BBM Naik, Rakyat Dilarang Sakit?

Setelah kenaikan harga BBM, kerap muncul jargon ‘orang miskin dilarang sakit’. Jargon tersebut timbul akibat semakin tingginya biaya kesehatan yang harus ditanggung masyarakat.

Kenaikan harga BBM baru-baru ini menyebabkan beban ekonomi yang dipikul masyarakat terutama masyarakat miskin semakin berat. Pemerintah memang telah membagikan Bantuan Langsung Tunai (BLT) dan mengklaim telah menjamin kesehatan 76,4 juta jiwa warga miskin lewat program Jamkesmas, namun kenaikan harga BBM tetap berpengaruh terhadap naiknya biaya kesehatan.

Setelah harga BBM naik, harga-harga produk barang dan jasa kian melonjak. Perusahaan farmasi pun kemudian berlomba-lomba menaikkan harga obat, termasuk obat generik, dengan alasan semakin mahalnya bahan baku. Memang departemen kesehatan telah berusaha memberikan insentif kepada perusahaan farmasi yang tidak menaikan harga obat. Akan tetapi, insentif tersebut diperkirakan tidak mampu menutupi biaya produksi dan harga bahan baku obat yang semakin tinggi.

Selain itu, naiknya harga BBM juga membuat para penyedia layanan kesehatan menuntut harga jasa medis yang lebih besar. Hal ini diperparah dengan perilaku dokter dan rumah sakit yang kurang memperhatikan aspek kualitas pelayanan termasuk di dalamnya aspek efisiensi dan efektivitas. Para dokter cenderung tidak selektif dalam menentukan indikasi dan jenis pemeriksaan tambahan yang diperlukan oleh pasien. Sebagai contoh yaitu penggunaan antibiotik yang irrasional dan anjuran untuk melakukan pemeriksaan laboratorium dan penunjang yang berlebihan dengan motif mengejar keuntungan rumah sakit atau institusi kesehatan tertentu. Akibatnya, biaya pengobatan yang harus ditanggung pasien pun semakin melangit.

Peralatan medis seperti ultrasonografi dan alat hemodialisis yang masih diimpor juga berperan terhadap naiknya biaya pelayanan kesehatan. Hal ini diperburuk dengan kurangnya pengawasan dalam alur birokrasi pemerintah. Oknum-oknum dari kalangan kesehatan sendiri seringkali memanfaatkan proyek pengadaan alat kesehatan untuk mengeruk uang negara dan mempertebal kantong pribadinya. Alih-alih semakin menguntungkan pasien, pengadaan alat-alat kesehatan malah semakin memberatkan pasien.

Dampaknya? Kenaikan biaya kesehatan membuat masyarakat terutama masyarakat menengah ke bawah semakin terpuruk. Biaya jasa dokter dan rumah sakit yang semakin mahal, harga obat yang semakin melambung, beban biaya pemeriksaan penunjang, ditambah lagi kalau divonis harus rawat inap dan operasi, menjadi latar belakang mengapa kalangan masyarakat miskin makin sulit menjangkau pelayanan kesehatan yang optimal. Karena biaya yang tidak ramah terhadap rakyat miskin tersebut, muncul jargon ‘orang miskin dilarang sakit’. Kalau hal ini dibiarkan terus berlanjut maka derajat kesehatan masyarakat akan menurun.

Siapakah yang bertanggung jawab untuk mencegahnya? Jawabannya adalah semua pihak. Dalam hal ini, baik pemerintah, penyedia layanan kesehatan, maupun masyarakat punya andil masing-masing. Sebenarnya masalah tersebut akan lebih terkontrol apabila sistem pembiayaan kesehatan di negara kita telah mengunakan sistem prospective payment. Sayangnya, saran konstruktif yang dikemukakan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) beberapa tahun lalu tersebut tak ditindaklanjuti secara serius oleh pemerintah (simak pula : tulisan tentang prospective payment)

Ditinjau dari sudut pandang masyarakat sebagai konsumen, masyarakat perlu mengetahui perilaku berobat yang benar. Pengetahuan tentang kapan harus berobat ke dokter, perlu atau tidak mengonsumsi suplemen dan vitamin, apa yang perlu dipertimbangkan saat memilih rumah sakit, serta kesadaran akan haknya dalam pengambilan keputusan medis, harus diketahui oleh masyarakat. Sebab hal itu dapat membantu menghemat pengeluaran rumah tangga untuk biaya kesehatan.

Sedangkan dokter sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan dituntut untuk menjunjung tinggi profesionalisme-nya. Dokter perlu mempertimbangkan dengan baik setiap tindakan medis yang dilakukan agar selalu berdasarkan indikasi yang jelas serta disesuaikan dengan kondisi, kebutuhan, serta kemampuan pasien.

Tentu kita tak ingin ‘larangan sakit’ jadi bagian dari daftar panjang penderitaan yang dirasakan rakyat miskin di negeri ini. Semoga dibalik semua kesulitan terdapat kemudahan. Kemudahan untuk saudara-saudara kita yang kekurangan. primz,laksmi fkugm

Simpan halaman ini dalam PDF?

Post artikel ini di tempat lain?Bookmark and Share

Seluruh artikel di myhealing.wordpress.com dapat Anda perbanyak dan digunakan untuk keperluan apapun, asal tetap mencantumkan sumber URL. Silakan berikan rating untuk artikel ini.

Copyright © 2007 – 2010 Stetoskop. All Rights Reserved.

7 Responses to “BBM Naik, Rakyat Dilarang Sakit?”

  1. Deddy Andaka Says:

    Tapi tarif dokter umum belum naik kok😉

  2. drsagiran Says:

    semua permasalahan berkaitan dengan bbm yang meroket dan kesulitan rakyat untuk membelinya adalah permasalahan cabang dari sebuah sistem yang mendominasi negeri ini yaitu kapitalis sekuler yang hanya berpihak kepada para pengusaha besar dan negara2 penjajah.sementara rakyat kecil n kita secara pribadi tinggal menunggu waktu untuk mendapatkan kesulitan hidup pada masa yang akan datang.maka untuk keluar dari sistem ini harus dilawan dengan ideologi besar yaitu Islam yang diterapkan dlm institusi negara.

  3. futuh Says:

    Apa yang bisa kita lakukan untuk keluar dari permasalahan kompleks bangsa ini? ganti presiden,ganti parlemenkah!sebagus apa pun orangnya yang memimpin bangsa ini klo masih dalam sistem kapitalis sekuler seperti saat ini pasti akan melahirkan banyak kerusakan.Apa anda yang akan jadi korban berikutnya………….?

  4. futuh Says:

    Dizaman sekarang ini,kemakmuran rakyat indonesia adalah sebuah khayalan yang tak mungkin tercapai.

  5. prima almazini Says:

    @ deddy andaka :
    Semoga saja tidak naik dok🙂

    @ drsagiran :
    Hmm…iya, ada benarnya dok.

    @ futuh :
    Saya kira harapan itu akan selalu ada🙂

  6. puteriq Says:

    he..he..
    kata teman saya, BBM naik malah bisa mengurangi jumlah rakyat miskin. Mau tau kenapa?
    karena pas BBM naik rakyat miskin jadi susah beli makan. terus karena kelaperan…dan orang2 juga dah pada apatis ma keadaan mereka, yang kelaparan pun MENINGGAL DUNIA ==> berkurang 1 rakyat miskin.
    2. saat BBM naik, ada ibu2 rumah tangga yang stress karena suaminya ga bisa ngasih uang belanja sesuai kebituhan. saking stress nya dia nekat bunuh diri. nah ! kan yang miskin berkurang… gimana????
    He..he…
    (eh yg sekarang serius nih…)
    saya sebagai masy awam agak miris melihat beberapa univ yang masang “tarif” yang terlalu besar untuk menebus biaya pendidikan dokter. yaa mending aklo sesuai dg input SDM yang daftar. di univ tertentu, (maaf ni ya…)da yan keterima di FK dengan kualitas yang saya sendiri tahu beliau kurang pantas (maaf lagi ya..).anehnya, yg leih encer kepalanya justru ga bisa diterima karena ngasih sumbangan kelewat “sedikit”. duuh…bener2 miris plus ngeri saya. kalo banyak calon dokter kayak gini, ntar selain mahal bisabisa mal praktik melambung lagi!? nah…tapi saya berdoa mudah2an ja, dokter2 yang qualified (dan idealis alias merakyat dan bertakwa) tetep ada di bumi indonesia tercinta. amin

  7. prima almazini Says:

    @ puteriq :

    Sebenarnya dokter-dokter Indonesia yang qualified itu banyak, hanya jarang dipublikasikan saja =D. Setuju! Saya juga berdoa semoga semakin banyak lagi ya..Amiiin.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: