Program Obat Murah Baru Separuh Jalan

Obat murah. Oh obat murah. Kehadiranmu bak oase di tengah gersangnya gurun pasir. Sayang, percikan kesegarannya belum bisa diteguk oleh semua orang.

obatmurah

Secara global, harga obat di Indonesia terbilang mahal. Harganya mencapai 25%-30% di atas harga rujukan internasional. Padahal sebagian besar penduduk Indonesia adalah rakyat miskin. Dampaknya daya beli masyarakat terhadap obat rendah. Hal ini sudah lama menjadi salah satu dari daftar panjang masalah sistem pelayanan kesehatan di Indonesia.

Namun saat ini, pemerintah telah resmi meluncurkan program obat murah. Obat hasil produksi PT. Indofarma ini dijual dengan harga Rp. 1.000 per strip. Satu strip berisi 5-6 tablet. Dua belas dari dua puluh jenis obat murah tersebut saat ini telah resmi beredar di pasaran. Obat-obat tersebut merupakan obat yang banyak dikonsumsi masyarakat, yaitu obat penurun panas, obat penurun panas anak, obat sakit kepala, obat flu, obat batuk dan flu, obat batuk cair, obat batuk berdahak, obat maag, obat asma, obat tambah darah, obat cacing, dan obat cacing anak.

Respon masyarakat terhadap munculnya obat murah ini beragam. Secara umum ada dua pandangan. Pertama, pihak yang menyambut baik dan mendukung pemerintah. Kedua, pihak yang skeptis dan meragukan kualitas obat murah. Adanya dua kelompok yang berbeda pandangan terhadap program pemerintah ini bukan hal yang baru. Ketika peraturan mengenai obat generik pertama kali diberlakukan, reaksi yang timbul di masyarakat hampir serupa.

Kelompok masyarakat yang meragukan obat murah terlanjur menganggap bahwa obat yang berkualitas adalah obat yang harganya mahal. Sedangkan, obat yang murah selalu diasosiasikan dengan kualitas rendah dan untuk masyarakat miskin. Padahal, tak selamanya obat berkualitas itu mahal, dan tidak pula selalu obat yang harganya murah itu kualitasnya di bawah standar.

elaebo65spTren yang berkembang kemudian ternyata ke arah penggunaan obat generik. Pada tahun 2008, penjualan obat generik mencapai 5 triliun rupiah. Angka itu 2 triliun lebih tinggi dari angka penjualan tahun 2007. Tren positif ini diperkirakan akan diikuti oleh program obat murah. Kenaikan harga BBM serta dampak krisis global yang terjadi baru-baru ini memaksa masyarakat untuk membatasi pengeluaran hingga seminimal mungkin, termasuk biaya untuk berobat. Masyarakat menjadi lebih kritis terhadap obat yang diberikan dokter. Apabila penyakit bisa sembuh dengan obat seharga Rp. 1.000, mengapa harus membeli obat yang lebih mahal?

Respon positif masyarakat belum diimbangi distribusi yang merata. Akses yang masih sulit membuat program obat murah ini seperti sebuah kebijakan yang dijalankan setengah hati. PT. Indofarma selaku distributor tunggal belum bisa menjangkau toko obat kecil dan warung-warung, bahkan yang berada di kota-kota besar. Membayangkan obat ini dapat menjangkau puskesmas pedalaman di Papua, agaknya masih berupa angan-angan.

Bagaimana dengan peran pelayan kesehatan? Kontras. Antusiasme yang tinggi di masyarakat tampaknya belum menghinggapi kalangan pelayan kesehatan sendiri. Kalangan dokter yang turut mempromosikan obat murah masih sangat sedikit. Hal ini ditengarai banyak kalangan dokter yang belum tersentuh sosialisasi obat murah. Akibatnya, dokter belum optimal memberikan edukasi tentang obat murah kepada masyarakat.

Program yang baik di atas kertas, belum tentu baik pula dalam penerapannya. Aksi borong obat murah oleh oknum perusahaan yang merasa tersaingi menjadi salah satu batu sandungan kelancaran program ini. Departemen Kesehatan perlu membuat peraturan yang tegas untuk menanggulangi hal ini. Oleh karena itu, perlu dilakukan pengawasan agar obat murah dapat sampai kepada mereka yang berhak.

Upaya pemerintah untuk meningkatkan taraf kesehatan rakyat melalui program obat murah patut diacungi jempol. Namun jalan tak se-landai yang dibayangkan. Jalan mendaki lagi terjal dan berliku masih terbentang untuk membuat program obat murah benar-benar terasa manfaatnya bagi masyarakat miskin. Sosialisasi, distribusi yang merata, pengawasan ketat, dan ketegasan sikap terhadap oknum yang melanggar peraturan menjadi pekerjaan rumah pemerintah demi menyukseskan program ini. Primz

Artikel yang Berhubungan:
* Provinsi Kepri Menanam Tunas Dokter Keluarga Indonesia
* Mana Promosi Kesehatannya?
* Prospective Payment? Setuju!
* BBM Naik, Rakyat Dilarang Sakit?

Terjemahkan dalam bahasa lain?


Simpan halaman ini dalam PDF?

Post artikel ini di tempat lain? Bookmark and Share

Seluruh artikel di myhealing.wordpress.com dapat Anda perbanyak dan digunakan untuk keperluan apapun, asal tetap mencantumkan sumber URL. Silakan berikan rating untuk artikel ini.

Copyright © 2007 – 2010 Stetoskop. All Rights Reserved.

5 Responses to “Program Obat Murah Baru Separuh Jalan”

  1. almahira Says:

    bingung..

    aku jadi mikir, kira2 perlu berapa tahun sebuah program di negara kita bisa terlaksana dengan baik. beum lagi tiap tahun nama programnya bisa ganti dan benar2 membuat masyarakat bingung.

    “Program yang baik di atas kertas, belum tentu baik pula dalam penerapannya.” –> Indonesia kan memang ahlinya dalam berteori. hehe

  2. azzakky Says:

    masalah obat memang sama ruwetnya dengan kondisi bangsa ini. sering saya berfikir, bener gak siy dunia kedokteran kita sekarang ini. sepertinya kita sekarang sedang dalam kondisi diperah para pengusaha obat. bahkan menurut saya hampir tidak akan mungkin yang namanya obat itu turun. Depkes sendiri terkesan menutup-nutupi tentang perbedaan kwalitas antara obat Generik dengan Obat-obatan merk Paten.
    ada baiknya sekarang kita mencoba kembali menghidupkan pengobatan dengan bahan alami sekitar kita sendiri, celakanya sekarang ini Pengobatan dari alam ini / Herbal belum banyak yang berusaha menjadikannya sebagai suatu alternative obat kedokteran barudan belum banyak diteliti secara ilmiah. Kebanyakan masih mengandalkan Mitos yang banyak salahnya dibandingkan kebenaran khasiatnya.

  3. ddfvghnfdfd Says:

    obat sudah beredar tapi tidak ada sosialisasi. program ini terkesan asal. tanya sama siti fadilah apakah dia juga akan mengkonsumsi `obat murah buat rakyat` seandainya dia sakit?
    apakah ini hanya jalan untuk dapat proyewk besar supaya kalian para pejabat bisa dapat duit dari proyek ini. prgram macam apa itu…kami di daerah terpencil aja tidak pernah dengar….

  4. naun Says:

    saya sudah mempunyai hasi penelitian efektifitas promosi obat indi 1000 pada saat saya PKl di Indofarma. ya banyak orang gak tau obat apaan tuh

  5. prima almazini Says:

    @ naun:

    Nice info. Wah makasih atas informasinya mas..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: