress.com%2F2009%2F11%2F08%2Fnobel-kedokteran-2009-misteri-telomer-terpecahkan%2F"
	};
</script>
<p><em><strong>Elizabeth H. Backburn</strong>, <strong>Carol W Greider</strong>, dan <strong>Jack W Szostak</strong> berhasil meraih penghargaan Nobel Kedokteran 2009 berkat sebuah penemuan yang berjudul “Bagaimana Kromosom Dilindungi oleh Telomer dan Enzim Telomerase”.</em></p>
<p><a href="http://myhealing.files.wordpress.com/2009/11/blackburngreiderszostak.png"><img src="http://myhealing.files.wordpress.com/2009/11/blackburngreiderszostak.png?w=350&#038;h=500" alt="nobel kedokteran" title="nobel kedokteran" width="350" height="500" class="aligncenter size-full wp-image-914" /></a></p>
<p>Kromosom mengandung genom pada molekul DNA-nya. Pada awal tahun 1930-an, <strong>Hermann Muller</strong> (peraih hadiah Nobel tahun 1946) dan <strong>Barbara McClintock</strong> (peraih Nobel tahun 1983) telah meneliti bahwa struktur pada akhir kromosom, yang disebut telomer, diperkirakan mencegah kromosom untuk melekat satu sama lain. Mereka menduga bahwa telomer memiliki peran protektif, tetapi bagaimana cara kerjanya masih tanda tanya.</p>
<p>Saat peneliti mulai memahami bagaimana gen di-<em>copy</em>, pada tahun 1950-an, masalah lain muncul. Ketika sebuah sel membelah, molekul DNA, yang mengandung empat basa yang membentuk kode genetik, di-<em>copy</em>, basa demi basa, oleh enzim polymerase. Namun, pada satu dari dua ujung DNA, permasalahan timbul yaitu pada bagian paling akhir dari ujung DNA tidak dapat di-<em>copy</em>. Oleh karena itu, kromosom akan memendek setiap kali sel terbelah. Kedua masalah ini dapat dipecahkan saat penerima Nobel tahun ini menemukan apa fungsi telomer dan menemukan enzim yang meng-<em>copy</em>-nya. </p>
<p><span id="more-913"></span><strong>Telomer DNA Memproteksi Kromosom</strong><br />
Pada awal fase karir penelitiannya, <strong>Elizabeth Blackburn</strong> memetakan urutan DNA. Saat mempelajari kromosom <em>Tetrahymena</em>, sebuah organisme siliata uniseluler, dia mengidentifikasi sebuah urutan DNA yang diulang-ulang beberapa kali pada ujung kromosom. Fungsi urutan ini, CCCCAA, masih belum jelas. Pada waktu yang sama, <strong>Jack Szostak</strong> telah membuat penelitian bahwa sebuah molekul DNA linier, sebuah tipe monokromosom, didegradasi secara cepat saat dimasukan ke sel ragi.</p>
<p>Blackburn mempresentasikan hasilnya pada sebuah konferensi pada tahun 1980. Ia mengajak Jack Szostack kemudian Jack dan Blackburn memutuskan untuk melakukan eksperimen menembus batas spesies yang sangat jauh berbeda. Melalui DNA <em>Tetrahymena</em>, Blackburn mengisolasi urutan CCCCAA. Szostac memasangkannya dengan minikromosom dan memasukkannya ke dalam sel ragi. Hasilnya, yang telah dipublikasikan pada tahun 1982, sangat mengejutkan – urutan telomer DNA melindungi minikromosom dari degradasi. DNA telomer dari satu organisme, <em>Tetrahymena</em>, melindungi kromosom suatu organisme yang sangat jauh berbeda, ragi. Hal ini memperlihatkan sebuah keberadaan mekanisme dasar yang tidak diketahui sebelumnya. Kemudian, hal in menjadi bukti bahwa telomer DNA dengan urutan khasnya terdapat pada seluruh tumbuhan dan hewan, dari amuba hingga manusia.</p>
<p><strong>Sebuah Enzim yang Membentuk Telomer</strong><br />
<strong>Carol Greider</strong>, seorang mahasiswa S1, dan supervisor Blackburn memulai menginvestigasi sebuah kemungkinan bahwa pembentukan telomer DNA dipengaruhi oleh suatu enzim yang belum diketahui. Pada hari Natal tahun 1984, Greider menemukan tanda-tanda aktivitas enzim pada ekstrak sel. Greider dan Blackburn menamakannya enzim telomerase, memisahkannya, dan menunjukkan bahwa enzim juga mengandung RNA seperti halnya protein. Komponen RNA dibuktikan mengandung urutan CCCCAA. Enzim ini berperan sebagai cetakan saat telomer dibentuk, saat komponen protein dibutuhkan untuk proses konstruksi contohnya aktivitas enzim. Telomerase memegang telomer DNA, menyediakan alat yang membuat polymerase DNA dapat meng-<em>copy </em>keseluruhan panjang kromosom tanpa kehilangan bagian paling akhir. </p>
<p><a href="http://myhealing.files.wordpress.com/2009/11/telomer-new.jpg"><img src="http://myhealing.files.wordpress.com/2009/11/telomer-new.jpg?w=450&#038;h=600" alt="telomer new" title="telomer new" width="450" height="600" class="aligncenter size-full wp-image-917" /></a></p>
<p><strong>Telomer Memperlambat Penuaan Sel</strong><br />
Peneliti saat ini mulai meneliti apa peran telomer di sel. Kelompok Szostak mengidentifikasi sel ragi dengan mutasi yang menyebabkan pemendekan bertahap dari telomer. Beberapa sel tumbuh dengan buruk dan berhenti membelah. Blackburn dan asistennya membuat mutasi pada RNA telomerase dan meneliti efek yang sama pada <em>Tetrahymena</em>. Pada kedua kasus tersebut, hal ini menimbulkan penuaan sel prematur – penurunan fungsi sel akibat penuaan. Sebaliknya, telomer fungsional malah mencegah kerusakan kromosom dan memperlambat penuaan sel. Selanjutnya, kelompok Greider memperlihatkan bahwa penuaan sel manusia diperlambat oleh telomerase. Penelitian tentang ini telah banyak dan saat ini diketahui bahwa urutan DNA pada telomer menarik protein yang membentuk penutup protektif di sekeliling akhir yang rapuh dari pita DNA.</p>
<p><strong>Potongan <em>Puzzle</em> yang Penting &#8211; Penuaan Manusia, Kanker dan Stem Sel</strong><br />
Penelitian ini memiliki dampak yang besar pada komunitas ilmuwan. Banyak ilmuwan berspekulasi bahwa telomer memendek dapat merupakan alasan penuaan, tidak hanya sel individual tapi juga pada organisme secara umum. Akan tetapi proses penuaan telah berubah menjadi kompleks dan saat ini dipikirkan bergantung pada beberapa faktor yang berbeda, telomer salah satu diantaranya. Penelitian di wilayah ini akan semakin banyak.</p>
<p>Kebanyakan sel normal tidak membelah terlalu sering, oleh karena itu kromosom tidak punya risiko memendek dan tidak membutuhkan aktivitas telomerase yang tinggi. Sebaliknya sel kanker memiliki kemampuan untuk membelah tidak terbatas dan juga memelihara telomernya. Bagaimana sel kanker menghindar dari penurunan fungsi seluler karena penuaan? Satu penjelasan menjadi  dengan penemuan bahwa sel kanker sering memiliki aktivitas telomerase yang meningkat. Beberapa penelitian belum dilakukan pada wilayah ini, termasuk percobaan klinis untuk mengevaluasi vaksin yang melawan langsung sel dengan aktivitas telomerase meningkat.</p>
<p>Beberapa penyakit menurun saat ini diketahui menjadi penyebab defek pada telomer, contohnya anemia aplastik kongenital. Penyakit turunan tertentu dari kulit dan paru-paru juga disebabkan oleh defek telomerase.<br />
Kesimpulan, penelitian Blackburn, Greider dan Szostak telah menambah dimensi baru pada pemahaman kita mengenai sel, mekanisme penyakit, dan merangsang pengembangan terapi potensial baru. </p>
<p><strong>Sumber: </strong><br />
1. Nobelforsamlingen. Press Release. Available from:  http://nobelprize.org/nobel_prizes/medicine/laureates/2009/press.html</p>
<p><!--more--></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/myhealing.wordpress.com/913/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/myhealing.wordpress.com/913/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/myhealing.wordpress.com/913/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/myhealing.wordpress.com/913/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/myhealing.wordpress.com/913/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/myhealing.wordpress.com/913/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/myhealing.wordpress.com/913/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/myhealing.wordpress.com/913/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/myhealing.wordpress.com/913/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/myhealing.wordpress.com/913/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=myhealing.wordpress.com&blog=2051869&post=913&subd=myhealing&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://myhealing.wordpress.com/2009/11/08/nobel-kedokteran-2009-misteri-telomer-terpecahkan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/630c91ad8ad25980639361466258bb34?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">prima almazini</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://myhealing.files.wordpress.com/2009/11/blackburngreiderszostak.png" medium="image">
			<media:title type="html">nobel kedokteran</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://myhealing.files.wordpress.com/2009/11/telomer-new.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">telomer new</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Satu dari Sedikit</title>
		<link>http://myhealing.wordpress.com/2009/10/29/satu-dari-sedikit/</link>
		<comments>http://myhealing.wordpress.com/2009/10/29/satu-dari-sedikit/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Oct 2009 09:02:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>prima almazini</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pediatrik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://myhealing.wordpress.com/?p=857</guid>
		<description><![CDATA[Di tengah maraknya kekerasan pada anak, banyak dokter yang menaruh empati. Tetapi hanya sedikit saja yang berperan aktif dalam upaya pencegahan secara nasional. Satu diantaranya terdengar nama Dr. Indra Sugiarno, Sp.A dalam memperjuangkan hak-hak anak.
”Stop Kekerasan pada Anak”. Demikianlah kalimat yang tertera di spanduk jalanan. Spanduk yang dapat ditemui di beberapa jalan kota-kota besar. Dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=myhealing.wordpress.com&blog=2051869&post=857&subd=myhealing&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><div id="pd_rating_holder_792878"></div>
<script language="javascript">
	PDRTJS_settings_792878 = {
		"id" : "792878",
		"unique_id" : "wp-post-857",
		"title" : "Satu+dari+Sedikit",
		"permalink" : "http%3A%2F%2Fmyhealing.wordpress.com%2F2009%2F10%2F29%2Fsatu-dari-sedikit%2F"
	};
</script>
<p><em>Di tengah maraknya kekerasan pada anak, banyak dokter yang menaruh empati. Tetapi hanya sedikit saja yang berperan aktif dalam upaya pencegahan secara nasional. Satu diantaranya terdengar nama Dr. Indra Sugiarno, Sp.A dalam memperjuangkan hak-hak anak.</em></p>
<p><img src="http://myhealing.files.wordpress.com/2009/10/dr-indra.jpg?w=121&#038;h=139" alt="Dr. Indra" title="Dr. Indra" width="121" height="139" class="alignleft size-full wp-image-862" />”Stop Kekerasan pada Anak”. Demikianlah kalimat yang tertera di spanduk jalanan. Spanduk yang dapat ditemui di beberapa jalan kota-kota besar. Dan bila kita memperhatikan maka juga terpampang nama organisasi yang memiliki gagasan tersebut.  Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). </p>
<p>Memang tak heran IDAI ikut memperhatikan masalah anak. Termasuk kekerasan pada anak. Akan tetapi dibalik organisasi tersebut tentu terdapat tokoh yang berperan. Ketua Satuan Tugas (satgas) Perlindungan dan Kesejahteraan Anaklah yang disebut-sebut. Tak lain adalah <strong>Dr. Indra Sugiarno, Sp.A</strong>. </p>
<p>Indra, begitu ia biasa disapa, selain menjadi aktivis yang memperjuangkan hak-hak anak, ia juga aktif sebagai pengajar di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Ia juga yang ikut mempelopori modul pengenalan kekerasan pada anak untuk diajarkan bagi calon dokter umum.</p>
<p>Perenungan dokter kelahiran Indramayu, 6 Maret 1960, ini tentang kekerasan pada anak adalah berawal dari kebiasaan berkunjung ke Departemen Forensik. Hal ini dilakukannya ketika masih menjalani pendidikan dokter spesialisasi anak. Dari perbincangannya dengan dokter-dokter forensik, ia mendapatkan pencerahan. Ia menjadi tertarik untuk menekuni masalah kekerasan pada anak. Kemudian Indra melanjutkan perenungannya menjadi suatu langkah nyata. Setelah menjadi dokter spesialis anak, ia bergabung dengan Departemen Forensik. </p>
<p><span id="more-857"></span>Di Forensik, ia berhasil mempelopori juga pendirian Pusat Krisis Terpadu di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo pada tahun 2000. Pusat Krisis Terpadu ini difungsikan untuk menangani korban-korban kekerasan pada anak. Baik secara jalur medis, sosial ataupun hukum secara terpadu.</p>
<p>Tak puas dengan usaha yang dilakukan. Ia mendaftar dan mengikuti seleksi untuk menjadi anggota Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) yang dibentuk pemerintah. Dari 250 orang peminat, ia berhasil masuk urutan 18 besar dengan menyisihkan saingan-saingannya, termasuk salah satunya dosennya sendiri. Namun sayang, ia tidak dapat menjadi anggota karena yang dipilih hanya 9 orang. Walaupun demikian ia masih dapat menyalurkan idealismenya melalui Satgas Perlindungan dan Kesejahteraan Anak yang dibawahinya.</p>
<p>Indra menyadari bahwa budaya kekerasan pada anak itu sudah ada sejak dulu. Iapun mengalaminya. Indra kecil dibesarkan di lingkungan keluarga dengan pendidikan disiplin yang keras. Ayahnya adalah seorang pensiunan tentara. Pendekatan disiplin militer yang ketat sering ikut terbawa ke rumah. Apabila anak dianggap nakal dan melakukan kesalahan, maka si anak diberi hukuman fisik. Mungkin hal itu jugalah yang membuatnya saat ini peduli terhadap masalah kekerasan pada anak. Ia optimis bahwa suatu saat kekerasan pada anak itu dapat dihapuskan dari budaya masyarakat kita.</p>
<p>Optimisme tersebut tergambar dalam cita-cita yang sedang diperjuangkannya saat ini. Indra ingin membentuk institusi pelindungan terhadap kekerasan anak. Institusi ini diharapkan dimotori oleh seorang tokoh nasional. ”Diperlukan tokoh nasional untuk merubah budaya masyarakat” ujarnya. Indra memiliki pandangan bahwa pencegahan kekerasan pada anak harus dilakukan secara sistemik dan berkelanjutan. </p>
<p>Ia berharap dokter-dokter untuk ikut lebih memperhatikan kasus kekerasan pada anak. Apabila menemukan kasus kekerasan, dokter harus melakukan tatalaksana sesuai prosedur yang berlaku. Sehingga masalah kekerasan anak dapat diberantas. Semoga habis gelap timbullah terang. Terang bagi senyum anak-anak kita. <em>Primz, Salma.</em><!--more--></p>
<p>(Ingin mengenal lebih dekat dr. Indra Sugiarno, Sp. A(K)? Kunjungi blognya di<a href="http://drindrasugiarno.blogspot.com/">sini</a>.)</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/myhealing.wordpress.com/857/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/myhealing.wordpress.com/857/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/myhealing.wordpress.com/857/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/myhealing.wordpress.com/857/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/myhealing.wordpress.com/857/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/myhealing.wordpress.com/857/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/myhealing.wordpress.com/857/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/myhealing.wordpress.com/857/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/myhealing.wordpress.com/857/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/myhealing.wordpress.com/857/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=myhealing.wordpress.com&blog=2051869&post=857&subd=myhealing&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://myhealing.wordpress.com/2009/10/29/satu-dari-sedikit/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/630c91ad8ad25980639361466258bb34?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">prima almazini</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://myhealing.files.wordpress.com/2009/10/dr-indra.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Dr. Indra</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>RV 144: Vaksin HIV Pertama di Dunia</title>
		<link>http://myhealing.wordpress.com/2009/10/01/vaksin-hiv-thailand-31-2-efektif-mencegah-infeksi-hiv/</link>
		<comments>http://myhealing.wordpress.com/2009/10/01/vaksin-hiv-thailand-31-2-efektif-mencegah-infeksi-hiv/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Oct 2009 14:28:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>prima almazini</dc:creator>
				<category><![CDATA[HIV-AIDS]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://myhealing.wordpress.com/?p=777</guid>
		<description><![CDATA[Pada hari Kamis 24 September 2009, Thailand resmi mengumumkan kesuksesannya dalam meneliti vaksin HIV. Vaksin baru itu diberi nama RV 144.

Pada tahun 2007, dua juta orang meninggal karena AIDS. United Nations agency UNAIDS memperkirakan, setiap hari 7.000 orang baru di seluruh dunia terinfeksi HIV.
Pada tahun 2004, banyak orang skeptis terhadap percobaan vaksin HIV terutama setelah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=myhealing.wordpress.com&blog=2051869&post=777&subd=myhealing&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><div id="pd_rating_holder_792895"></div>
<script language="javascript">
	PDRTJS_settings_792895 = {
		"id" : "792895",
		"unique_id" : "wp-post-777",
		"title" : "RV+144%3A+Vaksin+HIV+Pertama+di+Dunia",
		"permalink" : "http%3A%2F%2Fmyhealing.wordpress.com%2F2009%2F10%2F01%2Fvaksin-hiv-thailand-31-2-efektif-mencegah-infeksi-hiv%2F"
	};
</script>
<p><em>Pada hari Kamis 24 September 2009, Thailand resmi mengumumkan kesuksesannya dalam meneliti vaksin HIV. Vaksin baru itu diberi nama RV 144.</em></p>
<p><img src="http://myhealing.files.wordpress.com/2009/10/vaksin-hiv.jpg?w=360&#038;h=270" alt="vaksin HIV" title="vaksin HIV" width="360" height="270" class="alignleft size-full wp-image-793" /></p>
<p>Pada tahun 2007, dua juta orang meninggal karena AIDS. <em>United Nations agency</em> UNAIDS memperkirakan, setiap hari 7.000 orang baru di seluruh dunia terinfeksi HIV.</p>
<p>Pada tahun 2004, banyak orang skeptis terhadap percobaan vaksin HIV terutama setelah 22 peneliti AIDS mempublikasikan sebuah editorial di majalah <em>Science </em>yang mengatakan bahwa penelitian vaksin AIDS hanya membuang-buang uang. Pada tahun 2007, dua percobaan dari vaksin Merck pada sekitar 4000 orang telah dihentikan sejak awal, vaksin tersebut tidak hanya gagal bekerja tetapi pada beberapa laki-laki malah meningkatkan risiko infeksi. </p>
<p><strong>Dr. Anthony S. Fauci</strong>, direktur <em>The National Institute of Allergy and Infectious Disease</em>, mengatakan “Selama lebih dari 20 tahun terakhir, percobaan vaksin telah gagal, sekarang seperti kami telah meraba sebuah pola dalam gelap, dan pintu telah terbuka. Kita dapat mulai menanyakan beberapa pertanyaan yang sangat penting.”</p>
<p>Para peneliti menyatakan bahwa vaksin baru HIV dipelajari untuk menjawab dua pertanyaan fundamental, yaitu mengapa penyakit AIDS hanya mengenai beberapa orang dan tidak yang lain, dan mengapa mereka yang terinfeksi setelah mendapat vaksinasi tidak mendapat manfaat apapun.</p>
<p><span id="more-777"></span><strong>Percobaan Terbesar di Dunia</strong><br />
Percobaan terbesar vaksin HIV dalam sejarah ini menelan biaya 105 juta dolar dan diikuti oleh 16.402 sukarelawan Thailand. Laki-laki dan perempuan berumur 18 hingga 30 tahun direkrut dari 2 provinsi di tenggara ibukota Bangkok, lebih banyak dari populasi umum dibandingkan dari kelompok risiko tinggi seperti para pekerja seks atau pengguna obat-obatan injeksi. Separuhnya mendapat 6 dosis dari dua vaksin yang berbeda, sedangkan separuhnya  lagi diberikan plasebo.</p>
<p>Untuk alasan etik, seluruhnya telah ditawari kondom, diajarkan bagaimana untuk mencegah infeksi dan dijanjikan terapi antiretroviral jangka panjang jika mereka terkena AIDS. Mereka secara reguler diuji selama 3 tahun. Hasilnya, 74 diantaranya yang mendapat plasebo terinfeksi HIV, tetapi hanya 51 dari mereka yang mendapat vaksin yang terkena.</p>
<p>Meskipun perbedaannya hanya 23 orang, <strong>Kolonel Jerome H. Kim</strong>, seorang dokter dan manajer dari program vaksin HIV militer, mengatakan bahwa secara statistik hal tersebut signifikan dan berarti bahwa vaksin tersebut 31,2 % efektif.</p>
<p><strong>Vaksin HIV Thailand</strong><br />
<img src="http://myhealing.files.wordpress.com/2009/10/hiv-vaccine.jpg?w=294&#038;h=300" alt="HIV vaccine" title="HIV vaccine" width="294" height="300" class="alignleft size-medium wp-image-791" />RV 144, nama vaksin HIV baru ini, merupakan kombinasi dari <strong>Alvac HIV </strong>dan <strong>Aidsvax</strong>, dua vaksin buatan yang sebelumnya telah gagal saat digunakan secara terpisah. Vaksin dari Perusahaan Perancis Sanofi-Aventis, Alvac HIV, adalah virus <em>canarypox</em> dengan tiga gen virus yang disisipkan di dalamnya. Variasi dari vaksin ini telah diuji di beberapa negara, hasilnya memperlihatkan bahwa vaksin ini aman namun tidak protektif.</p>
<p>Vaksin lain Aidsvax, yang dibuat oleh Genentech tetapi saat ini dilisensikan kepada <em>Global Solutions for Infectious Diseases</em>, sebuah kelompok kesehatan nonprofit, mengandung protein yang ditemukan di permukaan virus AIDS. Virus ditumbuhkan di sebuah medium cair yang mengandung sel ovari hamster. Vaksin ini telah diuji pada pengguna obat-obatan di Thailand pada tahun 2003 dan pada laki-laki gay di Amerika Utara dan Eropa, tetapi gagal. </p>
<p>Kombinasi Alvac dan Aidsvac secara sederhana menimbulkan pertanyaan: jika yang satu didesain untuk membuat antibodi dan yang lain untuk memberi peringatan pada sel darah putih, mungkinkah mereka bekerja secara bersama-sama?</p>
<p>Pada percobaan ini terdapat sebuah hasil yang membingungkan yaitu bahwa vaksin ini tidak menurunkan <em>viral loads</em> mereka yang divaksinasi tetapi hanya menangkap virus saja. Ini membingungkan karena bahkan vaksin yang <em>mismatched</em> pun dapat berefek seperti itu. Menurut dr. Fauci, hal aneh ini -mereka yang terinfeksi memiliki jumlah virus yang sama pada darahnya baik pada mereka yang mendapat vaksin maupun yang mendapat plasebo- memperlihatkan bahwa RV 144 tidak memproduksi “antibodi penetral”, seperti kebanyakan vaksin. Antibodi adalah protein berbentuk Y yang dibentuk oleh tubuh yang mengikat virus yang menginvasi, melindungi permukaan sel dengan cara melekat pada sel dan menandai virus untuk dihancurkan.</p>
<p><img src="http://myhealing.files.wordpress.com/2009/10/hiv-budding-color1.jpg?w=450&#038;h=315" alt="hiv-budding-color1" title="hiv-budding-color1" width="450" height="315" class="aligncenter size-full wp-image-789" /></p>
<p>Menurut teori <strong>dr. Fauci</strong>, vaksin RV 144 akan menghasilkan “antibodi pengikat” yang melekatkan diri ke sel efektor , sebuah tipe sel darah putih, dan mendayagunakan sel efektor untuk melawan virus. Oleh karena itu, dia mengatakan, akan sangat masuk akal untuk menyaring seluruh sampel darah orang Thailand yang telah disimpan untuk menemukan “antibodi pengikat” tersebut.<br />
<strong><br />
Bukan Akhir Segalanya</strong><br />
<strong>Mitchel Warren</strong>, Direktur Eksekutif <em>AIDS Vaccine Advocacy Coalition</em> (AVAC) mengatakan, “Ini bukan vaksin yang mengakhiri epidemik, tetapi ini adalah langkah baru luar biasa yang membawa kita ke arah yang baru. Dan arah ke mana masih belum diketahui. Tidak seorangpun termasuk para peneliti dari <em>United States Army</em>, <em>the National Institutes of Health</em>, Kementrian Kesehatan Masyarakat Thailand dan dua perusahaan vaksin yang telah menguji vaksin, mengetahui mengapa vaksin memberikan indikator sukses yang lemah.”</p>
<p><strong>Frances Gotch</strong>, Professor Imunologi di <em>Imperial College London</em> mengatakan bahwa hasil menunjukkan hasil yang signifikan secara statistik dan mungkin efek kedua vaksin bekerja bersama menimbulkan efek yang lebih kuat.  Gotch yang juga peneliti utama di <em>International AIDS Vaccine Initiative</em>, mengatakan “Tentu tidak 100% orang terproteksi tetapi 31% akan membuat perbedaan besar di dunia. Saya pikir ini akan bermanfaat.”</p>
<p>Para peneliti menekankan vaksin ini belum diketahui apakah akan bekerja pula pada strain lain di belahan dunia yang lain. Vaksin ini didesain untuk melawan strain virus yang tersering di Asia Tenggara, sehingga harus dimodifikasi untuk strain yang beredar di Afrika dan Amerika Serikat. </p>
<p><strong>Dr. Lawrence Corey</strong>, peneliti utama di <em>HIV Vaccine Trials Network</em>, yang tidak terlibat di percobaan RV 144, mengatakan percobaan baru pada versi <em>smallpox </em>yang telah dilemahkan menghasilkan ‘tulang punggung’ pox yang lebih baik yang dapat menggantikan <em>canarypox</em>. Penelitian baru, dapat lebih cepat dan lebih kecil jika dilakukan di negara Afrika dimana AIDS lebih umum didapatkan daripada di Thailand. “Penemuan vaksin HIV Thailand menimbulkan optimisme tentang kemungkinan meningkatkan hasil yang sudah ada saat ini. Ini adalah sesuatu yang dapat kita lakukan,” tutup <strong>dr. Fauci</strong>. Semoga vaksin baru selanjutnya yang lebih poten dapat segera ditemukan. <strong>(primz)</strong></p>
<p><strong>Sumber:</strong></p>
<p>1. Celego. HIV vaccine Thailand. Availabel from: http://www.way2boom.com/health/hiv-vaccine-thailand-|-hiv- aids-vaccine-2009/</p>
<p>2. Kittiwongsakul, P. Thailand announces AIDS vaccine ‘breakthrough’. Agence France-Presse. Available from: http://www.thaindian.com/newsportal/health1/thailand-announces-aids-vaccine-breakthrough-lead_100251879.html</p>
<p>3. MCNeil, DG. For First Time, AIDS Vaccine Shows Some Success. Military HIV Research Programme. Available from: http://www.nytimes.com/2009/09/25/health/research/25aids.html?_r=1</p>
<p><!--more--><!--more--></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/myhealing.wordpress.com/777/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/myhealing.wordpress.com/777/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/myhealing.wordpress.com/777/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/myhealing.wordpress.com/777/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/myhealing.wordpress.com/777/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/myhealing.wordpress.com/777/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/myhealing.wordpress.com/777/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/myhealing.wordpress.com/777/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/myhealing.wordpress.com/777/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/myhealing.wordpress.com/777/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=myhealing.wordpress.com&blog=2051869&post=777&subd=myhealing&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://myhealing.wordpress.com/2009/10/01/vaksin-hiv-thailand-31-2-efektif-mencegah-infeksi-hiv/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/630c91ad8ad25980639361466258bb34?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">prima almazini</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://myhealing.files.wordpress.com/2009/10/vaksin-hiv.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">vaksin HIV</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://myhealing.files.wordpress.com/2009/10/hiv-vaccine.jpg?w=294" medium="image">
			<media:title type="html">HIV vaccine</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://myhealing.files.wordpress.com/2009/10/hiv-budding-color1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">hiv-budding-color1</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kultur Stem Sel pada Lensa Kontak</title>
		<link>http://myhealing.wordpress.com/2009/09/01/kultur-stem-sel-pada-lensa-kontak/</link>
		<comments>http://myhealing.wordpress.com/2009/09/01/kultur-stem-sel-pada-lensa-kontak/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Sep 2009 09:34:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>prima almazini</dc:creator>
				<category><![CDATA[Stem Cell]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://myhealing.wordpress.com/?p=732</guid>
		<description><![CDATA[Tim peneliti University of New South Wales telah melakukan terobosan pertama kali di dunia dengan menggunakan kultur stem sel pada lensa kontak, guna memperbaiki visus pasien yang buta akibat penyakit kornea. Penglihatan pasien-pasien tersebut membaik secara bermakna dalam beberapa minggu setelah tindakan. 

Dr. Nick Di Girolamo yang memimpin studi ini menuai stem sel dari mata [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=myhealing.wordpress.com&blog=2051869&post=732&subd=myhealing&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><div id="pd_rating_holder_792926"></div>
<script language="javascript">
	PDRTJS_settings_792926 = {
		"id" : "792926",
		"unique_id" : "wp-post-732",
		"title" : "Kultur+Stem+Sel+pada+Lensa+Kontak",
		"permalink" : "http%3A%2F%2Fmyhealing.wordpress.com%2F2009%2F09%2F01%2Fkultur-stem-sel-pada-lensa-kontak%2F"
	};
</script>
<p><em>Tim peneliti University of New South Wales telah melakukan terobosan pertama kali di dunia dengan menggunakan kultur stem sel pada lensa kontak, guna memperbaiki visus pasien yang buta akibat penyakit kornea. Penglihatan pasien-pasien tersebut membaik secara bermakna dalam beberapa minggu setelah tindakan. </em></p>
<p><img src="http://myhealing.files.wordpress.com/2009/09/kontak-lensa-stem-sel.jpg?w=350&#038;h=280" alt="kontak lensa stem sel" title="kontak lensa stem sel" width="350" height="280" class="alignleft size-full wp-image-733" /></p>
<p><strong>Dr. Nick Di Girolamo</strong> yang memimpin studi ini menuai stem sel dari mata pasien sendiri, guna  memperbaiki kornea matanya. Stem sel tersebut dikultur pada lensa kontak terapeutik biasa, dan selama 10 hari ditempatkan pada kornea yang mengalami kerusakan. Selama periode waktu tersebut, stem sel mampu menghasilkan rekolonisasi permukaan mata yang mengalami kerusakan. </p>
<p>Para peneliti menyatakan bahwa meskipun metode ini dilakukan untuk  memperbaiki kerusakan kornea, tetapi diharapkan dapat mengobati berbagai jenis kebutaan akibat kelainan mata, dan dapat diterapkan pada organ-organ lain.</p>
<p>Studi ini dilakukan pada 3 pasien, dimana 2 pasien diantaranya menderita kerusakan kornea ekstensif akibat operasi multipel untuk mengangkat melanoma okuler dan 1 pasien menderita kelainan mata genetik yaitu aniridia. Penyebab lain kerusakan kornea dapat berupa luka bakar akibat zat kimia atau panas, infeksi bakteri, dan kemoterapi.</p>
<p><span id="more-732"></span>Dikatakan oleh para peneliti, bahwa metode ini sangat sederhana dan murah. Berbeda dengan teknik lain, metode ini tidak memerlukan bahan asing yang berasal dari manusia atau hewan, dan hanya serum pasien sendiri. Metode operasi ini secara relatif bersifat non-invasif, dan hanya cukup datang ke rumah sakit dua jam sebelum operasi. Pada metode ini, mata pasien dipersiapkan dan kemudian dipasang lensa kontak, setelah itu pasien diperbolehkan pulang.</p>
<p>Para peneliti menyatakan bahwa dengan metode operasi ini, tidak diperlukan jahitan dan tidak dilakukan operasi mayor. Dalam tindakan ini hanya dibutuhkan penuaian jaringan permukaan okuler dalam jumlah sangat kecil yaitu &lt; 1 mm. Jika metode seperti ini digunakan di negara-negara ketiga, yang diperlukan hanyalah seorang dokter ahli dan laboratorium untuk kultur sel, dan tidak diperlukan peralatan canggih apapun. </p>
<p>Karena metode ini menggunakan stem sel yang dituai dari mata pasien sendiri, maka metode ini ideal untuk penderita dengan kelainan mata unilateral. Meskipun demikian, metode ini juga efektif untuk pasien yang mempunyai kerusakan mata bilateral.</p>
<p>Dalam studi ini, salah satu pasien menderita aniridia, yang merupakan kelainan kongenital yang mengenai kedua mata pasien. Dalam kasus ini tidak dilakukan pengambilan sel punca dari kornea, tetapi dilakukan pengambilan sel punca dari bagian mata yang lain  yaitu konjungtiva, yang juga mengandung stem sel. Stem sel tersebut mampu berubah dari fenotipe konjungtiva menjadi fenotipe kornea, setelah dilakukan pada kornea pasien.</p>
<p>Lensa kontak teurapetik yang digunakan dalam studi ini merupakan jenis yang umum digunakan pascaoperasi permukaan okuler di seluruh dunia. Meskipun demikian, dari beberapa produk yang ada di pasaran, hanya 1 produk yang cocok untuk menumbuhkan stem sel. Tidak diketahui secara pasti penyebab hal ini, tetapi diduga berhubungan dengan komponen yang terkandung dalam lensa kontak tersebut.</p>
<p>Para peneliti berharap bahwa teknik ini dapat disesuaikan penggunaannya untuk bagian mata lain, seperti retina atau bahkan organ lain. Jika metode ini dapat  diterapkan pada mata, maka kemungkinan besar metode ini juga dapat diterapkan pada organ mayor lain seperti kulit, yang mempunyai sifat-sifat mirip dengan kornea.  </p>
<p><strong>Sumber: </strong>Majalah <em>Medical Update</em> edisi Juli 2009 (dikutip dengan izin)<!--more--></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/myhealing.wordpress.com/732/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/myhealing.wordpress.com/732/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/myhealing.wordpress.com/732/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/myhealing.wordpress.com/732/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/myhealing.wordpress.com/732/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/myhealing.wordpress.com/732/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/myhealing.wordpress.com/732/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/myhealing.wordpress.com/732/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/myhealing.wordpress.com/732/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/myhealing.wordpress.com/732/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=myhealing.wordpress.com&blog=2051869&post=732&subd=myhealing&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://myhealing.wordpress.com/2009/09/01/kultur-stem-sel-pada-lensa-kontak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/630c91ad8ad25980639361466258bb34?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">prima almazini</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://myhealing.files.wordpress.com/2009/09/kontak-lensa-stem-sel.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">kontak lensa stem sel</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tips dan Trik: Bila Menjadi Tim Medis Aksi</title>
		<link>http://myhealing.wordpress.com/2009/08/20/tips-dan-trik-bila-menjadi-tim-medis-aksi/</link>
		<comments>http://myhealing.wordpress.com/2009/08/20/tips-dan-trik-bila-menjadi-tim-medis-aksi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 20 Aug 2009 10:01:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>prima almazini</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tips dan Trik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://myhealing.wordpress.com/?p=675</guid>
		<description><![CDATA[Dalam setiap aksi massal atau acara yang mengumpulkan banyak massa, panitia selalu membentuk tim medis aksi untuk menangani dengan cepat berbagai kegawatdaruratan yang terjadi di lapangan. Sebagai tim medis aksi, apa saja yang harus diperhatikan? 

Sebelum turun aksi :
1. Malam sebelumnya harus tidur cukup (jangan begadang, nonton bola/tv sampai larut malam sebaiknya dihindari)
2. Sarapan terlebih [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=myhealing.wordpress.com&blog=2051869&post=675&subd=myhealing&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><div id="pd_rating_holder_792972"></div>
<script language="javascript">
	PDRTJS_settings_792972 = {
		"id" : "792972",
		"unique_id" : "wp-post-675",
		"title" : "Tips+dan+Trik%3A+Bila+Menjadi+Tim+Medis+Aksi",
		"permalink" : "http%3A%2F%2Fmyhealing.wordpress.com%2F2009%2F08%2F20%2Ftips-dan-trik-bila-menjadi-tim-medis-aksi%2F"
	};
</script>
<p><em>Dalam setiap aksi massal atau acara yang mengumpulkan banyak massa, panitia selalu membentuk tim medis aksi untuk menangani dengan cepat berbagai kegawatdaruratan yang terjadi di lapangan. Sebagai tim medis aksi, apa saja yang harus diperhatikan? </em></p>
<p><img src="http://myhealing.files.wordpress.com/2009/08/dsc09030.jpg?w=400&#038;h=320" alt="Tim Medis Aksi" title="Tim Medis Aksi" width="400" height="320" class="aligncenter size-large wp-image-692" /></p>
<p><span id="more-675"></span><strong>Sebelum turun aksi :</strong></p>
<blockquote><p>1. Malam sebelumnya harus tidur cukup (<em>jangan begadang, nonton bola/tv sampai larut malam sebaiknya dihindari</em>)</p>
<p>2. Sarapan terlebih dahulu pada pagi harinya(<em>jangan sampai tim medisnya yang pingsan duluan, hehe</em>)</p>
<p>3. Ketahuilah masalah apa yang diperjuangkan dalam aksi yang kita ikuti</p>
<p>4. Ketahuilah rute aksi dan di pos mana kita ditempatkan (<em>agar tidak nyasar</em>)</p>
<p>5. Periksa kotak obat, pastikan <em>content</em>-nya lengkap (<em>termasuk ada daftar obatnya</em>)</p>
<p>6. Berdoa.</p></blockquote>
<p><img src="http://myhealing.files.wordpress.com/2009/08/dsc09019.jpg?w=300&#038;h=400" alt="mobil tim medis " title="mobil tim medis " width="300" height="400" class="aligncenter size-large wp-image-722" /></p>
<p><img src="http://myhealing.files.wordpress.com/2009/08/dsc09022.jpg?w=300&#038;h=400" alt="Menyiapkan pos medis" title="Menyiapkan pos medis" width="300" height="400" class="aligncenter size-medium wp-image-724" /></p>
<p><strong>Saat aksi di lapangan :</strong></p>
<blockquote><p>1. Jangan bawa barang berharga seperti HP dan dompet saat aksi (<em>karena copet biasanya memanfaatkan kesempatan di tengah keramaian</em>) </p>
<p>2. Di balik rompi tim medis, pakailah baju lengan tangan panjang (<em>untuk mencegah paparan sinar UV berlebihan yang bisa menimbulkan karsinoma</em>)</p>
<p>3. Pakailah pakaian yang menyerap keringat (<em>demi kenyamanan</em>)</p>
<p>4. Pakailah sepatu dan hindari mengunakan sendal (<em>apalagi sendal jepit</em>)</p>
<p>5. Gunakanlah penutup kepala/topi (<em>cuaca boleh panas, tapi kepala harus tetap dingin</em>)</p>
<p>6. Jangan hanya menunggu di posko, tapi masuk dan menyisiplah ke dalam barisan peserta aksi (<em>sehingga bila ada yang pingsan atau butuh pertolongan bisa segera ditangani</em>)</p>
<p>7. Jangan hanya berdiam diri. Perhatikan keadaan peserta aksi dan tawarkan bantuan bila terlihat membutuhkan pertolongan (proaktif). Awali dengan pertanyaan, apakah Anda merasa sakit/pusing/mual/dsb? (<em>karena peserta aksi biasanya tidak aware dengan keberadaan tim medis dan kadang-kadang terlihat &#8217;sungkan&#8217; dan merasa dirinya masih kuat, padahal&#8230;..%^&amp;*($#$+^&amp;</em>)</p>
<p>8. Kasus yang sering muncul yaitu mual, demam, maag, <em>heatstress</em>, dehidrasi, pusing, diare, luka, dan pingsan. Pastikan kita &#8220;menguasai&#8221; penanganannya (<em>kalau perlu siapkan lebih dulu &#8216;amunisi&#8217; obat-obatan untuk menangani itu di rompi, agar mudah dijangkau</em>)</p>
<p>9. Bila menemukan kasus gawat, lakukan tindakan primer kemudian segera minta bantuan yang lain dan bawa secepatnya ke posko (<em>jangan mengambil resiko dengan berusaha menangani sendiri di tempat</em>)</p>
<p>10. Saat menjalankan tugas, perhatikan juga keselamatan diri sendiri (<em>terutama bila terjadi rusuh atau <em>clash</em> dengan aparat</em>)</p></blockquote>
<p>Semoga berguna!<!--more--></p>
<p>(Tulisan ini pernah diposting di blog <a href="http://primz.blog.friendster.com/">Life Story</a>) </p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/myhealing.wordpress.com/675/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/myhealing.wordpress.com/675/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/myhealing.wordpress.com/675/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/myhealing.wordpress.com/675/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/myhealing.wordpress.com/675/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/myhealing.wordpress.com/675/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/myhealing.wordpress.com/675/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/myhealing.wordpress.com/675/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/myhealing.wordpress.com/675/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/myhealing.wordpress.com/675/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=myhealing.wordpress.com&blog=2051869&post=675&subd=myhealing&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://myhealing.wordpress.com/2009/08/20/tips-dan-trik-bila-menjadi-tim-medis-aksi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/630c91ad8ad25980639361466258bb34?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">prima almazini</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://myhealing.files.wordpress.com/2009/08/dsc09030.jpg?w=1024" medium="image">
			<media:title type="html">Tim Medis Aksi</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://myhealing.files.wordpress.com/2009/08/dsc09019.jpg?w=768" medium="image">
			<media:title type="html">mobil tim medis </media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://myhealing.files.wordpress.com/2009/08/dsc09022.jpg?w=225" medium="image">
			<media:title type="html">Menyiapkan pos medis</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mencegah Infeksi Fokal pada Gigi</title>
		<link>http://myhealing.wordpress.com/2009/08/01/mencegah-infeksi-fokal-pada-gigi/</link>
		<comments>http://myhealing.wordpress.com/2009/08/01/mencegah-infeksi-fokal-pada-gigi/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 01 Aug 2009 09:13:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>prima almazini</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dentistry]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://myhealing.wordpress.com/?p=510</guid>
		<description><![CDATA[Gigi merupakan satu-satunya permukaan tubuh yang tidak memiliki pelindung. Pada setiap miligram plak gigi terdapat lebih dari 10 pangkat 11 bakteri. Bagaimanakah cara mencegah infeksi pada gigi?

Faktor-faktor yang mempengaruhi infeksi fokal pada gigi ada dua yaitu faktor pejamu dan agen. Faktor agen meliputi jenis bakteri dan virulensinya. Jenis bakteri tertentu hanya menimbulkan infeksi lokal dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=myhealing.wordpress.com&blog=2051869&post=510&subd=myhealing&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><div id="pd_rating_holder_792977"></div>
<script language="javascript">
	PDRTJS_settings_792977 = {
		"id" : "792977",
		"unique_id" : "wp-post-510",
		"title" : "Mencegah+Infeksi+Fokal+pada+Gigi",
		"permalink" : "http%3A%2F%2Fmyhealing.wordpress.com%2F2009%2F08%2F01%2Fmencegah-infeksi-fokal-pada-gigi%2F"
	};
</script>
<p><em>Gigi merupakan satu-satunya permukaan tubuh yang tidak memiliki pelindung. Pada setiap miligram plak gigi terdapat lebih dari 10 pangkat 11 bakteri. Bagaimanakah cara mencegah infeksi pada gigi?</em></p>
<p><img src="http://myhealing.files.wordpress.com/2009/08/infected-tooth.jpg?w=300&#038;h=240" alt="infected tooth" title="infected tooth" width="300" height="240" class="alignleft size-full wp-image-805" /></p>
<p>Faktor-faktor yang mempengaruhi infeksi fokal pada gigi ada dua yaitu faktor pejamu dan agen. Faktor agen meliputi jenis bakteri dan virulensinya. Jenis bakteri tertentu hanya menimbulkan infeksi lokal dan jenis bakteri lain dapat menyebar secara cepat dan difus melalui jaringan. Infeksi endodontal dan periodontal dihubungkan dengan mikroflora kompleks yang berjumlah hampir 200 spesies (pada periodontitis apikal) dan lebih dari 500 spesies (pada periodontitis marginal). Infeksi ini sebagian besar anaerobik dengan kokus gram negatif yang paling sering ditemukan. Kedekatan anatomi mikroflora ini dengan pembuluh darah memfasilitasi bakteremia dan penyebaran sistemik dari kompleks imun, komponen, dan produk bakteri. </p>
<p>Faktor pejamu meliputi pertahanan tubuh terhadap penetrasi bakteri dari plak gigi ke jaringan yaitu penghalang fisik yang dibentuk oleh epitel permukaan, defensins (antibiotik peptida yang dibentuk pejamu, di mukosa epitelium), penghalang elektrik, penghalang imunologis sel pembentuk antibodi dan sistem retikuloendotelial (penghalang fagosit). Pada keadaan normal, sistem penghalang ini bekerja bersama untuk menghambat dan mengeliminasi penetrasi bakteri. Apabila keseimbangan ini terganggu oleh adanya kerusakan sistem fisik (misal karena trauma), sistem elektrik (misal karena hipoksia) atau penghalang imunologis (seperti karena neutropenia, AIDS atau terapi imunosupresan), organisme dapat menyebar dan menyebabkan infeksi akut dan kronik.</p>
<p><span id="more-510"></span>Dalam keadaan higiene oral normal, hanya sedikit bakteri fakultatif yang mendapat akses ke pembuluh darah. Apabila higiene oral buruk, jumlah bakteri yang berkolonisasi di gigi, khususnya supragingiva dapat meningkat 2-10 kali lipat dan memungkinkan lebih  banyak bakteri melewati jaringan dan masuk ke pembuluh darah, menimbulkan peningkatan prevalensi dan besarnya bakteremia. Faktor lingkungan meliputi status sosioekonomi.</p>
<p><strong>Pencegahan </strong><br />
Mencegah gingivitis dan periodontitis didasarkan secara primer pada plak dan kalkulus di sekitar gigi. Belum ada penelitian mengenai efektivitas konseling (skrining atau rujukan) untuk mencegah gingivitis dan periodontitis.</p>
<p><strong>Menyikat gigi dan <em>Flossing </em>(higiene oral)</strong><br />
Gingivitis terbentuk pada orang dewasa setelah 10-21 hari pada orang yang tidak adanya upaya untuk menghilangkan plak menjadi bukti yang merekomendasikan menyikat gigi paling sedikit sekali sehari.</p>
<p>Penelitian epidemiologis krosseksional memperlihatkan bahwa terdapat hubungan negatif antara penyakit periodontal dan frekuensi menyikat gigi. Penelitian kohort memperlihatkan bahwa terdapat hubungan antara higiene oral yang baik dengan prevalensi yang rendah dari periodontitis. Percobaan klinis mengekonfirmasi bahwa penghilangan plak yang efektif setiap 48 jam dikaitkan dengan gusi yang sehat. Namun validitasnya terbatas karena partisipan membersihkan giginya dibawah pengawasan. Prosedur rutin setiap hari dinyatakan ‘sangat membosankan’ oleh partisipan.</p>
<p>Pada penelitian longitudinal unik (tanpa grup kontrol), 375 partisipan menerima tindakan <em>scalling</em> dan <em>root planning</em> untuk menghilangkan kalkulus setiap 2-3 bulan selama 9 tahun pertama penelitian, dan dua kali setahun selama 6 tahun berturut-turut. Partisipan diminta untuk menjaga higiene oral di rumah. Setelah 15 tahun, pada partisipan tidak dijumpai kerusakan perlekatan periodontal secara klinis.</p>
<p>Penelitian klinis terbaru ada orang dewasa menemukan bahwa menyikat gigi dua kali sehari menghasilkan 35% pengurangan perdarahan gusi dan menyikat gigi dan <em>flossing</em> di rumah menghasilkan 67%. Tidak ada perbedaan antara <em>waxed flossing</em> dengan <em>unwaxed flossing</em>. Penelitian ini tidak dapat digeneralisasi pada <em>flossing</em> yang tidak diawasi di rumah karena partisipan diawasi setiap hari. Tidak ada bukti yang mendukung superioritas teknik menyikat gigi. Dokter dan dokter gigi sebaiknya menasihati pasien mengenai efek merusak dari beberapa teknik menyikat gigi (seperti contoh, arah horizontal dapat menyebabkan abrasi atau bakteremia sistemik dan terlalu sering menyikat gigi dapat menyebabkan resesi gusi). Begitupula tidak ada bukti superioritas jangka panjang dari sikat gigi elektrik dibandingkan dengan sikat gigi manual.</p>
<p><img src="http://myhealing.files.wordpress.com/2009/08/flossing.jpg?w=425&#038;h=283" alt="flossing" title="flossing" width="425" height="283" class="aligncenter size-full wp-image-513" /></p>
<p><strong>Perawatan profesional </strong><br />
Bentuk paling umum dari perawatan pencegahan professional untuk gingivitis dan periodontitis adalah <em>scaling</em> dan  <em>polishing</em> gigi.  Dalam <em>scaling</em>  instrumen gigi yang didesain khusus untuk menghilangkan kalkulus dan bakteri di supragingiva maupun subgingiva. Prosedur mekanik lain adalah <em>root planning</em>. Kalkulus dihilangkan dari permukaan akar dengan scalers. <em>Root planning</em> dilakukan dengan atau tanpa pajanan bedah pada akar dengan membuka flap gusi.</p>
<p>Penelitian <strong>Axelsson et al.</strong> telah digunakan untuk mendukung ketidaksetujuan bahwa perawatan professional diperlukan untuk menjaga kesehatan periodontal. Namun, penelitian ini kurang valid dan frekuensi dan teknik <em>scaling</em> berbeda dari yang digunakan di Amerika Utara. Orang dewasa juga telah diperlihatkan manfaat dari melakukan pencegahan profesional dalam 3 tahun. Ini tidak berarti frekuensi konvensional profilaksis dental berbahaya atau tidak direkomendasikan, tetapi lebih kepada bukti ilmiah yang mendukung masih kurang.</p>
<p><img src="http://myhealing.files.wordpress.com/2009/08/toothscaling.jpg?w=300&#038;h=283" alt="toothscaling" title="toothscaling" width="300" height="283" class="aligncenter size-full wp-image-515" /></p>
<p>Untuk kesehatan periodontal, <em>scaling</em> setahun sekali telah diperlihatkan sama efektif dengan <em>scaling</em> yang lebih sering dalam menjaga kesehatan gusi. Belum ada penelitian terbaru yang telah dilakukan untuk menentukan frekuensi optimal dan efisiensi <em>scaling</em> untuk kesehatan periodontal dengan perawatan yang baik di rumah maupun mereka yang tidak menjaga kesehatan periodontal di rumah.  </p>
<p><strong>Agen antimikroba</strong><br />
Membersihkan mulut dengan klorheksidin (0,12% atau 0,2%), agen antimikroba, telah dinyatakan efektif dalam mengurangi plak supragingival dan gingivitis. Penggunaan tanpa supervisi selama 6 bulan lebih efektif daripada sanguinarin dan Listerine®  dalam mengurangi plak dan perdarahan gusi. Efek samping dihubungkan dengan klorheksidin meliputi pengurangan pembentukan kalkulus, bau mulut dan pewarnaan gigi.</p>
<p>Terdapat pula penelitian jangkap panjang (6-9 bulan) yang memperlihatkan efektivitas Listerine®  dalam pencegahan gingivitis dibandingkan plasebo. Efek samping Listerine®  adalah rasa yang buruk dan sensasi terbakar di mulut.</p>
<p>Pengunaan antibiotik (tetrasiklin) dalam pencegahan gingivitis dan periodontitis pada populasi besar belum dicobakan mengingat efek samping yang mungkin terjadi, kemungkinan resistensi bakteri dan hipersensitivitas pasien. </p>
<p><strong>Pasta gigi antikalkulus</strong><br />
Pasta gigi ‘antitartar’ mengandung pirofosfat larut yang mencegah kalsifikasi plak. Persentase reduksi di supragingival (tetapi tidak subgingival) antara 32% dan 45%. Kasus cheilitis dan eritema mukosa telah dilaporkan dan nilai jangka panjang dari produk ini dalam mencegah gingivitis dan periodontitis belum jelas.</p>
<p><strong>Sumber:</strong><br />
1.	Li X,  Kolltveit K, Tronstad L, Olsen I. Systemic diseases caused by oral infection. Clinical Biological Reviews, 2000;13(4):547-558.<br />
2.	Ismail AI, Lewis DW, Dingle JL. Prevention of periodontal disease. Can Med Assoc J 1993; 149: 1409-1422 </p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/myhealing.wordpress.com/510/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/myhealing.wordpress.com/510/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/myhealing.wordpress.com/510/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/myhealing.wordpress.com/510/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/myhealing.wordpress.com/510/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/myhealing.wordpress.com/510/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/myhealing.wordpress.com/510/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/myhealing.wordpress.com/510/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/myhealing.wordpress.com/510/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/myhealing.wordpress.com/510/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=myhealing.wordpress.com&blog=2051869&post=510&subd=myhealing&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://myhealing.wordpress.com/2009/08/01/mencegah-infeksi-fokal-pada-gigi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/630c91ad8ad25980639361466258bb34?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">prima almazini</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://myhealing.files.wordpress.com/2009/08/infected-tooth.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">infected tooth</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://myhealing.files.wordpress.com/2009/08/flossing.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">flossing</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://myhealing.files.wordpress.com/2009/08/toothscaling.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">toothscaling</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Patogenesis Neuropati pada Diabetes Mellitus</title>
		<link>http://myhealing.wordpress.com/2009/07/01/patogenesis-neuropati-pada-diabetes-mellitus/</link>
		<comments>http://myhealing.wordpress.com/2009/07/01/patogenesis-neuropati-pada-diabetes-mellitus/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Jul 2009 11:19:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>prima almazini</dc:creator>
				<category><![CDATA[Neurologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://myhealing.wordpress.com/?p=472</guid>
		<description><![CDATA[Pasien diabetes sering mengalami kerusakan saraf di seluruh tubuhnya. Gangguan saraf dapat terjadi pada berbagai sistem organ, seperti saluran cerna, jantung dan organ reproduksi. Bagaimanakah para ilmuwan menerangkan proses terjadinya neuropati pada pasien diabetes mellitus?
Selama lebih dari 20 tahun, ada tiga teori utama untuk menjelaskan neuropati diabetik, yaitu teori polyol pathway, teori mikrovaskuler, dan teori [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=myhealing.wordpress.com&blog=2051869&post=472&subd=myhealing&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><div id="pd_rating_holder_792990"></div>
<script language="javascript">
	PDRTJS_settings_792990 = {
		"id" : "792990",
		"unique_id" : "wp-post-472",
		"title" : "Patogenesis+Neuropati+pada+Diabetes+Mellitus",
		"permalink" : "http%3A%2F%2Fmyhealing.wordpress.com%2F2009%2F07%2F01%2Fpatogenesis-neuropati-pada-diabetes-mellitus%2F"
	};
</script>
<p><em>Pasien diabetes sering mengalami kerusakan saraf di seluruh tubuhnya. Gangguan saraf dapat terjadi pada berbagai sistem organ, seperti saluran cerna, jantung dan organ reproduksi. Bagaimanakah para ilmuwan menerangkan proses terjadinya neuropati pada pasien diabetes mellitus?</em></p>
<p><img src="http://myhealing.files.wordpress.com/2009/07/diabetic-neuropathy1.jpg?w=272&#038;h=275" alt="diabetic-neuropathy" title="diabetic-neuropathy" width="272" height="275" class="alignleft size-full wp-image-525" />Selama lebih dari 20 tahun, ada tiga teori utama untuk menjelaskan neuropati diabetik, yaitu teori <em>polyol pathway</em>, teori mikrovaskuler, dan teori produk akhir glikosilasi. Namun ternyata tidak hanya teori itu saja. Terlalu sederhana untuk menjelaskan berbagai gambaran klinis dan penemuan patologis dari neuropati diabetik dengan hanya satu, dua, atau tiga teori.</p>
<p><strong>Teori <em>Polyol Pathway</em></strong><br />
Ambilan glukosa di saraf perifer tidak hanya bergantung pada insulin. Oleh karena itu, kadar gula darah yang tinggi pada pasien diabetes menyebabkan konsentrasi glukosa yang tinggi di saraf. Hal itu kemudian menyebabkan konversi glukosa menjadi sorbitol melalui jalur polyol melalui reaksi beruntun dikatalisasi oleh <em>aldose reductase</em>. Kadar <em>fruktose</em> saraf juga meningkat. <em>Fruktose</em> dan sorbitol saraf yang berlebihan menurunkan ekspresi dari kotransporter sodium/<em>myoinositol</em> sehingga menurunkan kadar <em>myoinositol</em>. Hal ini menyebabkan penurunan kadar <em>phosphoinositide</em>, bersama-sama dengan aktivasi pompa Na dan penurunan aktivitas Na/K ATPase. Aktivasi <em>aldose reductase</em> mendeplesi kofaktornya, NADPH, yang menghasilkan penurunan kadar <em>nitric oxide</em> dan <em>glutathione</em>, yang berperan dalam melawan perusakan oksidatif. Kurangnya <em>nitric oxide</em> juga menghambat relaksasi vaskuler yang dapat menyebabkan iskemia kronik.</p>
<p><span id="more-472"></span><strong>Perubahan Iskemik Mikrovaskuler </strong><br />
Perubahan patologis pada saraf diabetik meliputi penebalan membran basal kapiler, hiperplasia sel endotelial, dan infark dan iskemia neuronal.</p>
<p><strong>Produk Akhir Glikosilasi Tahap Lanjut</strong><br />
Hiperglikemia intraseluler kronik menyebabkan pembentukkan agen pengglikasi yang dikenal dengan produk akhir glikosilasi tahap lanjut. Hasil akhir glikosilasi tahap lanjut dapat bersama-sama dengan transpor aksonal, menyebabkan perlambatan kecepatan konduksi saraf. Hal itu juga dapat turut mendeplesi NADPH dengan mengaktivasi oksidase NADPH, berkontribusi pada pembentukan peroksida hidrogen dan stres oksidatif lebih jauh.</p>
<p><strong>Peradangan Mikrovaskulopati</strong><br />
Ditemukan banyak tambahan bukti ilmiah bahwa neuropati asimetris, amiotropi diabetik dan bentuk mononeuritis multipleks dari neuropati diabetik disebabkan oleh peradangan vaskulopati atau vaskulitis. Saraf diabetik tampak mengalami peningkatan kerentanan baik terhadap faktor seluler dan faktor imun humoral, termasuk aktivasi limfosit, deposisi immunoglobulin, dan aktivasi komplemen. </p>
<p><strong>Defisiensi Insulin dan Faktor Pertumbuhan</strong><br />
Fungsi faktor neurotropik untuk menjaga struktur dan fungsi saraf  sama pentingnya dengan fungsinya untuk memperbaiki saraf setelah terjadi trauma. Kadar yang rendah dari faktor pertumbuhan dan faktor pertumbuhan 1 menyerupai insulin telah dibuktikan berkorelasi dengan keparahan neuropati diabetik pada model hewan. Insulin sendiri memiliki efek neurotropik dan defisiensinya berkontribusi pada pembentukkan neuropati.</p>
<p><strong>Fungsi Kanal Ion Membran Neuronal</strong><br />
Aktivitas kanal ion memainkan peran penting pada perlukaan seluler dan kematian pada berbagai macam kelainan. Peningkatan aktivitas kanal kalsium yang bergantung tegangan telah dibuktikan pada gastroparesis diabetik, yang menyebabkan perlukaan jaringan. Disfungsi kanal sodium memegang peranan penting pada terjadinya neuropati yang nyeri, yang sering terjadi pada diabetes.</p>
<p><strong>Asam Lemak Esensial</strong><br />
Penelitian menunjukkan bahwa jalur asam lemak esensial dari asam linolenat menjadi prostaglandin dan tromboksan telah dirusak pada pasien diabetes, yang menyebabkan berbagai disfungsi seluler pada multipel area seperti abnormalitas cairan membran, perubahan pada membran sel darah merah, dan penurunan prostaglandin E2, sebuah vasodilator poten. </p>
<p><strong>Sumber:</strong><br />
1.	Neurol S. Pathogenesis neuropathy diabetic. Medscape. 2005;25(2):168-173. Available from:http://www.medscape.com/viewarticle/510707_2<!--more--></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/myhealing.wordpress.com/472/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/myhealing.wordpress.com/472/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/myhealing.wordpress.com/472/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/myhealing.wordpress.com/472/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/myhealing.wordpress.com/472/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/myhealing.wordpress.com/472/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/myhealing.wordpress.com/472/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/myhealing.wordpress.com/472/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/myhealing.wordpress.com/472/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/myhealing.wordpress.com/472/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=myhealing.wordpress.com&blog=2051869&post=472&subd=myhealing&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://myhealing.wordpress.com/2009/07/01/patogenesis-neuropati-pada-diabetes-mellitus/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/630c91ad8ad25980639361466258bb34?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">prima almazini</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://myhealing.files.wordpress.com/2009/07/diabetic-neuropathy1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">diabetic-neuropathy</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pengaruh Sabun terhadap Kesehatan Kulit</title>
		<link>http://myhealing.wordpress.com/2009/06/13/pengaruh-sabun-terhadap-ph-kulit/</link>
		<comments>http://myhealing.wordpress.com/2009/06/13/pengaruh-sabun-terhadap-ph-kulit/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 13 Jun 2009 10:50:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>prima almazini</dc:creator>
				<category><![CDATA[Skin Health]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://myhealing.wordpress.com/?p=453</guid>
		<description><![CDATA[Sabun adalah bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan kita sehari-hari. Kesehatan kulit sangat bergantung pada pilihan produk sabun yang kita pilih. Semakin basa suatu sabun semakin buruk efeknya pada kulit. Jadi, perhatikan dahulu profil produknya sebelum menjatuhkan pilihan sabun untuk kulit Anda.

Kulit adalah pertahanan pertama melawan seluruh elemen dari luar tubuh, seperti mikroorganisme, angin dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=myhealing.wordpress.com&blog=2051869&post=453&subd=myhealing&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><div id="pd_rating_holder_792992"></div>
<script language="javascript">
	PDRTJS_settings_792992 = {
		"id" : "792992",
		"unique_id" : "wp-post-453",
		"title" : "Pengaruh+Sabun+terhadap+Kesehatan+Kulit",
		"permalink" : "http%3A%2F%2Fmyhealing.wordpress.com%2F2009%2F06%2F13%2Fpengaruh-sabun-terhadap-ph-kulit%2F"
	};
</script>
<p><em>Sabun adalah bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan kita sehari-hari. Kesehatan kulit sangat bergantung pada pilihan produk sabun yang kita pilih. Semakin basa suatu sabun semakin buruk efeknya pada kulit. Jadi, perhatikan dahulu profil produknya sebelum menjatuhkan pilihan sabun untuk kulit Anda.</p>
<p></em><img src="http://myhealing.files.wordpress.com/2009/06/soap.jpg?w=450&#038;h=270" alt="soap" title="soap" width="450" height="270" class="aligncenter size-full wp-image-454" /></p>
<p>Kulit adalah pertahanan pertama melawan seluruh elemen dari luar tubuh, seperti mikroorganisme, angin dan polutan. Di permukaan kulit terdapat struktur mantel asam. Mantel asam adalah lapisan film yang bersifat asam di permukaan kulit yang berfungsi melindungi kulit. Lapisan ini memegang peranan penting sebagai bagian integral dari fungsi perlindungan <em>stratum korneum</em>. </p>
<p>Membersihkan kulit dengan sabun atau detergen dapat menyebabkan hilangnya mantel asam. Pencucian berulang-ulang mengubah <em>stratum korneum</em> dan fungsi perlindungan, termasuk pH kulit. Jika mantel asam menjadi rusak, atau hilang keasamannya, kulit menjadi lebih rentan rusak dan infeksi. </p>
<p><span id="more-453"></span><strong>Keasaman Kulit dan Kulit Wajah Normal</strong><br />
Keasaman permukaan kulit normal adalah antara 4-6,5 pada orang sehat, meskipun bervariasi antara kulit satu dengan kulit yang lain. Pada sebuah penelitian di India dilakukan pengukuran pH permukaan kulit 55 orang berkulit coklat (Indian) yang terdiri dari 30 laki-laki dan 25 perempuan pada rentang usia 12-58 tahun di <em>forehead</em> dan di belakang pergelangan tangan. Rata-rata nilai pH kulit <em>forehead</em> dan belakang pergelangan tangan adalah 5,51 +- 0,032 dan 5,56 +- 0,040 untuk laki-laki. Nilai perempuan adalah 5,73 +- 0,032 dan 5,84 +- 0,28.1. Penelitian itu juga menemukan bahwa pH kulit tidak bergantung pada umur. Kulit laki-laki secara signifikan sedikit lebih asam daripada perempuan dan nilai rata-rata pH kulit di <em>forehead</em> dan belakang pergelangan tangan tidak berbeda signifikan pada laki-laki, sedangkan pada perempuan perbedaan cukup signifikan yaitu 5%.</p>
<p><img src="http://myhealing.files.wordpress.com/2009/06/gmail-soap.jpg?w=360&#038;h=240" alt="gmail-soap" title="gmail-soap" width="360" height="240" class="aligncenter size-full wp-image-458" /></p>
<p><strong>Faktor yang Mempengaruhi pH Permukaan Kulit</strong><br />
Terdapat beberapa penyakit kulit dan sistemik yang meningkatkan pH permukaan kulit. Penyakit kulit yaitu eczema, atopik dermatitis, xerosis, dan lamellar ichthyosis. Penyakit sistemik yaitu diabetes, penyakit <em>cerebrovaskuler</em>, dan gagal ginjal <em>end-stage</em>. Faktor eksogen yang mengganggu pH permukaan kulit yaitu pembersih: sabun, detergen; pelembab; iritan topikal; dan antimikrobial topikal (pengobatan jerawat).</p>
<p><strong>Pengaruh Keasaman Produk terhadap Kulit</strong><br />
Produk yang sering digunakan untuk menjaga pH adalah agen pembersih (cleanser). Terdapat tiga kategori utama untuk agen pembersih yaitu sabun, detergen sintetik, dan agen pembersih bebas lemak. Sabun membuat kulit lebih basa daripada detergen sintetik. Pembersih cenderung untuk memberikan dampak pada kulit melalui beberapa jalan yaitu gangguan flora bakterial dan pH, kelembaban, dan iritasi.</p>
<p>Di kulit terdapat struktur mantel asam yang melindungi kulit dari infeksi bakteri dan jamur. Mantel asam mengandung asam laktat dan berbagai asam amino dari keringat, asam lemak bebas dari sebum, dan asam amino dan asam karboksilik <em>pyrolidine</em> dari proses kornifikasi kulit.</p>
<p>Sabun yang dipasarkan di masyarakat mempunyai nilai pH 7 hingga 9.2 Sabun dapat meningkatkan pH permukaan kulit. Semakin netral dan alkalin sabun akan membuat kulit relatif lebih alkalin, yang mengundang pertumbuhan <em>Propionibacterium</em>. Jumlah <em>Propionibacteria </em>secara signifikan dihubungkan dengan pH kulit 14. Oleh karena itu lebih baik untuk menggunakan sabun dengan pH yang lebih rendah, khususnya untuk orang rentan terhadap jerawat. Menjaga pH kulit sangat penting untuk mengontrol jumlah bakteri di permukaan kulit pada pasien dengan jerawat. </p>
<p>Telah disebutkan sebelumnya bahwa pH bahan pembersih termasuk sabun memberikan efek pada kelembaban kulit. <strong>Gehring et al.</strong> melaporkan bahwa emulsi berbagai komponen dengan nilai pH 7,5 memiliki efek mengeringkan pada kulit daripada emulsi yang sama dengan pH 4,5. Jadi sabun yang memiliki pH tinggi selain meningkatkan pertumbuhan bakteri <em>Propionibacterium</em> juga semakin membuat kering kulit.</p>
<p>Potensial iritan dari agen pembersih bergantung pada sejumlah faktor salah satunya pH. Pembersih asam kurang mengiritasi daripada pembersih yang bersifat netral dan alkalin, dan orang yang rentan terhadap kulit kering direkomendasikan untuk menggunakan pembersih bersifat asam. </p>
<p><strong>Sumber:</strong><br />
1. Gupta AG, Tripati TP, Haldar B. Surface pH of normal skin. 1987 [disitasi 4 Juni 2009] 53:1 p.19-21. Diunduh dari: http://www.ijdvl.com/article.asp?issn=0378-6323;year=1987;volume=53;issue=1;spage=19;epage=21;aulast=Gupta;type=0<br />
2. Tyebkhan G. A study on the pH of commonly used soaps/cleansers available in the Indian market. Indian J Dermatol Venereol Leprol [serial online] 2001 [cited 2009 Jun 5];67:290-1. Available from: http://www.ijdvl.com/text.asp?2001/67/6/290/11235<br />
3. Gehring W, Gehse M, Zimmerman V, et al. Effect of pH changes in specific detergent multicomponent emulsion on the water content of the stratum corneum. J Soc Cosmet Chem 1991; 42:327-333.</p>
<p><!--more--> </p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/myhealing.wordpress.com/453/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/myhealing.wordpress.com/453/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/myhealing.wordpress.com/453/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/myhealing.wordpress.com/453/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/myhealing.wordpress.com/453/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/myhealing.wordpress.com/453/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/myhealing.wordpress.com/453/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/myhealing.wordpress.com/453/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/myhealing.wordpress.com/453/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/myhealing.wordpress.com/453/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=myhealing.wordpress.com&blog=2051869&post=453&subd=myhealing&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://myhealing.wordpress.com/2009/06/13/pengaruh-sabun-terhadap-ph-kulit/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/630c91ad8ad25980639361466258bb34?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">prima almazini</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://myhealing.files.wordpress.com/2009/06/soap.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">soap</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://myhealing.files.wordpress.com/2009/06/gmail-soap.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">gmail-soap</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Diagnosis dan Penatalaksanaan Gastroparesis pada Diabetes Mellitus</title>
		<link>http://myhealing.wordpress.com/2009/06/01/diagnosis-dan-penatalaksanaan-gastroparesis-diabetik/</link>
		<comments>http://myhealing.wordpress.com/2009/06/01/diagnosis-dan-penatalaksanaan-gastroparesis-diabetik/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Jun 2009 06:12:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>prima almazini</dc:creator>
				<category><![CDATA[Gastroenterologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://myhealing.wordpress.com/?p=420</guid>
		<description><![CDATA[
Gastroparesis diabetik adalah kondisi klinik yang mengenai pasien-pasien diabetes mellitus. Kondisi ini ditandai oleh perlambatan pengosongan lambung dan dihubungkan dengan gejala gastrointestinal bagian atas tanpa adanya obstruksi mekanik. Perlambatan pengosongan lambung pada pasien-pasien diabetes diakibatkan oleh hiperglikemia yang tidak terkontrol, gizi buruk, dan dehidrasi, yang akan menyebabkan kualitas hidup yang buruk, perawatan lama di rumah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=myhealing.wordpress.com&blog=2051869&post=420&subd=myhealing&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img src="http://myhealing.files.wordpress.com/2009/06/gastricdistress.jpg?w=450&#038;h=280" alt="gastricdistress" title="gastricdistress" width="450" height="280" class="aligncenter size-medium wp-image-616" /></p>
<p>Gastroparesis diabetik adalah kondisi klinik yang mengenai pasien-pasien diabetes mellitus. Kondisi ini ditandai oleh perlambatan pengosongan lambung dan dihubungkan dengan gejala gastrointestinal bagian atas tanpa adanya obstruksi mekanik. Perlambatan pengosongan lambung pada pasien-pasien diabetes diakibatkan oleh hiperglikemia yang tidak terkontrol, gizi buruk, dan dehidrasi, yang akan menyebabkan kualitas hidup yang buruk, perawatan lama di rumah sakit, dan menurunnya tingkat produktivitas. Namun, mendiagnosis gastroparesis diabetik tidak semudah yang dibayangkan, gejalanya tidak spesifik dan banyaknya diagnosis banding. Begitu pula, penatalaksanaannya juga tak mudah, diagnosis umumnya terlambat, pelayan kesehatan tidak mengenali gastroparesis diabetik sebelum timbul komplikasi serta masih adanya bias terapi. Penelitian terkontrol acak mengenai terapi gastroparesis diabetik pun masih sangat sedikit. Sehingga, keterampilan menegakkan diagnosis serta menatalaksana pasien gastroparesis diabetik penting diketahui dan dikuasai oleh dokter umum.</p>
<p><span id="more-420"></span>Mengenai definisi gastroparesis diabetik belum ada konsensus yang jelas. <strong>Bell et al.</strong> menjelaskan gastroparesis diabetik sebagai neuropati yang terjadi di saluran cerna pada pasien diabetes. <strong>Talley</strong> menggunakan istilah diabetik gastropati merujuk pada sindrom klinik dari gejala saluran cerna atas yang memperlihatkan gangguan motilitas pada pasien diabetes dengan atau tanpa keterlambatan pengosongan lambung. Namun, seluruhnya setuju bahwa keterlambatan pengosongan lambung pada gastroparesis diabetik terjadi tanpa adanya obstruksi mekanik. Pedoman dari <em>American Gastroenterological Association</em> (AGA) tentang diagnosis dan terapi gastroparesis menyatakan bahwa diagnosis gastroparesis sebaiknya didasarkan pada adanya gejala dan tanda yang sesuai, perlambatan pengosongan lambung, dan tidak adanya lesi obstruksi struktural di lambung atau usus halus.</p>
<p><strong>Diagnosis</strong><br />
Gastroparesis diabetik didiagnosis melalui adanya gejala saluran cerna atas yang mendukung perlambatan pengosongan lambung pada pasien diabetes, tanpa adanya obstruksi mekanik yang dapat menyebabkan gejala saluran cerna atas, dan terdapat tanda-tanda perlambatan pengosongan lambung. Obstruksi usus halus dan lambung disebabkan oleh massa intraabdomen harus diekslusi menggunakan radiografi abdomen, <em>computed tomography</em>, dan <em>magnetic resonance imaging</em>. Endoskopi dibutuhkan untuk menyingkirkan adanya striktur, massa, atau ulkus. Pemeriksaan yang dibutuhkan untuk menyingkirkan infeksi, metabolik, dan penyebab imunologis menyebabkan gejala saluran cerna atas yaitu pemeriksaan darah lengkap, pemantauan metabolik komprehensif meliputi elektrolit dan tes fungsi hati, urinalisis, tingkat sedimentasi eritrosit, dan pemeriksaan biokimia dan imunologis untuk <em>thyroid stimulating hormone</em>. Setelah menyingkirkan etiologi lain yang mungkin dan obstruksi dengan endoskopi dan pencitraan abdomen, gastroparesis diabetik didiagnosis dengan menunjukkan adanya perlambatan pengosongan lambung.</p>
<p><img src="http://myhealing.files.wordpress.com/2009/06/gastro-scintigraphy.jpg?w=405&#038;h=321" alt="Gastro Scintigraphy" title="Gastro Scintigraphy" width="405" height="321" class="aligncenter size-full wp-image-439" /></p>
<p>Berbagai jenis penelitian pengosongan lambung meliputi <em>scintigraphy</em> dengan gambar yang diambil pada jam pertama, kedua dan keempat; tes napas, dan pemeriksaan ultrasonografi. Pengosongan lambung dari makanan fase padat oleh scintigraphy diperkirakan merupakan teknik terbaik yang diterima untuk mendiagnosis perlambatan pengosongan lambung karena <em>scintigraphy</em> dapat mengukur jumlah pengosongan makanan berkalori fisiologis yang dapat menilai fungsi motorik lambung. Teknik melibatkan pencampuran penanda radioisotop pada makanan standar dan mengikuti jejaknya di dalam lambung menggunakan kamera gamma. Untuk sebuah pemeriksaan yang dikatakan standar baku emas, perlu diperhatikan bahwa tidak terdapat standarisasi teknik <em>scintigraphy</em>, dibuktikan dengan adanya perbedaan zat yang digunakan antara pusat yang satu dengan pusat yang lain, dan bahwa korelasi antara gejala dengan gastroparesis diabetik  dan tingkat pengosongan lambung tidak jelas.</p>
<p>Pengukuran hidrogen pernapasan 12 jam setelah mengkonsumsi makanan mengandung <em>potatoes starch</em> dan laktulosa berkaitan dengan waktu transit disaluran cerna atas dan telah dinyatakan sebagai alat skrining untuk gastroparesis sebelum menggunakan pemeriksaan yang lebih mahal dan definitif. Tes pernapasan yaitu mengkonsumsi makanan standar yang mengandung octanoat yang dilabeli radioisotop karbon, suatu <em>trogliseride</em> medium. <em>13C-octanoat</em> diserap secara cepat di usus halus dan dimetabolisme menjadi <em>13CO2</em> yang dikeluarkan oleh paru-paru saat respirasi. Tingkat <em>13CO2</em> terdeteksi di pernapasan sejalan dengan tingkat pengosongan lambung, dan hasilnya berkaitan erat dengan hasil <em>scintigraphy</em>. Namun, tes ini mengasumsikan tidak ada kelainan pada usus besar, pankreas, hati, dan fungsi paru. Penelitian menggunakan tes pernapasan pada pasien diabetes terbatas dan validasi tambahan pada pasien dengan gastroparesis dibutuhkan sebelum penggunaan secara luas dapat disosialisasikan.</p>
<p>Pengukuran ultrasonografi dari perubahan pada regio antral lambung setelah konsumsi makanan cair sangat berhubungan dengan tingkat pengosongan lambung. Pencitraan ultrasound dari pengosongan makanan cair di lambung hanya untuk penelitian dan tidak digunakan di klinik.</p>
<p><strong>Penatalaksanaan</strong><br />
Tujuan pengobatan pasien gastroparesis diabetik adalah untuk menjaga kadar glukosa darah terkontrol, mengontrol gejala saluran cerna atas, menjamin hidrasi dan nutrisi yang cukup, meningkatkan pengosongan lambung, dan mencegah komplikasi seperti dehidrasi, malnutrisi, dan perawatan di rumah sakit. Penatalaksanaan medis dengan obat-obatan prokinetik, agen antiemetik, dan analgesik dibutuhkan untuk mengontrol gejala gastroparesis diabetik. Narkotika sebaiknya dihindari pada pasien gastroparesis diabetik, sejak diketahui agen ini (seperti morfin) dapat memperlambat pengosongan lambung. Pendekatan nonfarmakologi untuk tatalaksana gastroparesis diabetik refrakter meliputi injeksi toksin botulinum dan stimulasi elektrik lambung. Beberapa gejala dan komplikasi dari gastroparesis diabetik berat dan refrakter dapat diatasi dengan bedah melalui <em>pyloroplasty</em> dan <em>antrectomy</em>.</p>
<p><strong>Agen prokinetik</strong><br />
Agen prokinetik sebagian besar digunakan untuk mengobati gastroparesis meliputi metoklopramid dan eritromicin. <em>Randomized controlled trials</em> memperlihatkan manfaat simptomatik dari agen ini sama baiknya dengan cisapride dan domperidon. Secara umum, dibandingkan plasebo, agen-agen tersebut dapat meningkatkan pengosongan lambung sekitar 25-72% dan mengurangi keparahan gejala(diukur dengan menggunakan <em>Likert scales</em>) sekitar 25-68%. Sebuah penelitian menyatakan bahwa metoklopramid dan domperidon lebih superior dari cisapride. Pada penelitian lain, metoklopramid dan domperidon sama efektif untuk mengulangi gejala, tetapi efek samping pada sistem saraf pusat (somnolen, gangguan fungsi, cemas dan depresi) dilaporkan pada pasien yang menerima metoklopramid. Cisapride dihubungkan dengan peningkatan risiko aritmia kardiak, termasuk  torsades de pointes. Eritromicin intravena (3 mg per kilogram dari berat badan) per 8 jam dengan infus lebih efektif dari plasebo dalam meredakan gastroparesis akut pada pasien di rumah sakit. Bagaimanapun belum ada percobaan yang membandingkan eritromicin dan agen lain.</p>
<p>Agen muskarinik kolinergik (betanechol), antikolinesterase, (pyridostigmine) dan 5-HT4 agonis tegaserod diperkirakan mempercepat pengosongan lambung. Tetapi data penelitian yang menilai efeknya pada gejala gastroparesis masih sangat sedikit. </p>
<p><strong>Agen antiemetik</strong><br />
Agen antiemetik menolong untuk meringankan gejala. Meskipun beberapa penelitian telah membandingkan berbagai efek agen antiemetik pada pasien dengan gastroparesis, lebih baik untuk mencoba terapi yang lebih murah (dymenhidrinate atau meclizine) sebagai pilihan pertama, jika tidak efektif, 5-HT3 antagonis mungkin bisa dicoba meskipun kelas ini belum secara eksplisit dipelajari untuk digunakan dalam pengobatan gastroparesis.</p>
<p><strong>Agen lain</strong><br />
Analgesik kadang-kadang dibutuhkan. Tidak ada data dari percobaan terkontrol  yang memandu pilihan agen yang dapat digunakan pada pasien gastroparesis. Agen yang digunakan pada praktik klinik meliputi antidepresan (trisiklik dosis rendah atau duloxetine) dan pregabalin (direkomendasikan pada pasien dengan diabetik neuropati). Agen nonsteroid dilarang karena potensial merusak ginjal pada pasien dengan diabetes. Tramadol dan opiates sebaiknya dihindari karena efek penghambatannya serta risiko ketagihan.</p>
<p><img src="http://myhealing.files.wordpress.com/2009/06/botulinum_toxin.jpg?w=275&#038;h=219" alt="Botulinum_Toxin" title="Botulinum_Toxin" width="275" height="219" class="aligncenter size-full wp-image-434" /></p>
<p><strong>Injeksi endoskopi dari toksin botulinum </strong><br />
Hasil dari beberapa percobaan tanpa kontrol memperlihatkan bahwa injeksi endoskopi dari botulinum toksin ke pilorus memiliki manfaat. Namun, percobaan dengan kontrol memperlihatkan tidak ada manfaat terapi ini pada gastroparesis.</p>
<p><strong>Stimulasi elektrik gaster</strong><br />
Stimulasi elektrik gaster menggunakan alat elektrode yang ditempatkan dengan laparoskopi di dinding otot antrum lambung. Elektrode tersebut berhubungan dengan stimulator saraf di kantung dinding abdomen. Data memperlihatkan bahwa pendekatan ini akan mengontrol gejala gastroparesis. Alat stimulasi ini (seperti <em>enterra, medtronik</em>) telah disahkan oleh FDA. Pada percobaan terkontrol melibatkan 33 pasien dengan idiopatik atau diabetik gastroparesis, stimulasi elektrik tidak memiliki efek signifikan pada gejala keseluruhan tetapi mengurangi frekuensi muntah mingguan. Dari 17 pasien dengan diabetes pada penelitian tersebut, frekuensi median dari episode muntah per minggu adalah 6 kali dengan stimulator dan 12,8 kali tanpa stimulator. Penelitian jangka panjang dari stimulasi gastrik, dengan periode tindak lanjut rata-rata 3,7 &#8211; 4,3 tahun telah dilaporkan mengurangi gejala dan mengurangi kebutuhan dukungan nutrisi. Tetapi tidak ada percobaan acak jangka panjang yang menghubungkannya. Mekanisme bagaimana stimulasi elektrik meningkatkan pengosongan lambung tidak jelas.</p>
<p><strong>Bedah</strong><br />
Bedah jarang diindikasikan untuk terapi gastroparesis, kecuali untuk menghilangkan kelainan lain atau untuk dekompresi atau pemasangan tabung makanan. Kajian sistematik menyimpulkan bahwa data yang ada tidak cukup untuk mendukung bedah sebagai terapi untuk gastroparesis diabetik. Menghilangkan saraf yang berhubungan yang ada di usus kecil akan menghasilkan gejala persisten pada pasien dengan diabetes bahkan setelah gastrektomi.<strong>[prz]</strong></p>
<p><strong>Sumber:</strong><br />
1.Bell RA, Jones-Vessey K, Summerson JH. Hospitalizations and outcomes for diabetic gastroparesis in North Carolina. South Med J 2002;95:1297–9<br />
2.Talley NJ. Diabetic gastropathy and prokinetics. Am J Gastroenterol 2003; 98:264–71. 32<br />
3.Ajumobi AB, Griffin RA. Diabetic gastroparesis: evaluation and management. Hospital physician 2008; p.27-35. Available from: http://www.turner-white.com/memberfile.php?PubCode=hp_mar08_gastro.pdf<br />
4.Camilleri M. Diabetic gastroparesis. N Engl J Med 2007;356:820-9. Available from: http://nejm.highwire.org/cgi/content/extract/356/8/820<br />
<!--more--></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/myhealing.wordpress.com/420/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/myhealing.wordpress.com/420/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/myhealing.wordpress.com/420/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/myhealing.wordpress.com/420/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/myhealing.wordpress.com/420/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/myhealing.wordpress.com/420/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/myhealing.wordpress.com/420/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/myhealing.wordpress.com/420/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/myhealing.wordpress.com/420/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/myhealing.wordpress.com/420/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=myhealing.wordpress.com&blog=2051869&post=420&subd=myhealing&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://myhealing.wordpress.com/2009/06/01/diagnosis-dan-penatalaksanaan-gastroparesis-diabetik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/630c91ad8ad25980639361466258bb34?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">prima almazini</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://myhealing.files.wordpress.com/2009/06/gastricdistress.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">gastricdistress</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://myhealing.files.wordpress.com/2009/06/gastro-scintigraphy.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Gastro Scintigraphy</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://myhealing.files.wordpress.com/2009/06/botulinum_toxin.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Botulinum_Toxin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Penelitian Prevalensi Gangguan Menstruasi pada Siswi SMU di Jakarta</title>
		<link>http://myhealing.wordpress.com/2009/05/02/prevalensi-gangguan-menstruasi-pada-siswi-smu-di-jakarta/</link>
		<comments>http://myhealing.wordpress.com/2009/05/02/prevalensi-gangguan-menstruasi-pada-siswi-smu-di-jakarta/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 02 May 2009 13:47:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>prima almazini</dc:creator>
				<category><![CDATA[Review Jurnal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://myhealing.wordpress.com/?p=387</guid>
		<description><![CDATA[Gangguan menstruasi adalah masalah yang banyak dialami oleh kaum perempuan. Di Indonesia, penelitian mengenai hal ini masih belum banyak dilakukan.

Abstract
Prevalence of Menstrual Disorder and Associated Factors of at High School “X” in Pulo Gadung Subdistrict of East Jakarta, Januari 2009
Olaf Sianipar, Nur Chandra Bunawan, Prima Almazini, Neysa Calista, Priyandini Wulandari, Natasha Rovenska, Raissa E. Djuanda, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=myhealing.wordpress.com&blog=2051869&post=387&subd=myhealing&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><div id="pd_rating_holder_793022"></div>
<script language="javascript">
	PDRTJS_settings_793022 = {
		"id" : "793022",
		"unique_id" : "wp-post-387",
		"title" : "+Penelitian+Prevalensi+Gangguan+Menstruasi+pada+Siswi+SMU+di+Jakarta",
		"permalink" : "http%3A%2F%2Fmyhealing.wordpress.com%2F2009%2F05%2F02%2Fprevalensi-gangguan-menstruasi-pada-siswi-smu-di-jakarta%2F"
	};
</script>
<p><em>Gangguan menstruasi adalah masalah yang banyak dialami oleh kaum perempuan. Di Indonesia, penelitian mengenai hal ini masih belum banyak dilakukan.</em></p>
<blockquote><p><strong><br />
Abstract</strong></p>
<p><em>Prevalence of Menstrual Disorder and Associated Factors of at High School “X” in Pulo Gadung Subdistrict of East Jakarta, Januari 2009</em></p>
<p><strong>Olaf Sianipar, Nur Chandra Bunawan, Prima Almazini, Neysa Calista, Priyandini Wulandari, Natasha Rovenska, Raissa E. Djuanda, Irene,* Seno Adjie,** Eva Suarthana***</strong></p>
<p><em>*Community Medicine Integration Programme, Faculty of Medicine University of Indonesia<br />
**Department of Obstetric and gineacologic, Faculty of Medicine University of Indonesia<br />
***Department of Community Medicine, Faculty of Medicine University of Indonesia</p>
<p>Abstract: Menstrual disorder is common among women, with the highest prevalence found in late adolescence. If left untreated, menstrual disorder could affect the quality of life and daily activities. Currently, there are not many publication regarding this issue in Indonesia. The aim of this study was to determine the prevalence of menstrual disorder of high school students and factors associated with it. A cross sectional study was carried out on 57 adolescent females at High School “X” in Pulo Gadung Subdistrict of East Jakarta. Data were collected using guided questionnaire. The subjects were between 15-19 years old, mostly (43.9%) in 12th grade. Almost all (98.2%) of the subjects began menstruation at the age 11-14 years old. Most (66.7%) of the subjects had normal nutritional status. More than half (54.4%) of the subjects were physically active. The majority (63.2%) of the subjects experience menstrual disorder, with symptoms related to menstruation as the most common (91.7%), followed by disorder of menstrual period (25.0%), and disorder of menstrual cycle (5.0%). We found no subject with disorder of menstrual volume. Among symptoms related to menstruation, premenstrual syndrome was the most common (75.8%). There were significant associations between age, grade, and physical activity with menstrual disorder. There was no significant association between age of first menstruation and nutritional status with menstrual disorder.</p>
<p>Keywords: age of first menstruation, high school students, menstrual disorder, nutritional status, physical activity.</em></p></blockquote>
<p>Gangguan menstruasi merupakan masalah yang cukup sering ditemukan pada tingkat pelayanan kesehatan primer. Penelitian sebelumnya mengenai prevalensi <em>dismenorea</em> pada mahasiswi sebuah universitas di Jakarta tahun 2004 menemukan bahwa 83,5% mahasiswi mengalami <em>dismenorea</em>. Pada sebuah penelitian lain, didapatkan bahwa hanya 38% perempuan yang menganggap perdarahan yang banyak pada menstruasi sebagai masalah, padahal 76% dokter yang menerima kasus tersebut menganggapnya sebagai kasus yang perlu dirujuk. Hal tersebut menunjukkan masih rendahnya kesadaran perempuan terhadap masalah gangguan menstruasi.</p>
<p><img src="http://myhealing.files.wordpress.com/2009/05/bleeding-during-menstr.gif?w=260&#038;h=200" alt="bleeding-during-menstr" title="bleeding-during-menstr" width="260" height="200" class="alignleft size-full wp-image-403" /></p>
<p><img src="http://myhealing.files.wordpress.com/2009/05/2.jpg?w=260&#038;h=200" alt="2" title="2" width="260" height="200" class="aligncenter size-full wp-image-393" /></p>
<p><span id="more-387"></span>Tahun-tahun awal menstruasi merupakan periode yang rentan terhadap terjadinya gangguan. Tujuh puluh lima persen perempuan pada tahap remaja akhir mengalami gangguan yang terkait dengan menstruasi. Menstruasi yang tertunda, tidak teratur, nyeri, dan perdarahan yang banyak pada waktu menstruasi merupakan keluhan tersering yang menyebabkan remaja perempuan menemui dokter. <strong>Cakir M et al.</strong>dalam penelitiannya menemukan bahwa <em>dismenorea</em> merupakan gangguan menstruasi dengan prevalensi terbesar (89,5%), diikuti oleh ketidakteraturan menstruasi (31,2%), serta perpanjangan durasi menstruasi (5,3%). Pada pengkajian terhadap penelitian-penelitian lain didapatkan prevalensi <em>dismenorea</em> bervariasi antara 15,8-89,5%, dengan prevalensi tertinggi pada remaja. Mengenai gangguan lainnya, <strong>Bieniasz J et al. </strong>mendapatkan prevalensi <em>amenorea</em> primer sebanyak 5,3%, <em>amenorea</em> sekunder 18,4%, <em>oligomenorea</em> 50%, <em>polimenorea</em> 10,5%, dan gangguan campuran sebanyak 15,8%. Selain itu, didapati juga bahwa <em>dismenorea</em> merupakan alasan utama yang menyebabkan remaja perempuan absen dari sekolah. Sindrom pramenstruasi didapatkan pada 40% perempuan, dengan gejala berat pada 2-10% penderita.</p>
<p>Gangguan menstruasi memerlukan evaluasi yang seksama karena gangguan menstruasi yang tidak ditangani dapat mempengaruhi kualitas hidup dan aktivitas sehari-hari. Pada sebuah studi yang dilakukan terhadap mahasiswa didapatkan data bahwa sindrom pramenstruasi (67%) dan <em>dismenorea </em>(33%) merupakan keluhan yang dirasakan paling mengganggu. Efek gangguan menstruasi yang dilaporkan antara lain waktu istirahat yang memanjang (54%) dan menurunnya kemampuan belajar (50%).</p>
<p><strong>Metode penelitian</strong><br />
Penelitian ini menggunakan desain potong lintang dengan pengambilan sampel secara <em>stratified cluster sampling</em> dan dilaksanakan pada bulan januari 2009 di SMU “X” Kecamatan Pulo Gadung, Jakarta Timur. Populasi dan sampel yang diteliti adalah siswi SMU ”X” Kecamatan Pulo Gadung, Jakarta Timur. Kriteria inklusi adalah siswi SMU “X” Kecamatan Pulo Gadung, Jakarta Timur yang bersedia mengikuti penelitian dan telah mengalami menstruasi minimal selama 2 tahun. Kriteria eksklusi adalah siswi SMU “X” Kecamatan Pulo Gadung, Jakarta Timur yang sedang menderita penyakit berat yang dapat mempengaruhi siklus menstruasi (tuberkulosis, hipertiroidisme, hipotiroidisme, lupus eritematosus sistemik, dan gangguan koagulasi darah),  mengonsumsi obat-obatan hormonal (termasuk kontrasepsi) dan yang tidak hadir saat pengambilan sampel. Instrumen penelitian ini berupa <em>guided questionnaire</em>.</p>
<p><strong>Kesimpulan penelitian</strong><br />
Dari 57 responden penelitian, 25 (43,9%) responden berasal dari kelas XII. Sebagian besar  (98,2%) responden mengalami menstruasi pertama pada usia 11-14 tahun dan sisanya pada usia di bawah 11 tahun. Dua pertiga (66,7%) responden memiliki status gizi normal dan sebanyak 31 (54,4%) responden melakukan aktivitas fisik secara aktif. Pada penelitian ini didapatkan hubungan yang bermakna antara usia, kelas, dan aktivitas fisik dengan gangguan menstruasi pada siswi SMU ”X” Kecamatan Pulo Gadung Jakarta Timur. Tidak didapatkan hubungan bermakna antara usia menstruasi pertama dan status gizi dengan gangguan menstruasi pada siswi SMU ”X” Kecamatan Pulo Gadung Jakarta Timur. </p>
<p>Sebagian besar (63,2%) responden mengalami gangguan menstruasi. Gangguan yang terbanyak dialami adalah gangguan lain yang berhubungan dengan menstruasi yaitu sebesar 57,9%. Oleh karena itu, peneliti menyarankan agar dokter-dokter di puskesmas mengadakan penyuluhan tentang gangguan menstruasi kepada siswi SMU sehingga angka prevalensi gangguan menstruasi pada siswi SMU dapat diturunkan. <em>[Olaf Sianipar, Nur Chandra Bunawan, Prima Almazini, Neysa Calista, Priyandini Wulandari, Natasha Rovenska, Raissa E. Djuanda, Irene, Adjie Seno, Eva Suarthana]</em></p>
<p>(<strong>Catatan:</strong> Hasil lengkap penelitian ini dapat dilihat di Majalah Kedokteran Indonesia Ikatan Dokter Indonesia edisi Juli 2009)<br />
<!--more--></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/myhealing.wordpress.com/387/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/myhealing.wordpress.com/387/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/myhealing.wordpress.com/387/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/myhealing.wordpress.com/387/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/myhealing.wordpress.com/387/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/myhealing.wordpress.com/387/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/myhealing.wordpress.com/387/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/myhealing.wordpress.com/387/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/myhealing.wordpress.com/387/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/myhealing.wordpress.com/387/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=myhealing.wordpress.com&blog=2051869&post=387&subd=myhealing&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://myhealing.wordpress.com/2009/05/02/prevalensi-gangguan-menstruasi-pada-siswi-smu-di-jakarta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/630c91ad8ad25980639361466258bb34?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">prima almazini</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://myhealing.files.wordpress.com/2009/05/bleeding-during-menstr.gif" medium="image">
			<media:title type="html">bleeding-during-menstr</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://myhealing.files.wordpress.com/2009/05/2.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">2</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>