Mana Promosi Kesehatannya?

Plesetan jingle iklan salah satu merek rokok terkenal itu menggambarkan rasa penasaran penulis terhadap kebijakan pemerintah saat ini.

promosi kesehatan

Lumrahnya, kebijakan kesehatan masyarakat dibuat berdasar pada visi yang ingin dicapai dan bukti sesuai permasalahan yang nyata ada di masyarakat. Bukti di masyarakat saat ini memperlihatkan masih perlunya upaya promosi kesehatan yang lebih intensif dan berkesinambungan. Sebagai ilustrasi awal, mari kita lihat sejauh mana pengetahuan masyarakat Indonesia mengenai cara hidup sehat. Sebuah penelitian yang dilakukan di Bantaeng, Binjai, Mauk, dan Tangerang yang dipublikasikan pada Februari 2008 menunjukkan 47,5% rumah tangga dari 10.737 responden memiliki air minum yang terkontaminasi E. coli. Kontaminasi ini diakibatkan pengolahan air yang keliru. Contoh kesalahan yang sering terjadi yaitu waktu merebus air yang tidak dibiarkan mendidih sekitar 1-3 menit, dan pengambilan air dari wadah yang tidak ditutup dengan alat yang belum bersih. Dari survei yang dilakukan Program Aman Tirta dari Johns Hopkins University ini diketahui bahwa masyarakat setempat tidak mengetahui proses memasak air yang baik.

Selain itu, aspek sarana prasarana penunjang kesehatan masyarakatnya pun masih kurang. Data survei sosial ekonomi nasional 2004 menunjukkan 12% penduduk perkotaan Indonesia tidak memiliki akses ke sarana jamban. Tidak mengherankan apabila 70% air tanah di perkotaan telah tercemar berat bakteri tinja. Sedangkan secara umum, pada data survei kependudukan nasional yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2006 tercantum persentase rumah tangga yang memiliki akses terhadap sanitasi dan jamban yang baik hanya 55%. Artinya, masih ada 100 juta yang hidup dengan sanitasi yang buruk.

Bagaimana dengan aspek perilaku? Setali tiga uang. Berdasarkan data survei rumah tangga nasional, sekitar 100 juta penduduk Indonesia masih membuang kotoran tinja di seputar rumah atau sungai. Akibatnya lingkungan menjadi kotor dan insiden penyakit yang disebabkan oleh sanitasi yang buruk meningkat. Sebagai bukti, perilaku tidak sehat ini telah berkontribusi besar terhadap tingginya angka kematian balita akibat diare yang mencapai 200.000 per tahun.

Bagaimana mengatasi masalah-masalah di atas? Apakah sudah cukup dengan program yang ada sekarang?

Kenyataannya, masalah-masalah di atas belum dapat diselesaikan dengan program-program yang ada saat ini, termasuk puskesmas. Saat ini puskesmas telah didirikan di hampir seluruh wilayah Indonesia dan dilengkapi dengan puskesmas pembantu dan puskesmas keliling,. Jumlah Puskesmas di seluruh Indonesia adalah 7.550 unit, puskesmas pembantu berjumlah 22.002 unit, dan puskesmas keliling 6.132 unit. Meskipun fasilitas pelayanan kesehatan dasar tersebut terdapat di semua kecamatan, namun pemerataan dan keterjangkauan pelayanan kesehatan masih menjadi kendala. Fasilitas ini belum sepenuhnya dapat dijangkau oleh masyarakat, terutama terkait dengan biaya dan jarak transportasi. Begitupula rumah sakit. Meskipun sudah terdapat di hampir semua kabupaten atau kota, namun sistem rujukan pelayanan kesehatan perorangan belum dapat berjalan dengan optimal.

Pilihan yang bijak bagi pemerintah adalah dengan mendahulukan upaya pencegahan daripada pengobatan serta mengoptimalkan upaya promosi kesehatan dengan didukung oleh alokasi anggaran yang cukup. Namun alokasi anggaran pemerintah tahun 2008 memperlihatkan hal yang sebaliknya. Program promosi kesehatan dan pemberdayaan masyarakat hanya sekitar 1,23% dari rencana anggaran kesehatan keseluruhan sebesar 18,7 triliun. Upaya kesehatan perorangan, termasuk di dalamnya jamkesmas, mendapat porsi terbesar yaitu 42,38%.

Di balik kebijakan pemerintah tersebut penulis menduga adanya motif politis. Bagi masyarakat Indonesia, yang sebagian besarnya tergolong keluarga miskin, jamkesmas memang lebih terasa secara langsung manfaatnya. Tapi apabila dilihat dari visi jangka panjang departemen kesehatan untuk mewujudkan masyarakat yang mandiri untuk hidup sehat, maka sebenarnya program tersebut bisa dikatakan melenceng dari sasaran. Bukan berarti tidak boleh membantu masyarakat miskin. Akan tetapi seyogyanya upaya pencegahan dan promosi kesehatan menjadi pilihan nomor satu dan lebih diutamakan.

Pun apabila suatu saat nanti pemerintah telah menjadikan promosi kesehatan sebagai prioritas, masih banyak hal yang harus dipikirkan. Pembagian peran lintas bidang, pemberdayaan media massa dan elektronik sebagai mitra pemerintah dalam upaya promosi kesehatan, optimalisasi peran puskesmas, dan penyediaan tenaga kesehatan yang cukup untuk penyelenggaraan program di lapangan adalah beberapa pokok pikiran yang dapat menjadi masalah selanjutnya. Agar visi masyarakat mandiri untuk hidup sehat dapat terwujud seperti yang dicita-citakan, perlu political will yang kuat dari pemerintah untuk bisa memilih dan menetapkan kebijakan kesehatan yang tepat, efektif dan efisien sesuai sasaran yang ingin dicapai. primz, aila

Artikel yang Berhubungan:
* Prospective Payment? Setuju!
* BBM Naik, Rakyat Dilarang Sakit?
* Program Obat Murah Baru Separuh Jalan

Simpan halaman ini dalam PDF?

Post artikel ini di tempat lain?Bookmark and Share

Seluruh artikel di myhealing.wordpress.com dapat Anda perbanyak dan digunakan untuk keperluan apapun, asal tetap mencantumkan sumber URL. Silakan berikan rating untuk artikel ini.

Copyright © 2007 – 2010 Stetoskop. All Rights Reserved.

9 Responses to “Mana Promosi Kesehatannya?”

  1. klikharry Says:

    salam kenal dari klikharry

  2. saSha Says:

    Assalamualaikum.wr.wb.

    kak prima, anak yg ada di foto anak indonesia kah?
    kalo bole tw dr daerak mn yh,

    salam kenal kak =)

    wassalam.

  3. prima almazini Says:

    @ klikharry :
    Makasih udah berkunjung mas harry =)

    @ saSha :
    Waalaikumsalam wr.wb…

    Ya, itu anak Indonesia. Saya mengambil foto itu dari salah satu surat kabar harian nasional kita, tapi saya tak tahu pasti itu dari daerah mana. Sepertinya dari wilayah timur..

    Salam kenal juga ya saSha =)

  4. SiB@TaX SianTar Says:

    Program Pemerintah untuk kesehatan BloM MaxiMal.Buktinya Ajaa,,,program pelayanan kesehatan dasar/gratis.
    1.progrma ini masih banyak dinikmati oleh kalangan orang yang mampu
    2.sistem pendataan ato survey untuk memberikan playanan kesehata gratis yang dilakukan pemerintah masih kacau
    3.masyarakat sering dipersulit ketika melakukan pengurusan akte atau syarat untuk mendapatkan program gratis apa saja dari pemerintah,,,
    4.mutu pelayanan yang diberikan tidak maksimal dan masih ada aja petugas kesehatan yang tidak bersahabat dengan pasien (apalagi kalo tau bahwa pasien tersebut orang yang tidak mampu)
    5..masih banyak sebenarnya,,,,

    kita sambung kapan2 lagi yaaa

    wassalam

    sarsia82yaho.com
    http://www.kksp.or.id

  5. SiB@TaX SianTar Says:

    salah satu isi Hak Asasi Manusia adalah….Hak untuk hidup yang layak (salah satunya hak untuk memperoleh Kesehatan,termasuk didalamnya = morbiditas,mortalitas,mutu pelayanan,jaminan,dll yang sifatnya manusiawi dan kemanusiaan)

    K@Lo @nda Setuju…dengan ini

    Kalo kau datang….untuk membantuku…
    lebih baik kau pulang saja dan tidur dikamarmu,,,,
    tapi,,,,kalo kau datang padaku demi perjuangan yang sedang aku emban..mari satukan dalam perjuangan sampai titik darah yang terakhir (bukan berantem sampe modar n berdarah2,,tapi…Gunakan akal sehatmu dan taktik,strategi,

  6. prima almazini Says:

    @ Sibatax Siantar :
    Betul sekali. Setuju, bahwa sebenarnya masih sangat banyak masalah dalam perencanaan dan pelaksanaan program pemerintah khususnya di bidang kesehatan. Makasih atas komentarnya. Dengan memberikan koreksi, membuat tulisan, menyatakan opini harapannya semakin banyak orang yang ngeh, atau bahkan mungkin ada orang yang berwenang yang kebetulan membaca dan kemudian mengubahnya, who knows??

  7. ndress Says:

    Semua orang sadar bahwa “mencegah lebih baik dari mengobati!!!!!”tapi upaya nyata untuk pencegahan sendiri masih dianaktirikan dalam primadona program depkes(baik program maupun upaya nyata).Kalau sudah demikian bagaimana mungkin promosi kesehatan dapat ditingkatkan?

  8. gan ridwan Says:

    saya ambil gambar di sebahagian foto ini untuk backrgound tulisan saya. sebelumnya mohon maaf sangat lancang dan ti dak beretika. namun, gambar ini sangat humanis… saya suka. sekian dan terima kasih
    wasss.wr.wb

  9. prima almazini Says:

    @ Gan Ridwan:
    Wah ngga kok mas. Silakan, dengan senang hati. Makasih udah meninggalkan koment🙂


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: