Satu dari Sedikit

Di tengah maraknya kekerasan pada anak, banyak dokter yang menaruh empati. Tetapi hanya sedikit saja yang berperan aktif dalam upaya pencegahan secara nasional. Satu diantaranya terdengar nama Dr. Indra Sugiarno, Sp.A dalam memperjuangkan hak-hak anak.

Dr. Indra”Stop Kekerasan pada Anak”. Demikianlah kalimat yang tertera di spanduk jalanan. Spanduk yang dapat ditemui di beberapa jalan kota-kota besar. Dan bila kita memperhatikan maka juga terpampang nama organisasi yang memiliki gagasan tersebut. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).

Memang tak heran IDAI ikut memperhatikan masalah anak. Termasuk kekerasan pada anak. Akan tetapi dibalik organisasi tersebut tentu terdapat tokoh yang berperan. Ketua Satuan Tugas (satgas) Perlindungan dan Kesejahteraan Anaklah yang disebut-sebut. Tak lain adalah Dr. Indra Sugiarno, Sp.A.

Indra, begitu ia biasa disapa, selain menjadi aktivis yang memperjuangkan hak-hak anak, ia juga aktif sebagai pengajar di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Ia juga yang ikut mempelopori modul pengenalan kekerasan pada anak untuk diajarkan bagi calon dokter umum.

Perenungan dokter kelahiran Indramayu, 6 Maret 1960, ini tentang kekerasan pada anak adalah berawal dari kebiasaan berkunjung ke Departemen Forensik. Hal ini dilakukannya ketika masih menjalani pendidikan dokter spesialisasi anak. Dari perbincangannya dengan dokter-dokter forensik, ia mendapatkan pencerahan. Ia menjadi tertarik untuk menekuni masalah kekerasan pada anak. Kemudian Indra melanjutkan perenungannya menjadi suatu langkah nyata. Setelah menjadi dokter spesialis anak, ia bergabung dengan Departemen Forensik.

Di Forensik, ia berhasil mempelopori juga pendirian Pusat Krisis Terpadu di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo pada tahun 2000. Pusat Krisis Terpadu ini difungsikan untuk menangani korban-korban kekerasan pada anak. Baik secara jalur medis, sosial ataupun hukum secara terpadu.

Tak puas dengan usaha yang dilakukan. Ia mendaftar dan mengikuti seleksi untuk menjadi anggota Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) yang dibentuk pemerintah. Dari 250 orang peminat, ia berhasil masuk urutan 18 besar dengan menyisihkan saingan-saingannya, termasuk salah satunya dosennya sendiri. Namun sayang, ia tidak dapat menjadi anggota karena yang dipilih hanya 9 orang. Walaupun demikian ia masih dapat menyalurkan idealismenya melalui Satgas Perlindungan dan Kesejahteraan Anak yang dibawahinya.

Indra menyadari bahwa budaya kekerasan pada anak itu sudah ada sejak dulu. Iapun mengalaminya. Indra kecil dibesarkan di lingkungan keluarga dengan pendidikan disiplin yang keras. Ayahnya adalah seorang pensiunan tentara. Pendekatan disiplin militer yang ketat sering ikut terbawa ke rumah. Apabila anak dianggap nakal dan melakukan kesalahan, maka si anak diberi hukuman fisik. Mungkin hal itu jugalah yang membuatnya saat ini peduli terhadap masalah kekerasan pada anak. Ia optimis bahwa suatu saat kekerasan pada anak itu dapat dihapuskan dari budaya masyarakat kita.

Optimisme tersebut tergambar dalam cita-cita yang sedang diperjuangkannya saat ini. Indra ingin membentuk institusi pelindungan terhadap kekerasan anak. Institusi ini diharapkan dimotori oleh seorang tokoh nasional. ”Diperlukan tokoh nasional untuk merubah budaya masyarakat” ujarnya. Indra memiliki pandangan bahwa pencegahan kekerasan pada anak harus dilakukan secara sistemik dan berkelanjutan.

Ia berharap dokter-dokter untuk ikut lebih memperhatikan kasus kekerasan pada anak. Apabila menemukan kasus kekerasan, dokter harus melakukan tatalaksana sesuai prosedur yang berlaku. Sehingga masalah kekerasan anak dapat diberantas. Semoga habis gelap timbullah terang. Terang bagi senyum anak-anak kita. Primz, Salma.

(Ingin mengenal lebih dekat dr. Indra Sugiarno, Sp. A(K)? Kunjungi blognya disini.)

Artikel yang Berhubungan:
* Kekerasan pada Anak karena Kurang Edukasi

Simpan halaman ini dalam PDF?

Post artikel ini di tempat lain?Bookmark and Share

Seluruh artikel di myhealing.wordpress.com dapat Anda perbanyak dan digunakan untuk keperluan apapun, asal tetap mencantumkan sumber URL. Silakan berikan rating untuk artikel ini.

Copyright © 2007 – 2009 Stetoskop. All Rights Reserved.

One Response to “Satu dari Sedikit”

  1. Kekerasan pada Anak Karena Kurang Edukasi « Stetoskop Says:

    […] Category: Psychology >> Pola Pembentukkan Sikap dan Perilaku Category: Pediatric >> Satu dari Sedikit Simpan halaman ini dalam […]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: