SHARE : Blog Dokter Keluarga Desa Batu Belah Siantan Timur

blog pustu

Guna berbagi dan pengalaman menjadi dokter keluarga di daerah terpencil, saya membuat blog dengan alamat:

Saran, feedback, tanggapan, balasan, dan sharing dapat dituangkan disana. Semoga ada manfaatnya! ☺

Simpan halaman ini dalam PDF?

Post artikel ini di tempat lain? Bookmark and Share

Seluruh artikel di myhealing.wordpress.com dapat Anda perbanyak dan digunakan untuk keperluan apapun, asal tetap mencantumkan sumber URL. Silakan berikan rating untuk artikel ini.

Copyright © 2007 – 2011 Stetoskop. All Rights Reserved.

Menyikapi Perbedaan untuk Kemajuan

Perbedaan itu indah. Perbedaan adalah guru sekolah yang mengajarkan pelajaran tentang kehidupan. Perbedaanlah yang membuat hidup menjadi lebih hidup.



Suatu komunitas tidak selalu terdiri dari unsur yang homogen. Bahkan dalam kenyataannya suatu komunitas selalu heterogen. Pada masa sekarang ini komposisi heterogenlah yang umum ada di setiap komunitas karena zaman semakin maju dan telah membawa kita ke era globalisasi. Setiap individu dapat berinteraksi dengan individu lainnya tanpa ada batas ruang dan waktu. Begitupula kemajuan teknologi telah memudahkan proses mobilisasi dari satu tempat ke tempat lainnya, sehingga kita semakin heterogen.

Read Article »

Nasionalisme di Mata Saya

“In-do-ne-sia dug..dug..dug..tak dug..dug. In-do-ne-sia dug..tak..dug..tak..dug..dug.” Kalau nasionalisme diukur dari berapa banyak menyebut kata Indonesia dan seberapa sering mengibarkan merah putih, maka tak ada yang lebih nasionalis daripada para suporter sepakbola.

bendera merah putih

Saya adalah seorang mahasiswa perantau. Sudah 4 tahun saya tinggal di kota rantauan. Namun saya tak akan pernah lupa berbagai kebiasaan di kampung halaman saya. Rumah saya terletak di pusat kota. Kami tinggal satu keluarga terdiri dari ibu dan 4 orang anak. Salah satunya, saya, anak paling sulung.

Salah satu kebiasaan yang saya ingat adalah tentang bendera merah putih. Saya selalu terkenang saat ibu saya menyuruh mencari bendera merah putih menjelang hari kemerdekaan tiba. “Cari di gudang ya nak,“ pintanya. Bendera itu berdebu terjepit di antara benda-benda tak terpakai lainnya seperti buku-buku sekolah bekas dan kardus bekas TV. Ukuran benderanya pun tidak sama dengan ukuran bendera standar seperti yang saya pelajari di pelajaran PPKN. Keluarga kami tidak ada keturunan dari tokoh nasionalis seperti bung Karno ataupun Ki Hajar Dewantara, tidak ada pula yang veteran pejuang 45, aktivis partai, apalagi calon presiden. Kami tidak begitu peduli dengan tetek bengek perayaan kemerdekaan. Gembar-gembor Ketua RT di TOA mesjid adalah satu-satunya alasan keluarga kami memasang bendera merah putih di depan rumah.

Read Article »

Menanti Senyum Kaum Perempuan Indonesia

Jaga IGD bagi seorang ko-asisten sepertiku tak lebih dari sebuah rutinitas saja di sela-sela jadwal kuliah kedokteran yang padat. Tapi ada yang berbeda siang itu.

women abuse

Seorang ibu menatap tajam ke arahku. Sinar matanya memantulkan kesedihan sekaligus ketegaran yang sepertinya telah lama menemani waktu-waktu hidupnya. Tak ada gurat sesal di wajahnya. Hanya gurat-gurat keriput yang alamiah muncul saat menjelang usia senja yang tampak di wajahnya. Detik itu aku memberanikan diri bertanya andai saja si ibu membutuhkan bantuanku, karena memang siang itu IGD sepi dan tak ada hal yang harus kukerjakan.

Sejurus kemudian, si ibu pun mulai bercerita. Anak pertamanya mengalami kecelakaan sepeda motor saat hendak pulang ke rumah. Boleh dibilang anak laki-laki satu-satunya itu adalah anak kesayangannya. Kekhawatiran sangat terlihat dari bahasa tubuh dan caranya berbicara. Tanpa terasa tetes demi tetes air matanya jatuh membasahi pakaiannya. Namun ternyata bukan anaknya yang membuatnya menangis.

Read Article »