Wanita Lebih Sensitif terhadap Nyeri

Semua orang pasti pernah merasakan nyeri dalam hidupnya. Nyeri tersebut dapat bersifat ringan, sedang, maupun nyeri yang hebat. Respon terhadap nyeri dapat berbeda pada setiap individu karena ada banyak faktor yang mempengaruhi nyeri. Bahkan ada yang mengatakan bahwa wanita lebih sensitif terhadap nyeri dibanding pria. Benarkah demikian?


Ternyata pola nyeri juga dipengaruhi oleh jenis kelamin. Pria dan wanita mempunyai risiko berbeda dalam mengalami nyeri. Hal ini dibahas pada seminar All About Women’s Health yang diselenggarakan pada 21-24 Desember 2006 di Hotel Sahid Jaya . Dr. dr. Angela B. M. Tulaar, Sp.RM menjelaskan kekhasan respon nyeri pada wanita dibanding pria.

Hormon seks merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi sensitifitas seseorang terhadap nyeri. Wanita secara biologis lebih sensitif terhadap nyeri daripada pria. Penelitian menunjukkan bahwa wanita paskamenopause yang menggunakan terapi sulih hormon (hormone replacement therapy/HRT) lebih sensitif terhadap nyeri daripada wanita paskamenopause non-HRT dan pria.
Faktor lain yang berpengaruh yaitu mekanisme pertahanan secara psikis (psycological coping). Hal itu meliputi perasaan yang mengharapkan nyeri akan hilang, atau pikiran bahwa tubuh tidak dapat lagi menahan nyeri. Ternyata adanya perasaan atau pikiran tersebut mempengaruhi pelaporan nyeri yang dirasakan. Wanita yang menggunakan psycological coping seperti itu, melaporkan nyeri lebih banyak daripada wanita yang tidak menggunakannya.

Sedangkan pada pria, tidak ada perbedaan dalam pelaporan nyeri, baik menggunakan psycological coping maupun tidak. Dengan adanya pelaporan nyeri yang berbeda-beda pada wanita, maka respon nyeri pada wanita lebih baik dibanding pria. Wanita lebih mungkin mengetahui dan mengelola rasa nyeri yang mereka alami. Oleh karena itu, wanita akan segera mencari bantuan dan pengobatan untuk nyerinya itu.

Sebaliknya, pria tidak terlalu merasakan terhadap perubahan rasa nyeri. Ia akan cenderung menahan nyeri dan sering menunda untuk mencari bantuan. Jika nyeri yang dirasakan sudah sangat hebat, barulah pria proaktif mencari cara untuk mengurangi nyeri. Hal itu tentunya akan mempengaruhi kualitas hidup antara pria dan wanita.

Respon nyeri yang khas pada wanita dibanding pria membuat wanita harus lebih waspada terhadap rasa nyeri. Wanita akan lebih sensitif jika menderita penyakit dengan nyeri yang berlangsung lama. Apabila pengobatan tidak adekuat, nyeri itu dapat menyebabkan depresi, hilangnya fungsi dalam kehidupan sehari-hari, memperpanjang waktu pulih, dan hilangnya hari kerja.
Kenyataan bahwa wanita lebih sensitif terhadap nyeri dibanding pria hendaknya dapat dipahami dengan baik. Diperlukan respon yang tepat baik secara fisik maupun psikis sehingga nyeri yang ada dapat segera diatasi. Dengan demikian kualitas hidup yang baik dapat terus dipertahankan. Primz

Artikel yang Berhubungan:
* Menurunkan Risiko Kanker pada Perempuan

Simpan halaman ini dalam PDF?

Post artikel ini di tempat lain?Bookmark and Share

Seluruh artikel di myhealing.wordpress.com dapat Anda perbanyak dan digunakan untuk keperluan apapun, asal tetap mencantumkan sumber URL. Silakan berikan rating untuk artikel ini.

Copyright © 2007 – 2009 Stetoskop. All Rights Reserved.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: