Menuju Paradigma Baru Kurikulum Pendidikan Dokter (1)

Pendahuluan : Perubahan Paradigma Pendidikan
“Sebuah universitas tak perlu dan tak ingin dikelola, ia akan berjalan sendiri mengikuti irama ‘internal channels’ misterius.”—Lord Dahrendorf (Kepala The London School of Economics).

Pendapat tersebut telah banyak mewarnai jalan berpikirnya para pengelola kampus. Mereka umumnya sangat percaya dengan adanya kekuatan “the invisible hands” yang akan menata dirinya sendiri. Bahkan Dr.Peter Lorange, Guru Besar Wharton School, mengatakan bahwa universitas-universitas besar saat ini terlalu terbelenggu oleh kepercayaan bahwa kampus tak perlu dikelola. Bagi Peter Lorange, pengaruh pendapat yang demikian diklasifikasikan sebagai traditional view. Sekarang, kampus-kampus modern sudah menganut azas lain yang disebut sebagai Proactive and Enterpreneurial Campus. Kampus harus dikelola secara profesional untuk menjawab kebutuhan masa depan. Kampus memerlukan investasi-investasi baru yang dana-dananya harus dicari dari berbagai sumber. Kampus juga tidak boleh mengandalkan dana dari negaranya saja, apalagi ketika kemampuan keuangan negara sudah tidak memadai lagi. Ini berarti keadaan pendidikan tinggi tidak boleh lebih buruk dari keadaan yang dialami negaranya. Padahal masalah dana merupakan hambatan besar dalam pengembangan pendidikan. Maka perubahan mutlak diperlukan.

FKUI sebagai salah satu lembaga pendidikan terkemuka di Indonesia perlu melakukan perubahan dan pengembangan untuk mencapai kemajuan. Di tengah era yang sangat kompetitif ini, perubahan yang konsisten dan terarah mutlak diperlukan agar kita tetap survive. Fakta menunjukkan bahwa sejak beberapa tahun terakhir ini banyak fakultas kedokteran melakukan perubahan dalam kurikulum pendidikannya. Namun sampai saat ini FKUI belum terlihat mengadakan perubahan yang signifikan guna meningkatkan kualitas pendidikannya. Menginjak tahun 2005 ini, kita masih memiliki waktu 5 tahun lagi guna mewujudkan visi FKUI 2010. Hal itu bukanlah waktu yang panjang untuk melakukan perubahan di segala bidang guna mewujudkan visi FKUI 2010 tersebut. Bila kita lihat dari kondisi FKUI sekarang, masih banyak sekali perubahan yang harus dilakukan. Perubahan penting bukan hanya untuk mewujudkan visi FKUI 2010 tapi juga untuk meningkatkan daya saing kita, karena dengan adanya paradigma perubahan di fakultas kedokteran universitas lain membuat FKUI ini tampak tua, klasik dan tertinggal. Oleh karena itu FKUI perlu segera melakukan perubahan kurikulum pendidikan dengan pertama-tama mengubah paradigma pendidikan kedokteran. Paradigma baru yang harus diterapkan adalah ‘learning from the future’, yaitu pendidikan kedokteran yang berorientasi masa depan.

Visi FKUI 2010 berbunyi “Pada tahun 2010,Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia merupakan salah satu fakultas kedokteran terkemuka di Asia Fasifik yang berbudaya ilmiah, yang menyelenggarakan pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat berkualitas tinggi dan memiliki sentuhan manusiawi serta berorientasi pada kepentingan masyarakat.”. Visi FKUI 2010 ini merupakan suatu kondisi ideal di era globalisasi ini. Di era persaingan yang tidak mengenal batas ruang dan waktu seperti sekarang ini, kita berkompetisi bukan hanya dengan fakultas kedokteran di Indonesia tetapi di seluruh dunia. Bukan hanya bersandar pada standar lokal tapi standar global. Untuk mewujudkan FKUI sebagai fakultas kedokteran yang terdepan dalam penelitian dan pengabdian masyarakat,yang pertama harus diwujudkan yaitu terdepan dalam pendidikan. Kurikulum pendidikan di FKUI sekarang ini masih menggunakan pola lama dan walaupun mulai menerapkan pola baru yaitu PBL(Problem Based Learning) dan terintegrasi, namun dalam penyelenggaraannya masih banyak kekurangan dan ketidaksiapannya. PBL dan sistem terintegrasi itu pun bukanlah produk baru mengingat fakultas kedokteran universitas lain telah lebih dulu menerapkannya. Oleh karena itu, selain kita harus mampu menyelenggarakan PBL dan sistem terintegrasi tersebut dengan optimal, kita pun perlu membuat terobosan-terobosan baru dalam pendidikan kedokteran.

Perlunya Penyempurnaan Sistem Evaluasi Hasil Belajar
Dalam memperbaiki dan meningkatkan kualitas sistem pendidikan, bukan hanya kurikulumnya yang diperhatikan tetapi juga sistem evaluasi hasil belajarnya. Sistem evaluasi akan menentukan batas-batas sejauh mana suatu pengetahuan harus dikuasai serta skill apa yang harus dimiliki oleh peserta didik setelah mengikuti suatu pelatihan atau proses belajar. Evaluasi juga berperan penting untuk memotivasi peserta didik untuk belajar lebih giat dan menguasai materi lebih dalam. Evaluasi hasil belajar harus benar-benar mengukur keberhasilan belajar peserta didik dengan baik, disertai dengan instrumen evaluasi yang sesuai dengan perilaku atau perubahan perilaku yang akan diukur.

Sistem evaluasi hasil pembelajaran dapat dikaji dari 3 faktor yaitu bentuk formal, subtansi, dan aplikasi konsep. Bentuk formal evaluasi meliputi beberapa bentuk diantaranya, bentuk tulis,wawancara dan praktik. Ketiga bentuk tersebut dapat dibagi lebih rinci lagi. Sedangkan dilihat dari objek yang dinilainya bisa dibagi menjadi kognitif dan nonkognitif. Evaluasi hasil belajar harus menanamkan kepada mahasiswa untuk senantiasa meyelesaikan masalah secara ilmah.

Sistem evaluasi yang digunakan di FKUI sekarang ini khususnya di tingkat preklinik adalah tulis dan praktik. Profesi kedokteran adalah profesi yang humanistik. Oleh karena itu, untuk menjadi dokter yang baik maka kemampuan komunikasi verbal, sikap dan tingkah laku serta kemampuan profesional perlu dilatih terus menerus. Salah satu alternatif evaluasinya yaitu melalui tes verbal/wawancara baik perseorangan ataupun melalui diskusi kelompok. Selain melatih komunikasi, tes verbal/wawancara juga dapat melatih dan mengembangkan pola pikir dan kemampuan analisis yang mutlak dimiliki oleh seorang dokter. Hal-hal yang menjadi tolak ukur yaitu kemampuan mahasiswa menganalisis kasus klinis terbatas pada bahan yang dipelajari. Misalnya kita sedang mempelajari tentang biokimia, maka dalam tes tertulis kita ditanya mengenai apa, faktanya seperti apa dan berkaitan dengan pemahaman bidang pengetahuan dan keilmuan. Dalam praktikum kita ditanya mengenai bagaimana dan seperti apa prosesnya. Dalam tes verbal ini, kita ditanya mengenai mengapa, bilamana suatu peristiwa terjadi, dan masalah-masalah yang berkaitan dengan aplikasi kasus-kasus klinis dalam kenyataan kehidupan berkaitan dengan materi yang dipelajari. Konsep ini merupakan salah satu aplikasi teori Accelerated Learning dalam pendidikan kedokteran. Kelebihan lain yaitu melatih sikap, tingkah laku dan kemampuan profesional. Hal ini bila diterapkan tentu akan dapat meningkatkan kualitas pendidikan di FKUI tentunya. Kendalanya adalah masalah waktu dan personil.

Subtansi evaluasi adalah sesuai dengan kompetensi yang harus terpenuhi. Subtansi Ilmu kedokteran adalah pemahaman dan pengetahuan tentang proses-proses dalam tubuh manusia dan berbagai faktor yang mempengaruhinya yang selanjutnya dapat digunakan untuk bahan analisis kasus klinik yang tak terhingga jenis dan macamnya. Setiap materi tentu memiliki kompetensi masing-masing, namun tentu tak akan jauh dari prinsip tersebut. Namun di FKUI sekarang ini belum memenuhi kompetensi itu. Kompetensi di FKUI terutama bagi mahasiswa preklinik, hanya sebatas tahu dan paham. Di John Hopkins School of Medicine, basic science telah dipadukan dengan clinical mentoring.

Ketiga, meskipun bentuk dan subtansinya telah dipandang menunjang kemajuan pendidikan kedokteran, hal itu tidak akan berjalan baik tanpa adanya aplikasi konsep yang baik. Aplikasi konsep berkaitan dengan implementasi kompetensi melalui butir-butir soal yang dibuat. Hal ini berkaitan erat dengan peran staf pengajar sebagai pembuat soal. Ujian yang ideal tentunya memiliki 3 tingkat kesulitan soal yaitu mudah, sedang dan sulit. Kompetensi yang harus dimiliki tentunya harus menjadi prioritas. Perkembangan ini dapat diakibatkan oleh perubahan dan perkembangan kompetensi tiap tahunnya. Disini terlihat peran besar staf pengajar dan departemen-departemen dalam meningkatkan kualitas pendidikan. (bersambung)

Artikel yang Berhubungan:
* Menuju Paradigma Baru Kurikulum Pendidikan Dokter (2)
* Fakultas Kedokteran Baru : Antara Kuantitas dan Kualitas
* Catatan Pendidikan Kedokteran dalam Tinta Sejarah
* Is Only The Rich That Can be a Doctor

Simpan halaman ini dalam PDF?

Post artikel ini di tempat lain?Bookmark and Share

Seluruh artikel di myhealing.wordpress.com dapat Anda perbanyak dan digunakan untuk keperluan apapun, asal tetap mencantumkan sumber URL. Silakan berikan rating untuk artikel ini.

Copyright © 2007 – 2009 Stetoskop. All Rights Reserved.

2 Responses to “Menuju Paradigma Baru Kurikulum Pendidikan Dokter (1)”

  1. Reza Ditya Bramahendra Says:

    Btw di fotonya kok ada taruna ya?

    Acara apa tuh?

  2. prima almazini Says:

    Iya. Itu acara peresmian patung abdulrachman saleh, seorang pilot, pendiri RRI, sekaligus dokter. Jadi acaranya melibatkan FKUI, RRI dan TNI AU.

    Sempat dibahas di
    sini


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: