Catatan Pendidikan Kedokteran dalam Tinta Sejarah

Seperti pepatah, gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belangnya. Sejarah pendidikan kedokteran di Indonesia meninggalkan nilai mulia yang sepatutnya terus kita lestarikan.

Pendidikan kedokteran di Indonesia dimulai sejak tahun 1851. Pendirian sekolah keahlian di bidang kedokteran berawal dari terjadinya epidemi penyakit menular yang menyerang tenaga kerja pribumi di perkebunan-perkebunan Belanda. Pemerintah kolonial mengkhawatirkan terjadinya kemandekan kegiatan perkebunan dan kerugian akibat epidemi tersebut. Oleh karena itu, pemerintah kolonial Belanda mendirikan Sekolah Dokter Djawa guna mencetak kaum pribumi yang sebagai tenaga kesehatan yang murah dan siap pakai.


Sekolah Dokter Djawa didirikan tepatnya pada tanggal 1 Januari 1851. Pemuda Jawa pada waktu itu menjalani pendidikan selama 2 tahun. Kemudian setelah lulus dipekerjakan sebagai dokter pembantu yang bertugas untuk memberi pengobatan dan vaksinasi cacar. Pada tahun 1875, lama pendidikan diperpanjang menjadi 7 tahun dan pada tahun 1902 menjadi 9 tahun, terdiri atas 3 tahun bagian persiapan dan 6 tahun bagian kedokteran. Pada saat itu, nama sekolah diganti menjadi “School tot Opleiding van Inlanndsche Artsen”, disingkat STOVIA. STOVIA hanya menerima calon murid yang lulus Sekolah Dasar Belanda.

Nama STOVIA tidak bertahan lama. Pada tahun 1927, dibuka Geneeskundige Hoogeschool (Sekolah Tinggi Kedokteran) di Salemba untuk mengganti STOVIA. Geneeskundige Hoogeschool hanya menerima siswa lulusan Sekolah Menengah Atas (AMS) atau Sekolah Menengah Belanda (HBS). Setelah menjalani pendidikan selama 8 tahun, lulusan Geneeskundige Hoogeschool dianggap setara dengan fakultas-fakultas kedokteran di Belanda.

Setelah kedatangan tentara pendudukan Jepang pada tahun 1942, Geneeskundige Hoogeschool diganti nama menjadi Ika Daigaku (Perguruan Tinggi Kedokteran). Pada masa perjuangan merebut kemerdekaan, proses pendidikan di Ika Daigaku sempat terhenti karena kegiatan mahasiswa yang terlibat dalam perjuangan kemerdekaan. Namun, meskipun Jepang kalah pada tahun 1945, pendidikan di Ika Daigaku masih berlangsung.

Pendidikan kedokteran memasuki lembaran baru setelah kemerdekaan Indonesia diproklamirkan. Pada tanggal 1 Oktober 1945 dilangsungkan upacara pembukaan Perguruan Tinggi Kedokteran di Salemba 6 Jakarta dibawah kepemimpinan Prof. Dr. Sarwono Prawirohardjo. Setelah pengakuan kedaulatan Republik Indonesia Serikat pada tahun 1950, Perguruan Tinggi Kedokteran bergabung dengan Universiteit Indonesia Fakulteit Kedokteran. Kemudian sampai sekarang resmi dikenal sebagai Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.


Mahasiswa STOVIA dan Perjuangan Kemerdekaan

Mahasiswa STOVIA memegang peranan yang sangat penting dalam perjuangan meraih kemerdekaan. Mahasiswa STOVIA adalah pelopor berdirinya Budi Utomo pada tahun 1902. Sejak saat itu, identitas diri sebagai bangsa Indonesia perlahan mulai tumbuh subur di kalangan rakyat Indonesia. Puncaknya pada Kongres Pemuda tahun 1908, kesadaran sebagai bangsa Indonesia yang satu telah disepakati oleh pemuda dari berbagai suku, adat, dan agama di Indonesia.


Peran besar tersebut tak lepas dari proses pendidikan di STOVIA. Pada saat itu, pemuda Jawa yang menuntut ilmu di STOVIA setiap hari menggunakan pakaian adat jawa. Ketika waktu senggang, di kalangan mahasiswa-mahasiswa ini muncul kelompok-kelompok yang secara santai bertukar pikiran, melontarkan gagasan, dan beradu argumentasi. Mereka membicarakan masalah seputar keadaan sosial ekonomi rakyat Jawa. Hal ini menandakan bahwa mereka menyadari sepenuhnya identitas diri mereka sebagai orang Jawa dan sebagai calon dokter yang harus mengabdi pada masyarakat.


Perasaan empati terhadap rakyat kecil itulah yang mendorong kebangkitan mahasiswa STOVIA untuk membentuk Budi Utomo. Umumnya mahasiswa STOVIA pada masa itu ketika berpraktik sebagai dokter lebih dekat ke rakyat kecil daripada kepada para pejabat. Rasa empati kepada rakyat kecil inilah yang merupakan nilai mulia yang seharusnya terus tertanam dalam diri para calon dokter Indonesia dimanapun berada sampai kapanpun jua. [prz]

Artikel yang Berhubungan:
* Menuju Paradigma Baru Kurikulum Pendidikan Kedokteran (1)
* Menuju Paradigma Baru Kurikulum Pendidikan Kedokteran (2)
* Fakultas Kedokteran Baru : Antara Kuantitas dan Kualitas
* Is Only The Rich That Can be A Doctor?

Simpan halaman ini dalam PDF?

Post artikel ini di tempat lain? Bookmark and Share

Seluruh artikel di myhealing.wordpress.com dapat Anda perbanyak dan digunakan untuk keperluan apapun, asal tetap mencantumkan sumber URL. Silakan berikan rating untuk artikel ini.

Copyright © 2007 – 2009 Stetoskop. All Rights Reserved.

3 Responses to “Catatan Pendidikan Kedokteran dalam Tinta Sejarah”

  1. rijalulghad Says:

    ass..

    hei, bro. artikelnya mantapp.. serius nih nekuni tulis menulisnya.. saluut..
    menanggapi perjuangan kemerdekaan berdasarkan analisa saya (pribadi):
    1. adalah keilmuan———————-> wawasan global juga pemahaman
    2. semangat kebersamaan—————–> rasa kebangsaan (senasib sepenanggungan)
    3. berpikir taktis dan strategis——–> politik praktis (usaha berkesinambungan: diplomasi, perlawanan,dll)
    4. keyakinan—————————-> MERDEKA = Anugrah = Kepastian Tuhan

    smoga bisa buat bahan diskusi..

    salamhangat
    ~pejuang’86

  2. sibermedik Says:

    hai..salam kenal..mampir ke blog saya ya…

  3. prima almazini Says:

    @ Sibermedik :
    Salam kenal juga..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: