ARV, Dambaan Semua ODHA

Kematian menjadi ancaman serius bagi ODHA di sepanjang usia hidupnya. Prevalensi ODHA yang meningkat harus diimbangi upaya penyediaan ARV yang merata dan terus menerus untuk menyelamatkan kehidupan mereka.

AntiretroviralDi Indonesia, angka prevalensi HIV/AIDS pada subpopulasi beresiko tinggi telah melebihi 5%. Hingga Juni 2005, tercatat jumlah penderita AIDS sebanyak 3.358 orang. Tetapi penderita yang sebenarnya diperkirakan mencapai 103.971 orang. Ancaman epidemi telah terlihat melalui data infeksi yang terus meningkat di kalangan kelompok beresiko tinggi. Diperkirakan pada tahun 2010 akan ada sekitar 110.000 orang yang menderita atau meninggal karena AIDS, serta 1-5 juta orang yang mengidap virus HIV.


Salahsatu langkah penting untuk menanggulangi HIV/AIDS adalah meningkatkan Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) yang minum obat Anti Retroviral (ARV). Menurut Prof. Dr. Zubairi Djoerban, Sp.PD, KHOM, dengan pengunaan obat ARV, terbukti angka kematian turun drastis sehingga jarang sekali ODHA yang masuk rumah sakit. Sebaliknya tanpa pengobatan yang adekuat, akan semakin banyak ODHA meninggal karena AIDS. Karena itu, pada Kongres Internasional AIDS XVI di Kanada 13-16 Agustus 2006 lalu, AIDS tidak lagi dikategorikan penyakit yang selalu mematikan. Namun, menjadi penyakit kronik yang dapat diobati.

Berdasarkan data Joint United Nations Programme on HIV/AIDS (UNAIDS), pada tahun 2004 di Indonesia baru 5000 orang yang mendapatkan ARV, padahal jumlah infeksi diperkirakan sudah mencapai 200.000 orang. Apabila dibandingkan dengan Bostwana, hal itu masih jauh dari harapan. Di sana, 70% ODHA telah mendapatkan ARV gratis.

Peningkatan akses obat di Indonesia menjadi tanggung jawab bersama antara pemerintah, badan multilateral, industri farmasi, media, LSM, maupun funding agencies. Obat HIV AIDS merupakan life saving dan sangat dibutuhkan oleh ODHA. Menurut Prof. Dr. dr. Samsuridjal Djauzi, Sp.PD, sesuai dengan tujuan pembangunan milenium tahun 2015, agar AIDS di Indonesia dapat dikendalikan dan diturunkan angka penularannya maka semangat penanggulangan AIDS perlu dihidupkan terus.

Akses obat harus didukung informasi ilmiah alasan penggunaan, diketahui mutu dan jumlah obat yang diperlukan untuk importansi, diketahui pasien yang diobati, dan pelaksanaan pengobatan harus dibawah pengawasan ketat dokter. Paket pengadaan obat harus merupakan bagian terintegrasi dalam pelayanan minimal penderita HIV/AIDS. Risiko manajemen obat HIV/AIDS yang tidak baik dapat menyebabkan kegagalan terapi, meningkatkan risiko munculnya resistensi, menurunkan kepatuhan pasien, menurunkan profesi kesehatan dan meningkatkan suplai yang tidak teratur. Permasalahan pengobatan AIDS memang bukan sekadar penyediaan yang merata. Namun obat juga perlu tersedia terus menerus agar terapi dapat dilaksanakan berkelanjutan.

Artikel yang Berhubungan:
* Rapid Test Semakin Cepat Mendeteksi Antibodi HIV
* Enam Rapid Test HIV yang Telah Disetujui FDA
* ARV Bangunkan Raksasa yang Tertidur
* Stop HIV-AIDS by Circumcision
* 1001 Jurus Melawan HIV-AIDS

Simpan halaman ini dalam PDF?

Post artikel ini di tempat lain?Bookmark and Share

Seluruh artikel di myhealing.wordpress.com dapat Anda perbanyak dan digunakan untuk keperluan apapun, asal tetap mencantumkan sumber URL. Silakan berikan rating untuk artikel ini.

Copyright © 2007 – 2010 Stetoskop. All Rights Reserved.
Posted in HIV-AIDS. Tags: , , , . 3 Comments »

3 Responses to “ARV, Dambaan Semua ODHA”

  1. nofri Says:

    saya sangat ingin sekali mengetahui lebih dalam tentang HIV AIDS,dan cara penaggulangannya,beserta cara mendapatkan obat ARV tersebut?mohon di beritahu.

  2. prima almazini Says:

    @ nofri:

    Untuk menanggulangi HIV AIDS, pertama harus melihat gejala apa saja yang dirasakan, misalnya ada kelainan paru atau tidak. Kedua, CD4 dimonitor. CD4 adalah bagian dari sel darah putih dan dilihat jumlah selnya. CD4 yang hasilnya rendah (misal 5), dengan obat anti retroviral, dapat meningkat menjadi 20, 100 atau lebih dari 100, artinya kekebalan bisa ditingkatkan/dihilangkan dengan Viral Load. Viral Load adalah virus di dalam darah, yang sebagian bergabung dengan limfosit dan bebas. Yang bebas disebut dengan Viral Load 0. Kemudian virus yang ada di dalam limfosit akan berkembang.

    Test CD4 idealnya dilakukan paling cepat 3 bulan dan paling lambat 6 bulan. CD4 yang rendah pada awal pemeriksaan tidak menjadi masalah karena perlahan-lahan akan naik. Apabila kondisi CD4 naik turun, perlu dikontrol terus menerus. Obat antiretroviral sedapat mungkin diminum di jam yang sama karena akan sulit apabila virus menjadi resisten.

    Obat ARV dapat diperoleh secara gratis di beberapa rumah sakit di Jakarta yaitu RSUP Cipto Mangunkusumo, RSPAD Gatot Soebroto, RS Dharmais, RS Penyakit Infeksi Sulianti Saroso, RSAL Mintohardjo, RS Polri Kramatjati, RSU Persahabatan, RSU Fatmawati dan RSUD Duren Sawit. Info lengkap tentang dosis dan cara pemakaian ARV bisa dibaca di sini.

  3. Litha Says:

    Semoga angka pengidap HIV/AIDS di indonesia makin berkurang, sehingga tidak terjadi kekhawatiran akan kurangnya pasokan obat ARV.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: