Pencegahan dan Penanganan Osteoporosis


Osteoporosis adalah penyakit yang ditandai dengan penurunan massa tulang dan pengeroposan tulang. Menurut survey, 25-50% wanita Indonesia berusia di atas 50 tahun mengalami osteoporosis. Pada usia lanjut, risiko fraktur disebabkan osteoporosis mencapai 30%. Angka itu jauh lebih besar daripada risiko timbulnya kanker payudara, yang hanya mencapai 9%. Upaya penanganan osteoporosis meliputi upaya primer dan sekunder. Upaya primer ditujukan untuk mencegah terjadinya osteoporosis atau bagi yang sudah osteoporosis mencegah terjadinya fraktur. Sedangkan upaya sekunder ditujukan untuk mencegah terjadinya fraktur kedua setelah terjadi fraktur yang pertama. Tema ini dibahas dalam salah satu sesi Temu Ilmiah Reumatologi 2008 yang diselenggarakan di Hotel Borobudur, 18-20 April 2008.

Osteoporosis secara sekunder dapat disebabkan oleh steroid. Pada pemakaian prednisone dengan dosis lebih dari 20 mg per hari selama lebih dari 3 bulan dapat menimbulkan risiko terkena osteoporosis. Efek steroid yaitu dapat menurunkan kerja osteoblas, menurunkan produksi gonadotropin, dan menurunkan absorpsi kalsium. Pada pemakai kortikosteroid jangka panjang perlu dilakukan pemeriksaan densitometri. Dr. Bambang Setyohadi SpPD-KR menjelaskan bahwa pada pemakai kortikosteroid jangka panjang dengan T Score Densitometri kurang dari -1 maka hal itu merupakan indikasi untuk diberikan penatalaksanaan osteoporosis. Hal ini diyakini dapat menurunkan risiko terjadinya fraktur.

Pilihan obat untuk osteoporosis yaitu biphosphonate. Mekanisme kerja obat-obat golongan biphosphonate seperti alendronate, ibandronate, pamidronate, risedronate dan zoladronate adalah dengan mengikat mineral tulang dan menghambat enzim Farnesyl Pyrophosphate Synthase (FPPS). Dr. dr. Siti Setiati SpPD KGer MEpid menjelaskan, risedronate memiliki efek yang paling baik karena selain tidak terikat kuat pada mineral tulang sehingga distribusinya menjadi lebih luas, juga poten menghambat enzim FPPS. Semakin kuat penghambatan enzim FPPS maka semakin kuat efek penghambatan kerja osteoklas sehingga menghambat proses pengeroposan tulang. Dosis risedronate untuk pencegahan adalah 5 mg setiap hari atau 35 mg sekali seminggu dan untuk terapi adalah 10 mg setiap hari atau 70 mg sekali seminggu.

Selain terapi medikamentosa, pasien osteoporosis juga diberikan terapi suportif berupa latihan otot untuk mencegah fraktur akibat osteoporosis. Dalam kuliahnya, dr. Muhorini menjelaskan bahwa latihan otot dapat menguatkan tulang . Latihan yang dapat diberikan diantaranya berupa aerobik, latihan tahanan (beban), dan weight bearing. Hal-hal yang perlu diperhatikan yaitu bahwa kekuatan otot setelah pemberian latihan otot harus lebih baik dari kekuatan otot saat ini, kecukupan sumber energi, dan pemilihan tipe serta frekuensi latihan.

Simpan halaman ini dalam PDF?

Post artikel ini di tempat lain?Bookmark and Share

Seluruh artikel di myhealing.wordpress.com dapat Anda perbanyak dan digunakan untuk keperluan apapun, asal tetap mencantumkan sumber URL. Silakan berikan rating untuk artikel ini.

Copyright © 2007 – 2009 Stetoskop. All Rights Reserved.

3 Responses to “Pencegahan dan Penanganan Osteoporosis”

  1. jane Says:

    boleh saya tahu bagian tulang mana saja yang bisa dipakai untuk mengukur osteoporosis? yang cost nya lebih murah?untuk mengetahui osteoporosis, gimana membandingkan dengan yg tidak kena berdasar uji lab apa yg diukur? data kuantitatif maksud saya.
    terima kasih untuk menyajikan website yg interaktif seperti ini.
    jane

  2. tiA Says:

    TiDak aDa perincian…??


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: