1001 Jurus Melawan HIV/AIDS

Kasus HIV/AIDS berkembang pesat bak jamur di musim hujan. Bagaimana langkah dunia untuk mencegahnya?

hiv aids

Jumlah kasus HIV/AIDS di Indonesia dari tahun ke tahun semakin meningkat. Pada tahun 2006, Departemen Kesehatan RI berupaya memperkirakan jumlah kasus HIV/AIDS dengan bantuan pakar dari Australia. Hasilnya adalah jumlah kasus HIV/AIDS di Indonesia antara 170.000 sampai 210.000. Hasil ini meningkat dua kali lipat dari perkiraan pada tahun 2002. Menurut survey tersebut, peningkatan jumlah kasus HIV/AIDS di Indonesia terutama berasal dari kasus HIV/AIDS dari kelompok pengguna narkoba suntikan.

Di dunia, sekitar 90% HIV/AIDS berada di negara yang sedang berkembang dan paling tinggi di Afrika. Menurut Prof. Dr. dr. Samsuridjal Djauzi, Sp.PD(K), HIV/AIDS kekerapannya tinggi di negara miskin dikarenakan masyarakatnya kurang memperoleh informasi, tak punya peluang untuk memperoleh pekerjaan atau usaha yang layak serta tak punya kesempatan untuk memilih hidup sehat. Peningkatan kesejahteraan masyarakat seperti peningkatan pendidikan, akses pelayanan kesehatan, akses untuk bekerja akan mengurangi secara nyata penularan HIV/AIDS. Namun hal ini tentu memerlukan upaya yang lama dan konsisten. Tidak hanya itu, untuk mencegah peningkatan jumlah yang tak terkendali tersebut diperlukan berbagai upaya pencegahan penularan HIV/AIDS dari berbagai aspek.

Mencegah Penularan dari Ibu ke Anak
Penularan dari ibu ke anak merupakan sumber tersering infeksi HIV pada anak usia di bawah lima belas tahun. Pada tahun 2000 lebih dari 600.000 anak terinfeksi, dan 90% berada di Afrika. HIV dapat ditularkan dari ibu hamil yang terinfeksi ke anaknya saat kehamilan, melahirkan, atau melalui ASI. Menurut WHO, tanpa penggunaan antiretroviral (ARV) dilaporkan bahwa laju transmisi berkisar antara 13-32% di negara maju dan 25-48% di negara berkembang.

Oleh karena itu, WHO telah membuat strategi pencegahan transmisi dari ibu ke anak yang ditujukan kepada tiga kelompok utama. Kelompok pertama adalah pencegahan primer untuk calon orang tua. Pencegahan yang dilakukan berupa edukasi dan konseling tentang pencegahan HIV, promosi kondom, voluntary counselling and testing (VCT), penanganan infeksi menular seksual (IMS), serta peran masyarakat untuk mengurangi stigma dan diskriminasi.

Kelompok kedua adalah mencegah kehamilan yang tidak diinginkan pada wanita terinfeksi HIV. Pencegahan yang dilakukan berupa edukasi dan konseling tentang pencegahan HIV, promosi kondom, VCT, Keluarga Berencana (KB), dan peran masyarakat untuk mengurangi stigma dan diskriminasi.

Kelompok ketiga adalah pencegahan transmisi dari ibu yang terinfeksi HIV kepada bayinya. Pencegahan dilakukan dengan edukasi dan konseling tentang pencegahan HIV, promosi kondom, VCT, antenatal care, ARV profilaksis, persalinan yang aman, konseling dan dukungan untuk pemberian ASI yang aman, serta peran masyarakat untuk mengurangi stigma dan diskriminasi.

Di samping itu, penggunaan ARV selama hamil dan persalinan terbukti efektif menurunkan transmisi dari ibu ke bayi. ARV menurunkan risiko penularan dari ibu ke anak dengan menurunkan tingkat replikasi virus pada tubuh ibu dan profilaksis pada bayi selama dan setelah terpapar virus. Reduksi yang berarti pada laju infeksi HIV pada anak telah diamati di negara-negara maju sejak tahun 1994 dan menunjukkan bahwa pemberian zidovudine pada wanita sejak usia kehamilan 40 minggu dan selama persalinan menurunkan risiko penularan dari ibu ke anak hampir 70% pada populasi yang tidak menyusui. Jika dikombinasi dengan seksio caesarea elektif, ARV akan menurunkan risiko penularan dari ibu ke anak sebesar 72%.

Untuk ibu dan bayi yang menerima profilaksis ARV, risiko terhadap paparan satu atau lebih obat harus dipertimbangkan dengan manfaat dari penurunan risiko transmisi ke bayi. Penggunaan ARV jangka pendek yang aman dan dapat ditoleransi merupakan pilihan utama. Sealin itu, pilihan obat haruslah ditentukan dengan pertimbangan efektivitas, mudah didapat, dan harga.

Pencegahan Transmisi Seksual

condom-balloon.jpg

Di Amerika Serikat, transmisi heteroseksual merupakan penyebab utama HIV/AIDS pada wanita. 68% dari wanita positif HIV di Amerika Serikat terinfeksi lewat transmisi heteroseksual. Hal ini disebabkan terbatasnya pengetahuan wanita tentang faktor risiko HIV/AIDS pasangan dan persepsi yang salah bahwa mereka berisiko rendah terinfeksi HIV. Transmisi lewat hubungan seksual dicegah dengan melakukan hubungan seks yang aman. Seks yang aman berarti selalu berasumsi bahwa pasangan mungkin terinfeksi HIV dan tidak membiarkan cairan tubuh pasangan seperti darah, semen, cairan vagina, atau ASI masuk ke dalam tubuh. Selain itu, WHO juga telah menggalakkan ABC yaitu abstinence, be faithful, dan condom. Abstinence berarti tidak melakukan hubungan seksual. Be faithful berarti hanya melakukan hubungan seksual dengan satu orang yang tidak terinfeksi. Condom berarti menggunakan kondom secara benar dan konsisten setiap melakukan hubungan seksual.

Kondom oleh WHO diakui memiliki keefektifan yang tinggi dalam mencegah transmisi HIV/AIDS jika digunakan secara benar dan konsisten. Kegagalan kondom biasanya disebabkan oleh penggunaan yang tidak benar atau tidak konsisten selain di samping karena kerusakan ataupun kadaluarsa. Menurut Samsuridjal, masalah kondom bukan pada efektivitas tetapi pada cara penggunaan yang benar dan sosialisasi yang mempertimbangkan budaya setempat. Petugas kesehatan hendaknya mengedukasi masyarakat tentang manfaat kondom dan cara penggunaan yang benar. Pemilihan cara sosialisasi harus sesuai dengan budaya dan nilai-nilai di masyarakat sehingga tidak menimbulkan pertentangan.

Selain itu, banyak pihak yang berharap pada upaya pencegahan dengan vaksin. Namun, sampai saat ini vaksin HIV belum ditemukan. Menurut Prof. dr. Zubairi Djoerban, Sp.PD(K), Ketua Konsorsium AIDS Indonesia, jika nanti vaksin sudah ditemukan, tidak akan berhasil dengan sekali suntikan. Vaksin harus berulang. Akan tetapi menurutnya, sekarang sudah ada sarana intervensi yang terbukti menekan penularan 60%, dikerjakan hanya satu kali seumur hidup, dan berlaku seterusnya yaitu sunat.

WHO dan UNAIDS telah membuat rekomendasi kebijakan untuk menyebarluaskan sunat pada laki-laki sebagai metode pencegahan HIV/AIDS. Hal itu terjadi setelah hasil penelitian di Kenya dan Uganda pada tahun 2006 yang mendukung penelitian interventional yang dilakukan South Africa Orange Farm pada tahun 2005 yakni penurunan infeksi HIV paling sedikit 60% pada laki-laki yang disunat.

WHO menekankan bahwa sunat pada laki-laki bukan merupakan proteksi yang sempurna melawan infeksi HIV. Sunat tidak dapat menggantikan metode pencegahan lainnya dan seharusnya selalu dipertimbangkan sebagai bagian dari paket pencegahan yang komprehensif yang termasuk di dalamnya penggunaan kondom yang benar dan konsisten, setia pada satu pasangan, menunda hubungan seksual, serta konseling dan tes HIV.

Mulai dari ODHA
Di Amerika Serikat, Centers for Disease Control (CDC) mengeluarkan program Sero-status Approach to Fighting the HIV Epidemic (SAFE). Dalam SAFE, orang dengan HIV/AIDS (ODHA) mempunyai peranan yang penting dalam pencegahan infeksi baru. Cara ini dikenal dengan istilah pencegahan positif. Pencegahan positif bertujuan untuk mendukung ODHA dengan melindungi kesehatan seksual, mencegah infeksi menular seksual yang baru, memperlambat perkembangan penyakit HIV/AIDS dan mencegah penyebaran infeksi ke orang lain. Pencegahan positif merupakan prioritas karena satu orang yang positif HIV akan terlibat dalam transmisi HIV.

Seperti yang diungkapkan Rocky (nama samaran), 29 tahun, ODHA yang juga aktivis di Yayasan Langkah Baru Indonesia. “Dulu gua ga tahu tentang HIV/AIDS, yang gua tahu orang-orang cuma bilang stop narkoba,” ujar Rocky kepada Media Aesculapius. Rocky tidak tahu kalau tindakannya menggunakan barang terlarang itu dapat menjadikannya orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Rocky adalah mantan pecandu narkoba yang mempunyai kebiasaan berganti-gantian jarum suntik. Lepas dari narkoba, masalah tak berhenti di situ saja. Ia mengetahui dirinya HIV positif setelah dua tahun bebas dari narkoba. Sejak mengetahui HIV positif gaya hidup seseorang haruslah berubah. Jika tidak, lingkungan sekitar bahkan orang yang tidak dikenal mungkin saja dapat tertular.

Sejak itu Rocky yang tinggal bersama teman-temannya menjaga dirinya supaya tidak menularkan ke orang lain. Usaha yang dilakukan Rocky antara lain, tidak berbagi pisau cukur dan sikat gigi, setia pada satu pasangan, menggunakan kondom saat berhubungan seksual, serta tidak mendonorkan darahnya. Semoga usaha yang dilakukan Rocky ini diikuti oleh ODHA-ODHA yang lain. primz, salma, gita, sondang, aila

Artikel yang Berhubungan:
* Rapid Test Semakin Cepat Mendeteksi Antibodi HIV
* Enam Rapid Test HIV yang Telah Disetujui FDA
* Stop HIV-AIDS by Circumcision
* ARV, Dambaan Semua ODHA
* ARV Bangunkan Raksasa yang Tertidur

Simpan halaman ini dalam PDF?

Post artikel ini di tempat lain?Bookmark and Share

Seluruh artikel di myhealing.wordpress.com dapat Anda perbanyak dan digunakan untuk keperluan apapun, asal tetap mencantumkan sumber URL. Silakan berikan rating untuk artikel ini.

Copyright © 2007 – 2010 Stetoskop. All Rights Reserved.
Posted in HIV-AIDS. Tags: , , , , . 6 Comments »

6 Responses to “1001 Jurus Melawan HIV/AIDS”

  1. Mike Belgrove Says:

    AIDS is a devastating disease that most people don’t properly respect until it hit close to home like it recently did for me. I’d love to see it cured in the next few years and maybe what I read over on Highbrid Nation can lead to a cure. I’m praying it does.

  2. gito Says:

    Baru baca ni kak primz, gara2 ad tugas ttg pncegahan aids.. Klo d indonesia sendiri, pencegahannya gimana y kak??

  3. prima almazini Says:

    @ gito :

    Pencegahan aids di Indonesia menurut menkes bisa dibaca disini

  4. berti Says:

    kak Primz, mau nanya ada ngga data berupa draf or MoU dari UNAIDS atau PBB dalam pencegahan dan pemberantasan HIV/AIDS,
    sampai sekarang saya cari-cari belum menemukan.

  5. prima almazini Says:

    @ berti :

    Setahu saya UNAIDS sudah banyak membuat publikasi berkaitan dengan kebijakan dan program-programnya di situsnya. Bisa didownload dalam pdf. Silakan coba dibuka. Semoga yang berti maksud ada pada salah satu diantaranya.

  6. Dian Prastiti Utami Says:

    Asw. hai primz. lagi nyari artikel tentang penanganan AIDS di Indonesia untuk presentasi acara CIMSA trus tiba-tiba melihat tulisanmu. Bermanfaat sekali primz. makasih ya. =) wass.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: