Strategi Tidak Memberikan Tranfusi Platelet Profilaksis pada Kanker Hematologi

Transfusi platelet pada pasien multipel mieloma

Pada pasien dengan kanker hematologi, trombositopenia berat sering terjadi karena konsekuensi penyakit atau terapinya. Sebagian besar transfusi platelet diberikan sebagai profilaksis untuk meningkatkan hitung platelet yang rendah atau untuk mengurangi risiko perdarahan. Namun, kapan transfusi platetet profilaksis ini bermanfaat pada pasien dengan trombositopenia berat masih belum jelas. Percobaan terbaru menunjukkan bahwa aturan pemberian transfusi platelet hanya sebagai terapi perdarahan mungkin menjadi standar baru pelayanan pada pasien tertentu, meskipun hasil akhir primer adalah penurunan jumlah transfusi platelet, bukan keluaran klinis seperti perdarahan.

Peneliti melakukan percobaan terkontrol acak untuk menilai apakah aturan tidak melakukan transfusi platelet profilaksis noninferior terhadap transfusi platelet profilaksis dengan mempertimbangkan frekuensi perdarahan, pada ambang hitung platelet kurang dari 10×109 per liter yang merepresentasikan standar terbaru untuk pasien dengan kanker hematologi.

Peneliti melakukan percobaan kelompok paralel, acak, pada 14 senter hematologi di United Kingdom dan Australia. Objektif primer adalah untuk menentukan apakah tidak memberikan transfusi platelet sebagai profilaksis perdarahan klinis adalah aman dan efektif. Perdarahan klinis didefinisikan sebagai perdarahan WHO derajat 2 atau lebih tinggi, hingga 30 hari setelah randomisasi. Sistem derajat WHO adalah penilaian yang paling sering digunakan untuk menilai tingkat kejadian perdarahan pada percobaan transfusi platelet. Pada sistem WHO, episode perdarahan dikategorisasikan derajat 1 (ringan), derajat 2 (moderat, transfusi sel darah merah tidak diperlukan segera), derajat 3 (berat, membutuhkan transfusi sel darah dalam 24 jam), atau derajat 4 (mengancam nyawa).

Pasien yang memenuhi syarat adalah yang berusia 16 tahun atau lebih tua yang sedang menjalani kemoterapi atau transplantasi stem sel untuk mengobati kanker hematologi dan yang mengalami atau diharapkan akan mengalami trombositopenia (hitung platelet < 50×109 per liter) paling sedikit 5 hari. Kriteria ekslusi adalah riwayat perdarahan WHO derajat 3 atau 4 sebelumnya, episode perdarahan WHO derajat 2 selama perawatan, hemostatis yang diturunkan atau kelainan trombosis, membutuhkan dosis terapetik agen antikoagulan, diagnosis leukemia promielotik akut, diketahui antibodi HLA, atau randomisasi sebelumnya pada percobaan ini.

Pasien diacak untuk menerima transfusi platelet profilaksis atau tanpa profilaksis, jika hitung platelet kurang dari 10×109 per liter. Pada kelompok profilaksis, dosis tunggal dewasa diberikan pada hari yang sama saat hitung platelet kurang dari 10×109 per liter. Aturan terapi berlaku 30 hari setelah randomisasi, tanpa melihat apakah pasien dirawat ataupun tidak.

Pada kedua kelompok percobaan, transfusi platelet diberikan untuk terapi perdarahan, diberikan sebelum prosedur invasif atau diberikan berdasarkan kewenangan klinisi (rasionalisasi dicatat). Transfusi platelet terapetik untuk episode perdarahan WHO derajat 2 dberikan pada praktik standar, diikuti oleh transfusi platelet profilaksis per protokol jika diindikasikan. Pasien yang perdarahan WHO derajat 3 atau 4 selama penelitian menerima transfusi platelet berdasarkan kewenangan klinisi. Pasien ini tidak menerima terapi berdasarkan protokol tetapi penilaian dilanjutkan sampai 30 hari setelah randomisasi. Jenis komponen platelet tidak ditentukan.

Diskusi

Pada penelitian ini, kejadian perdarahan WHO derajat 2, 3, atau 4 lebih banyak terjadi pada kelompok yang tidak diberi profilaksis daripada pada kelompok profilaksis, dengan peningkatan signifikan pada jumlah hari kejadian perdarahan WHO derajat 2, 3, dan 4 dan penurunan waktu kejadian perdarahan pertama WHO derajat 2,3, dan 4. Sebenarnya seluruh episode perdarahan merupakan WHO derajat 2, hanya 7 dari 600 pasien dalam penelitian yang mengalami kejadian perdarahan WHO derajat 3 atau 4. Lebih banyak pasien dari kelompok tanpa profilaksis yang mengalami kejadian perdarahan 3 atau 4 tetapi perbedaan ini tidak signifikan.

Hasil penelitian ini mendukung kebutuhan untuk melanjutkan profilaksis dengan transfusi platelet dan memperlihatkan manfaat profilaksis tersebut untuk mengurangi perdarahan, dibandingkan dengan tanpa profilaksis. Namun, meskipun pasien yang menerima transfusi platelet profilaksis mengalami perdarahan yang lebih sedikir secara umum, tingkat kejadian perdarahan derajat 2,3, dan 4 masih tinggi pada kelompok ini (43 %).

Sebagian besar partisipan penelitian menjalani transplantasi stem sel autolog. Di antara pasien, tingkat kejadian perdarahan WHO derajat 2, 3, dan 4 sama pada dua kelompok penelitian. Hasil ini berbeda dengan beberapa penelitian terbaru yang memperlihatkan tingkat perdarahan WHO derajat 2 lebih tinggi pada pasien tanpa profilaksis yang menjalani transplantasi stem sel. Dengan penemuan ini, peneliti menganjurkan strategi ‘hanya terapetik’ transfusi yang menjadi standar pelayanan pasien pada beberapa senter. Penelitian ini tidak menjawab pertanyaan apakah strategi transfusi platelet profilaksis pada pasien yang menjalani transplantasi autolog efektif dan aman. Strategi tersebut memerlukan penelitian lebih lanjut.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa transfusi platelet profilaksis mengurangi tingkat kejadian perdarahan pada pasien dengan kanker hematologi. Proporsi pasien yang mengalami kejadian perdarahan WHO grade 2,3, atau 4 berkurang 7% pada seluruh kelompok yang menerima transfusi platelet profilaksis.

Sumber:
1. Stanworth S, et al. A no-prophylaxis platelet-transfusion strategy for hematologic cancers [citated May 2, 2013]. N Engl J Med 2013; 368:1771-1780. Available from: http://www.nejm.org/doi/full/10.1056/NEJMoa1212772#t=articleTop
2. Gambar diambil dari http://jmmultiplemyeloma.blogspot.com/2012/03/labs-plummet-and-platelet-transfusion.html

Simpan halaman ini dalam PDF?

Post artikel ini di tempat lain? Bookmark and Share

Seluruh artikel di myhealing.wordpress.com dapat Anda perbanyak dan digunakan untuk keperluan apapun, asal tetap mencantumkan sumber URL. Silakan berikan rating untuk artikel ini.

Copyright © 2007 – 2013 Stetoskop. All Rights Reserved.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: