Perbandingan Manfaat Warfarin dan Aspirin pada Pasien Gagal Jantung dengan Irama Sinus

Aspirin

Gagal jantung kronik adalah penyebab utama kesakitan dan kematian. Gagal jantung dihubungkan dengan keadaan hiperkoagulasi, pembentukkan trombus ventrikel kiri, dan emboli serebral. Gagal jantung juga dihubungkan dengan kematian mendadak dan kematian yang disebabkan oleh gagal jantung progresif karena aterorombosis. Oleh sebab itu, adalah rasional menggunakan antikoagulan untuk mengobati pasien dengan gagal ginjal kronik dengan irama sinus. Namun, peran antikoagulan dibandingkan aspirin belum dibuktikan pada pasien dengan gagal jantung kronik.

Penelitian terdahulu memperlihatkan bahwa antikoagulan mengurangi angka kejadian emboli dan kematian. Namun penelitian tersebut dilakukan pada pasien fibrilasi atrial dan penyakit katup valvular. Dalam analisis data dari penelitian retrospektif yang melibatkan pasien dengan penurunan ejeksi fraksi ventrikel kiri, ditemukan hasil yang berbeda. Sayangnya penemuan ini nilainya terbatas karena penggunaan antikoagulan tidak diacak serta data dikumpulkan secara retrospektif, sehingga hasil akhirnya tidak dapat dijadikan standar. Selain itu, pasien dengan fibrilasi atrial ikut disertakan.

Warfarin

Beberapa penelitian prospektif membandingkan antikoagulan oral dengan aspirin dianggap terlalu kecil untuk memberikan bukti mengenai keunggulan salah satu agen tersebut. Pada Heart Failure Long-Term Antithrombotic Study (HELAS), 197 pasien diberi warfarin, aspirin atau plasebo secara acak. Hasilnya tidak ada perbedaan signifikan pada kelompok tersebut dalam insiden emboli. Pada Warfarin/Aspirin Study in Heart Failure (WASH), 279 pasien diberikan warfarin, aspirin, atau plasebo secara acak. Hasilnya tidak terdapat perbedaan signifikan pada kelompok dalam hasil akhir tingkat kematian, stroke atau infark miokardial. Namun, tingkat perawatan di rumah sakit lebih tinggi pada pasien yang mendapatkan aspirin.

The Warfarin and Antiplatelet Therapy in Chronic Heart Failure trial (WATCH), yang merupakan penelitian paling besar dan paling baru. Penelitian ini melibatkan 1587 pasien yang diberikan warfarin, aspirin, atau clopidogrel secara acak, dengan periode tindak lanjut rata-rata 1,9 tahun. Hasil percobaan ini, yang telah diakhiri lebih awal karena kesulitan dalam rekrutmen, memperlihatkan bahwa terdapat pengurangan angka stroke iskemik dengan warfarin dibandingkan dengan aspirin tetapi diperoleh peningkatan angka perawatan di rumah sakit untuk gagal jantung lebih tinggi pada kelompok aspirin dibandingkan dengan kelompok warfarin.

Penelitian lainnya yang diberi nama The Warfarin versus Aspirin in Reduced Cardiac Ejection Fraction (WARCEF) telah dibuat untuk membandingkan antara efektivitas dan keamanan warfarin dengan aspirin pada pasien dengan jumlah banyak, dengan metode acak dan double blind. Percobaan WARCEF telah dirancang untuk menentukan apakah warfarin atau aspirin yang lebih baik untuk terapi pasien dengan penurunan ejeksi fraksi ventrikel kiri dengan irama sinus. Penelitian sebelumnya merupakan penelitian retrospektif dan kurang cukup kuat untuk menjawab pertanyaan ini. Hasilnya, belum ada bukti yang cukup yang mendukung rekomendasi terapi menggunakan warfarin atau aspirin pada pasien ini. Penelitian memperlihatkan tidak ada perbedaan signifikan antara warfarin dengan aspirin. Meskipun warfarin memberikan manfaat yang minimal pada pasien yang ditindaklanjuti hingga empat tahun atau lebih, tingkat signifikansi warfarin tidak jelas. Didapatkan manfaat yang signifikan dan konsisten dari warfarin dibandingkan dengan aspirin dalam hal pencegahan stroke iskemik selama periode tindak lanjut.

Kesimpulannya, penelitian memperlihatkan secara umum tidak ada perbedaan signifikan antara warfarin dan aspirin dalam hal insiden kematian, stroke iskemik atau perdarahan intraserebral. Namun, pada pasien yang diikuti sampai 4 tahun atau lebih, terdapat manfaat yang kecil atau signifikansi yang kecil dengan warfarin. Warfarin dihubungkan dengan penurunan risiko stroke iskemik selama periode tindak lanjut. Karena warfarin tidak memberikan manfaat yang signifikan dan dihubungkan dengan peningkatan risiko perdarahan, tidak ada alasan untuk menggunakan warfarin dibandingkan aspirin pada pasien dengan penurunan ejeksi fraksi ventrikel kiri dengan irama sinus.

Sumber:

1. Shunichi Homma, M.D., et al. Warfarin and aspirin in patients with heart failure and sinus rhythm [citated May 20, 2012]. N Engl J Med 2012; 366:1859-1869May 17, 2012. Available from: http://www.nejm.org/doi/full/10.1056/NEJMoa1202299#Background=&t=articleBackground
2. Gambar diambil dari: http://images.jagran.com/aspirin-b-4-5-2012.jpg dan http://www.topnews.in/health/files/Warfarin-Users-More.jpg

Simpan halaman ini dalam PDF?

Post artikel ini di tempat lain? Bookmark and Share

Seluruh artikel di myhealing.wordpress.com dapat Anda perbanyak dan digunakan untuk keperluan apapun, asal tetap mencantumkan sumber URL. Silakan berikan rating untuk artikel ini.

Copyright © 2007 – 2012 Stetoskop. All Rights Reserved.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: