Menanti Senyum Kaum Perempuan Indonesia

Jaga IGD bagi seorang ko-asisten sepertiku tak lebih dari sebuah rutinitas saja di sela-sela jadwal kuliah kedokteran yang padat. Tapi ada yang berbeda siang itu.

women abuse

Seorang ibu menatap tajam ke arahku. Sinar matanya memantulkan kesedihan sekaligus ketegaran yang sepertinya telah lama menemani waktu-waktu hidupnya. Tak ada gurat sesal di wajahnya. Hanya gurat-gurat keriput yang alamiah muncul saat menjelang usia senja yang tampak di wajahnya. Detik itu aku memberanikan diri bertanya andai saja si ibu membutuhkan bantuanku, karena memang siang itu IGD sepi dan tak ada hal yang harus kukerjakan.

Sejurus kemudian, si ibu pun mulai bercerita. Anak pertamanya mengalami kecelakaan sepeda motor saat hendak pulang ke rumah. Boleh dibilang anak laki-laki satu-satunya itu adalah anak kesayangannya. Kekhawatiran sangat terlihat dari bahasa tubuh dan caranya berbicara. Tanpa terasa tetes demi tetes air matanya jatuh membasahi pakaiannya. Namun ternyata bukan anaknya yang membuatnya menangis.

Sebenarnya si ibu telah lama bercerai dengan ayah kandung anaknya itu. Namun segala perlakuan buruk mantan suaminya tak akan pernah bisa dilupakannya. Sebagai seorang istri, ia merasa tak pernah dihargai oleh suaminya. Ia kerap menjadi pelampiasan kekesalan suaminya. Suaminya tidak pernah menafkahi dirinya dan anak-anaknya. Bahkan penghasilan hasil kerja kerasnya pun digunakan oleh suaminya untuk berselingkuh dengan wanita lain. Tak cukup sampai disitu, satu persatu anak-anaknya dipengaruhi untuk berhenti sekolah dan ikut ayahnya yang entah akan dijadikan apa. Saat ini ia harus berjuang sendiri membesarkan ketiga anaknya. Namun, ia tak pernah berhenti bermimpi untuk menyekolahkan ketiga anaknya setinggi mungkin agar bisa menjadi orang yang sukses suatu saat nanti.

Pikiranku pun melayang. Bisa kubayangkan, sungguh berat perjuangan ibu itu selama ini. Boleh saja orang menyebutnya dengan istilah ‘kekerasan terhadap perempuan’. Namun segala penderitaan dan rasa sakit yang dialami oleh korban kekerasan seperti ibu ini tak akan pernah dapat diwakili dan digambarkan oleh tiga kata itu.

Apa yang terjadi pada ibu itu hanya satu dari ribuan kasus serupa yang mendera perempuan-perempuan Indonesia. Saat ini masih sedikit kasus kekerasan yang terangkat ke permukaan dan ditangani sebagai sebuah tindakan pelanggaran hukum. Sejalan dengan itu, perempuan korban kekerasan di Indonesia pun belum mendapat penanganan tepat baik secara psikologis maupun medis. Begitupula sanksi hukum untuk para pelaku, masih jauh dari yang diharapkan untuk membuat mereka takut dan jera melakukan hal yang sama. Siapa yang bertanggung jawab? Jawabannya tentu semua pihak, baik pemerintah, polisi, dokter, psikolog, maupun masyarakat. Namun sekedar peran tanpa keterpanggilan hati, maka tak akan membuat perbedaan dan perubahan apa-apa. Semoga semakin banyak yang tergugah hatinya, doaku dalam hati. Kapan ya kasus-kasus seperti itu akan ditangani dengan sungguh-sungguh?

“Hey!” Sebuah panggilan membuyarkan lamunanku. Aku pun segera memohon diri pada ibu itu dan beranjak membantu kawan jagaku yang kelihatannya sedang mengalami kesulitan memasang pipa nasogastrik. “Ada yang bisa kubantu?”[prz]

Simpan halaman ini dalam PDF?

Post artikel ini di tempat lain?Bookmark and Share

Seluruh artikel di myhealing.wordpress.com dapat Anda perbanyak dan digunakan untuk keperluan apapun, asal tetap mencantumkan sumber URL. Silakan berikan rating untuk artikel ini.

Copyright © 2007 – 2009 Stetoskop. All Rights Reserved.

4 Responses to “Menanti Senyum Kaum Perempuan Indonesia”

  1. klikharry Says:

    wah..blognya tambah keren aja!!!!
    salut..salut…

  2. almahira Says:

    Hm,,,
    kenapa ya dari kecil saya sering baca kisah seperti ini. tahun 1992-1994, ada majalah kesehatan panasea atau majalah perempuan kartini yang sering mengangkat topik serupa. namun sayang, masih belum banyak yang berubah. mungkin permasalahannya bukan terletak pada kepedulian ataupun tanggung jawab, tetapi bagaimana merubah pola pikir setiap individu.

    selamat ulang tahun yang pertama untuk blognya!!!!

  3. izzah Says:

    ass..kak, gambarnya yang itu aku ambil ya? buat ilustrasi juga…mau digabung2 sama yang laen. hehe…

  4. eta Says:

    terharu bacanya…ya, mari kita menghargai kaum wanita,,kuhsusnya IBU🙂


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: