Peran Laparoskopi pada Pasien Trauma Tembus Abdomen

Penatalaksanaan terhadap trauma tembus abdomen telah mengalami perubahan yang signifikan selama beberapa dekade terakhir. Hal ini ditunjang dengan ditemukannya berbagai macam modalitas diagnostik baru, salah satunya adalah laparoskopi.

Sebelum perang dunia pertama, tatalaksana luka tembus abdomen hanya bersifat ekspektatif. Selama perang dunia kedua, didapatkan bukti bahwa, laparotomi bisa meningkatkan angka harapan hidup. Pada tahun 1950-an, laparotomi sudah menjadi standar dalam penatalaksanaan pasien dengan trauma tembus abdomen. Namun, dalam dua dekade terakhir terjadi pergeseran penanganan pada trauma tembus abdomen. Dahulu dilakukan eksplorasi pada tiap kasus namun sekarang dilakukan pendekatan selektif.

Berdasarkan umur, sebagian besar pasien trauma tembus abdomen berumur antara 20-50 tahun dan berjenis kelamin laki-laki. Penelitian yang dilakukan oleh Chesarkov et al. pada tahun 2008 menunjukkan jumlah pasien trauma tembus abdomen yang berumur 20-50 tahun adalah 62,60%. Allen menunjukkan 75,40% pasien trauma tembus abdomen adalah laki-laki. Perry melaporkan sebanyak 78,00% pasien laki-laki. Didukung pula oleh hasil metaanalisis Siddique et al. Jumlah pasien trauma tembus abdomen yang berjenis kelamin laki-laki yaitu 94,00%. Hal ini disebabkan fakta bahwa perempuan kurang sering terlibat dalam tindakan kekerasan dibandingkan laki-laki.

Penelitian Ivatury et al. di Amerika Serikat, menunjukkan sebagian besar trauma tembus abdomen disebabkan oleh luka tusuk (65,00%). Siddique et al. melaporkan mayoritas pasien trauma tembus abdomen adalah luka tusuk (65,62%). Berdasarkan lokasinya, Ivatury menunjukkan luka pasien, 60,00% di kuadran atas, 25,00 % di kuadran bawah dan flanks, dan 15% di epigastrium. Dilihat dari hasil laparoskopi pada 57 pasien trauma tembus abdomen, Ivatury juga memperlihatkan 64,91% mengalami hemiperitoneum, 29,8% cedera organ berongga, dan 3,59% laserasi diafragma.

Laparotomi versus Laparoskopi

Pada banyak pusat pelayanan kesehatan masih dilakukan laparotomi eksplorasi untuk menangani kasus trauma tembus abdomen. Hal tersebut dilakukan untuk mencegah terjadinya keterlambatan diagnosis, baik pada kasus yang sudah terbukti maupun yang baru dicurigai terdapat cedera rongga peritoneum. Pendekatan ini banyak mendapat penolakan. Insiden timbulnya komplikasi pascalaparotomi nonterapetik sebesar 12-41% dan lama perawatan di rumah sakit berkisar 4-8 hari. Masalah penanganan trauma tembus abdomen masih kontroversial.

Penggunaan laparoskopi sebagai metode diagnostik pada trauma abdomen pertama kali diperkenalkan oleh Gazzaniga pada tahun 1976. Beberapa penelitian telah menganalisis berbagai aspek aplikasinya pada pasien trauma. Pemanfaatan laparoskopi dapat untuk luka tumpul maupun luka tembus. Saat ini, laparoskopi telah mendapat sambutan yang luas sebagai metode diagnostik penatalaksanaan pasien dengan trauma tembus abdomen. Teknik ini telah digunakan untuk mendeteksi luka tembus peritoneum pada luka tangensial dinding abdomen. Ketepatannya dalam menentukan penetrasi peritoneum anterior oleh luka tusuk dan luka tembak telah terbukti akurat.

Penelitian Mutter et al.menunjukkan 22% pasien dilakukan laparotomi (setelah sebelumnya dilakukan laparoskopi) atas indikasi yang tepat yaitu perdarahan intraperitoneal dan laserasi usus besar. Hal ini didukung oleh penelitian Renz yang menunjukkan bahwa laparoskopi mempunyai tingkat akurasi 100% dan dapat mencegah dilakukan laparotomi nonterapetik pada 82% kasus.

Metode laparoskopi efektif dan akurat untuk digunakan sebagai alat diagnostik dan terapi pada pasien dengan trauma tembus abdomen. Akurasi laparoskopi dalam mendeteksi hemoperitoneum, cedera organ berongga, dan laserasi diafragma terbukti sangat baik. Penggunaan laparoskopi untuk evaluasi luka tembus abdomen bukan tanpa kekurangan. Pada banyak penelitian, didapatkan false negatif terutama untuk luka di usus besar. Laparoskopi juga memiliki keterbatasan dalam mengevaluasi luka di retroperitoneal. Laparoskopi dilaporkan masih jarang digunakan dalam penanganan trauma abdomen. Namun, dengan seleksi yang hati-hati, laparoskopi memberi manfaat pada pasien karena minimal invasif dan menurunkan tingkat morbiditas akibat laparotomi yang tidak perlu. [primz]

Sumber :

1. Maxey KJ, Bjerke HS. Penetrating abdominal trauma. Emedicine. 2010.
2. Butt MU, Zacharias N, Velmahos GC. Penetrating abdominal injuries: management controversies. Scandinavian Journal of Trauma, Resuscitation and Emergency Medicine 2009, 17:19doi:10.1186/1757-7241-17-19
3. Abdulrahman M.S, Mishra R.K. The role of laparoscopy in the diagnosis and treatment of abdominal trauma.
4. Abdominal trauma
evaluation of penetrating abdominal trauma. Available from: http://www.trauma.org/archive/abdo/penetrating.html
5. Krausz M.M et al. Laparoscopic diagnostic peritoneal lavage (L-DPL): A method for evaluation of penetrating abdominal stab wounds. World Journal of Emergency Surgery 2006, 1:3doi:10.1186/1749-7922-1-3
6. Renz BM, Feliciano DV. The length of hospital stay after an unnecessary laparotomy for trauma: a prospective study. J Trauma. 1996;40:187–190.
7. Ivatury RR, Simon RJ, Stahl WM. A critical evaluation of laparoscopy in penetrating abdominal trauma. J Trauma. 1993 Jun;34(6):822-7
8. Chesarkov et al. Laparoscopy versus laparotomy in management of abdominal trauma . Surgical Endoscopy Journal 22: 1. January 2008.
9. Allen RB, Curry AS. Abdominal trauma: a study of 297 consecutive cases. Am J Surg 1957; 93; 398-404.
10. Perry JF. A five-year survey of 152 abdominal injuries. J Trauma 1965; 5: 53-61.
11. M A B Siddique1, M K Rahman2, A B M A Hannan. Study on abdominal injury: an analysis of 50 cases. TAJ 2004; 17(2): 84-88
12. Fabian TC, Croce MA.Abdominal trauma, including indications for celiotomy. In: MattoxKL, FelicianoDV, MooreEE, editors. Trauma New York: McGraw-Hill Companies; 2000. p. 1583-602
13. Mutter D., Nord, M., Vix M., Evrard S., Marescaux, J. Laparoscopy in the Evaluation of Abdominal Stab Wounds.
Surg 1997;14:39-42

Simpan halaman ini dalam PDF?

Post artikel ini di tempat lain?Bookmark and Share

Seluruh artikel di myhealing.wordpress.com dapat Anda perbanyak dan digunakan untuk keperluan apapun, asal tetap mencantumkan sumber URL. Silakan berikan rating untuk artikel ini.

Copyright © 2007 – 2010 Stetoskop. All Rights Reserved.

One Response to “Peran Laparoskopi pada Pasien Trauma Tembus Abdomen”

  1. saut Says:

    thanks for the text..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: