Menyikapi Perbedaan untuk Kemajuan

Perbedaan itu indah. Perbedaan adalah guru sekolah yang mengajarkan pelajaran tentang kehidupan. Perbedaanlah yang membuat hidup menjadi lebih hidup.



Suatu komunitas tidak selalu terdiri dari unsur yang homogen. Bahkan dalam kenyataannya suatu komunitas selalu heterogen. Pada masa sekarang ini komposisi heterogenlah yang umum ada di setiap komunitas karena zaman semakin maju dan telah membawa kita ke era globalisasi. Setiap individu dapat berinteraksi dengan individu lainnya tanpa ada batas ruang dan waktu. Begitupula kemajuan teknologi telah memudahkan proses mobilisasi dari satu tempat ke tempat lainnya, sehingga kita semakin heterogen.

Suatu bangsa dapat terbentuk dari persamaan sejarah yang sama, misalnya bangsa Amerika yang terdiri dari orang–orang Inggris yang bermigrasi ke sana dan mengalami perang serta berbagai kejadian yang membuat mereka mendeklarasikan berdirinya negara Amerika. Negara Indonesia pun dibentuk karena kesamaan sejarah perjuangan walaupun didukung pula oleh kesamaan wilayah. Dilihat dari komposisi ras dan suku sebenarnya Indonesia itu heterogen. Bagian barat lebih kuat pengaruh Asia dan bagian Timur lebih kuat pengaruh Australia atau Asia Pasifik. Namun, karena adanya persamaan sejarah dari mulai kerajaan Majapahit dan Sriwijaya sampai Penjajahan Belanda hingga kemerdekaan, ada dasar yang kuat untuk mendirikan suatu negara.

Adanya persamaan memang faktor mutlak untuk suatu persatuan. Namun karena tidak ada di dunia ini individu yang persis sama maka persamaan di sini dipandang dengan lebih luas dalam konteks persatuan. Persatuan terdiri dari unsur persamaan dan perbedaan. Hal tersebut merupakan hal umum dimanapun. Persamaan yang ada menimbulkan adanya toleransi untuk menghargai perbedaan. Di dalam suatu komunitas pun selalu terdapat persamaan dan perbedaan dalam berbagai hal.

Kita lihat dalam konteks masyarakat, masyarakat merupakan sekumpulan orang yang hidup bersama dalam suatu tempat yang saling berinteraksi satu sama lain. Interaksi antarmanusia dalam masyarakat disebut interaksi sosial. Interaksi sosial menimbulkan apa yang disebut problem sosial. Problem sosial dalam masyarakat terjadi karena adanya benturan kepentingan satu sama lain sebagai akibat wajar dari suatu heterogenitas. Masyarakat tersusun dari komposisi yang heterogen baik dilihat dari agama, tingkat strata sosial, profesi, kedudukan, pangkat, jabatan, harta, dan lain-lain. Hal itu menyebabkan adanya perbedaan kepentingan yang menimbulkan perbedaan pandangan. Hal itu akan nyata terjadi dalam rapat-rapat atau musyawarah-musyawarah dalam memutuskan sesuatu yang berkaitan dengan khalayak ramai.

Dalam konteks negara akan lebih nyata lagi adanya perbedaan pandangan dalam masyarakat. Misalnya, masalah kenaikan harga tarif dasar listrik yang tetap diberlakukan pemerintah meskipun banyak pihak yang menentang. Setelah pemerintah resmi memberlakukan maka bermunculanlah gelombang aksi menentang kenaikan harga tarif dasar listrik tersebut, meskipun dilain pihak banyak para pakar dan LSM yang mendukung keputusan pemerintah. Hal itu adalah bukti adanya perbedaan-perbedaan yang nyata di dalam masyarakat dalam menanggapi suatu keputusan yang menyangkut kepentingan orang banyak.

Perbedaan pandangan dalam masyarakat itu nyata. Namun, adanya kesamaan tujuan yang sama menimbulkan toleransi terhadap perbedaan yang ada. Persamaan pandangan akan urgensi kepentingan yang lebih besar selalu menyatukan perbedaan dan benturan kepentingan akibat kepentingan yang lebih kecil. Kesamaan pandangan memiliki manfaat untuk mewujudkan kebersamaan dalam masyarakat dan perbedaan pandangan pun memperkuat persatuan karena merupakan wujud nyata saling melengkapi dan saling mengisi. [primz]

Sumber:
1. Gambar diambil dari: http://livewithpurposecoaching.com/

(Artikel ini diikutsertakan dalam Lomba Menulis di Baltyra.com)

Artikel yang Berhubungan:
* Nasionalisme di Mata Saya

Simpan halaman ini dalam PDF?

Post artikel ini di tempat lain? Bookmark and Share

Seluruh artikel di myhealing.wordpress.com dapat Anda perbanyak dan digunakan untuk keperluan apapun, asal tetap mencantumkan sumber URL. Silakan berikan rating untuk artikel ini.

Copyright © 2007 – 2010 Stetoskop. All Rights Reserved.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: