Profilaksis Malaria untuk Wisatawan Mancanegara

malaria

Malaria merupakan penyakit yang disebabkan oleh parasit protozoa dari genus plasmodium yang menginfeksi sel darah merah penderita. Parasit tersebut masuk ke dalam tubuh manusia melalui gigitan nyamuk anopheles betina. Spesies plasmodium yang menginfeksi manusia yaitu Plasmodium falcifarum, Plasmodium vivax, Plasmodium ovale, dan Plasmodium malariae.


Dilihat dari gejalanya, malaria ditandai dengan demam akut yang muncul setelah terinfeksi parasit malaria selama 7 hari atau lebih. Gejala malaria yang paling hebat adalah yang disebabkan oleh P. falcicarum. Manifestasi kliniknya berupa demam, sakit kepala, menggigil, sakit otot dan lemah, muntah, batuk, diare, dan nyeri abdomen. Gejala lain berupa kegagalan fungsi organ seperti gagal ginjal akut, kejang, kolaps pembuluh darah yang diikuti koma dan kematian. Di daerah endemik diperkirakan bahwa 1% pasien dengan infeksi P. falcifarum meninggal karena penyakit ini.




Diperkirakan ada sekitar 1,5-2,7 juta jiwa melayang setiap tahunnya akibat penyakit ini. Walau sejak 1950 malaria telah berhasil dibasmi di hampir seluruh benua Eropa, Amerika Tengah dan Selatan, tapi di beberapa bagian benua Afrika dan Asia Tenggara, penyakit ini masih menjadi masalah besar. Sekitar seratus juta kasus penyakit malaria terjadi setiap tahunnya, 1% diantaranya berakibat fatal. Seperti kebanyakan penyakit tropis lainnya, malaria merupakan penyebab utama kematian di negara berkembang. Penyebaran malaria juga cukup luas di banyak negara, termasuk Indonesia.


Setiap tahun banyak wisatawan terjangkit malaria ketika mengunjungi negara yang endemik malaria dan sepuluh ribu orang dilaporkan terjangkit setelah kembali ke negara asalnya. Jika memperhitungkan jumlah yang tidak dilaporkan, angka sebenarnya mungkin lebih dari tiga puluh ribu orang. Para wisatawan ini berisiko tinggi terjangkit malaria karena mereka tidak memiliki sistem kekebalan spesifik. Selain mereka seringkali terlambat menyadari bahwa mereka terjangkit malaria, mereka pun sering mendapatkan diagnosis yang salah dari dokternya saat kembali ke daerah asalnya. Padahal demam yang timbul sampai tiga bulan setelah meninggalkan daerah endemik malaria digolongkan kegawatan medis dan harus diselidiki kasusnya secepat mungkin.

Tingkat kematian pada wisatawan akibat infeksi falcifarum yang tidak tertangani dengan baik cukup tinggi. Gejala awal, yang mungkin ringan, tidak akan mudah dikenali sebagai malaria. Itulah pentingnya menduga kemungkinan malaria falcifarum pada semua kasus yang gejalanya berupa demam tanpa penyebab pasti. Demam itu dimulai 7 hari dari kemungkinan pertama kali terinfeksi. Mereka yang mengalami demam dalam waktu 7 hari itu sebaiknya segera memeriksakan diri agar mendapatkan penanganan yang efektif. Selain itu perlu juga memberi tahu tenaga medis tentang kemungkinan terinfeksi malaria.


Upaya kemoprofilaksis dan penanganan malaria falcifarum menjadi lebih sulit karena P. falcifarum resisten terhadap berbagai obat antimalaria. Plasmodium vivax yang resisten terhadap klorokuin, dilaporkan pertama kali pada tahun 1980 di Papua Nugini dan Indonesia. Namun saat ini sudah jarang ditemui kasusnya. Sedangkan P. malariae yang resisten klorokuin dilaporkan telah ditemukan di Indonesia. Berbeda dengan P. falcifarum, malaria yang disebabkan oleh spesies Plasmodium lainnya kurang berbahaya dan jarang menyebabkan kematian.


Tindakan Pencegahan dan Kemoprofilaksis

Para wisatawan harus diberi informasi mengenai perlindungan diri terhadap malaria. Secara umum ada 4 prinsip utama pertahanan terhadap malaria. Benteng pertama yaitu melindungi diri dari gigitan nyamuk terutama sepanjang pagi hingga sore hari. Kedua, harus selalu waspada terhadap risiko, waktu inkubasi, dan gejala-gejala malaria. Ketiga, dianjurkan untuk membekali diri dengan kemoprofilaksis antimalaria. Dan keempat, sesegera mungkin memeriksakan diri dan mengusahakan penanganan yang efektif jika mengalami demam setelah masuk area dengan adanya risiko malaria dan lebih dari 3 bulan setelah tiba dari area berisiko.


Dokter harus menyadari bahwa tidak ada profilaksis antimalaria yang dapat memberi perlindungan sempurna. Akan tetapi, kemoprofilaksis yang baik disertai kepatuhan individu mengkonsumsi obat sesuai yang direkomendasikan akan mengurangi risiko malaria menjadi fatal.


Efek Samping Kemoprofilaksis

Seluruh obat antimalaria memiliki kontraindikasi yang spesifik dan efek samping tertentu. Efek samping kemoprofilaksis ini bersifat minor dan pada aplikasinya tidak akan mempengaruhi aktivitas wisatawan. Kejadian munculnya efek samping yang serius sehingga menyebabkan kematian jarang terjadi. Berdasarkan data WHO, pemberian profilaksis dengan meflokuin menimbulkan efek samping yang serius yang terjadi pada 1 dari 6000 hingga 10600 wisatawan. Sedangkan pada pemberian klorokuin, 1 dari 13600 wisatawan akan mengalami efek samping serius.

Untuk profilaksis malaria dengan atovaquon proguanil atau doksisiklin, risiko terjadinya efek samping serius tersebut tidak ditemukan. Karena adanya risiko efek samping ini, maka kemoprofilaksis sebaiknya tidak diresepkan jika tidak ada risiko malaria. Sebagai acuan Dokter, bahwa malaria tidak muncul di semua negara tropis. Oleh karenanya Dokter harus mengetahui negara mana saja yang memiliki risiko menyebabkan infeksi malaria. (primz, sumber: www.who.net)

Simpan halaman ini dalam PDF?

Post artikel ini di tempat lain?Bookmark and Share

Seluruh artikel di myhealing.wordpress.com dapat Anda perbanyak dan digunakan untuk keperluan apapun, asal tetap mencantumkan sumber URL. Silakan berikan rating untuk artikel ini.

Copyright © 2007 – 2009 Stetoskop. All Rights Reserved.

2 Responses to “Profilaksis Malaria untuk Wisatawan Mancanegara”

  1. eko cahyono Says:

    kang, nyong melu maca ya…

  2. prima almazini Says:

    Silakan mas..Semoga bermanfaat.. =)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: