[NOTES] Artikel Stetoskop Dimuat di Majalah CDK Edisi Mei 2013

Majalah Cermin Dunia Kedokteran Edisi 204 yang membahas mengenai Penyakit Dalam telah terbit pada bulan Mei 2013. Salah satu artikelnya yang berjudul Omalizumab untuk Terapi Urtikaria Idiopatik Kronik atau Spontan merupakan artikel blog Stetoskop bulan April 2013.

Copyright © 2007 – 2013 Stetoskop. All Rights Reserved.
Advertisements

Strategi Tidak Memberikan Tranfusi Platelet Profilaksis pada Kanker Hematologi

Transfusi platelet pada pasien multipel mieloma

Pada pasien dengan kanker hematologi, trombositopenia berat sering terjadi karena konsekuensi penyakit atau terapinya. Sebagian besar transfusi platelet diberikan sebagai profilaksis untuk meningkatkan hitung platelet yang rendah atau untuk mengurangi risiko perdarahan. Namun, kapan transfusi platetet profilaksis ini bermanfaat pada pasien dengan trombositopenia berat masih belum jelas. Percobaan terbaru menunjukkan bahwa aturan pemberian transfusi platelet hanya sebagai terapi perdarahan mungkin menjadi standar baru pelayanan pada pasien tertentu, meskipun hasil akhir primer adalah penurunan jumlah transfusi platelet, bukan keluaran klinis seperti perdarahan.

Read Article »

Omalizumab untuk Terapi Urtikaria Idiopatik Kronik atau Spontan

Urtikaria

Urtikaria idiopatik kronik (disebut juga urtikaria spontan kronik) adalah urtikaria yang gatal hingga 6 minggu, dengan atau tanpa angioedema dan tanpa adanya pemicu eksternal. Kondisi tersebut berlanjut hingga 1 sampai 5 tahun (bertahan lebih dari 5 tahun pada 11-14% pasien) dan berdampak buruk pada emosi pasien dan kualitas hidup yang berkaitan dengan kesehatan fisik. Gangguan yang berhubungan dengan kelainan ini sering disamakan dengan pasien dengan penyakit jantung iskemik. Pasien merasakan kurang energi, isolasi sosial, dan emosi yang meningkat sama dengan mereka yang menderita penyakit jantung. Antihistamin H1 nonsedasi adalah terapi awal dan agen satu-satunya yang telah diberi lisensi untuk digunakan pada pasien dengan urtikaria idiopatik kronik. Namun, sebagian besar pasien tidak berrespon terhadap antihistamin H1, bahkan saat obat tersebut diberikan tiga atau empat kali dari dosis yang dilisensikan.

Pilihan terapi untuk pasien yang tidak berrespon pada antihistamin H1 termasuk penggunaan antihistamin H2, antagonis reseptor leukotrien, glukokortikoid sistemik, siklosporin, hidroksiklorokuin, dapson, metrotreksat, sulfasalazin, dan imunoglobulin intravena. Tidak satupun agen-agen tersebut yang telah disetujui untuk terapi urtikaria idiopatik kronik. Sebagai tambahan, data pendukung untuk penggunaan obat-obat ini terbatas, dan penggunaan jangka panjang beberapa agen ini dapat dihubungkan dengan efek samping bermakna.

Read Article »

[NOTES] Artikel Stetoskop Dimuat di Majalah CDK Edisi Maret 2013

Majalah Cermin Dunia Kedokteran Edisi 196 yang membahas mengenai Anak telah terbit pada bulan Maret 2013. Salah satu artikelnya yang berjudul Efek Pemasangan Balon Intraaorta Pasien Infark Miokard dengan Syok Kardiogenik merupakan artikel blog Stetoskop bulan November 2012. Penulis mendapatkan bingkisan berupa tas mini, flash disk 8 GB, dan 3 eksemplar majalah CDK.

IMG-20130413-00154

Copyright © 2007 – 2013 Stetoskop. All Rights Reserved.

Terapi Bedah Dini Mengurangi Angka Kematian Pasien Endokarditis Infektif

Meskipun telah dicapai kemajuan dalam hal terapi bedah dan medis, endokarditis infektif masih menjadi penyakit serius yang menyebabkan kematian dan morbiditas. Peran bedah pada terapi endokarditis infektif telah dipakai secara luas dan panduan terkini merekomendasikan terapi bedah untuk endokarditis infektif dan gagal jantung kongestif, Penelitian ini dibuat untuk membandingkan hasil keluaran bedah dini dengan terapi konvensional berdasarkan panduan terkini untuk pasien endokarditis infektif dengan risiko tinggi emboli.

Read Article »

Aspirin Mencegah Kekambuhan Tromboemboli Vena

Tablet aspirin

Risiko terjadinya kekambuhan pada pasien dengan tromboemboli vena berlangsung selama bertahun-tahun setelah terapi antikoagulan dihentikan. Risiko tinggi terutama pada pasien dengan tromboemboli vena yang tidak diprovokasi, sekitar dua puluh persennya mengalami kekambuhan dalam 2 tahun setelah terapi dengan antagonis vitamin K dihentikan. Terapi dengan agen ini mengurangi risiko kekambuhan tetapi dihubungkan dengan peningkatan risiko perdarahan.

Peran aspirin pada pencegahan primer tromboemboli telah dievaluasi pada berbagai kondisi di klinik. Pada sebuah penelitian, aspirin dihubungkan dengan pengurangan risiko kekambuhan sekitar 20-50%. Manfaat potensial dari terapi antiplatelet pada pencegahan sekunder tromboemboli vena menjadi sebuah kesimpulan dari hasil sebuah penelitian acak yang melibatkan hanya 39 pasien tersebut.

Read Article »

Efek Pemasangan Balon Intraaorta pada Pasien Infark Miokard dengan Syok Kardiogenik

Tingkat kematian pada pasien-pasien dengan syok kardiogenik sebagai komplikasi infark miokard akut cukup tinggi bahkan setelah dilakukan revaskularisasi dini dengan percutaneous coronary intervention (PCI) atau coronary artery bypass grafting (CABG)

Intraaortic balloon counterpulsation adalah bentuk bantuan hemodinamik yang paling sering diberikan pada pasien infark miokard akut dengan komplikasi syok kardiogenik. Berdasarkan panduan Eropa dan Amerika Serikat, penggunaan balon intraaorta pada terapi syok kardiogenik diklasifikasikan kelas IB dan IC. Namun, bukti ilmiahnya hanya diambil dari rekam medis dan masih kurang percobaan acak yang mendukung. Metaanalisis yang dimasukkan hanya penelitian kohort yang menyatakan bahwa penggunaan pompa balon intraaorta dihubungkan dengan penurunan sebesar 11% risiko kematian.

Pada penelitian penggunaan pompa balon intraaorta pada syok kardiogenik (IABP-SHOCK) yang melibatkan hanya 45 pasien, tidak ada perbedaan signifikan yang ditemukan dalam hal keparahan penyakit (dengan menggunakan skor APACHE II) antara pasien yang diberikan IABP dengan kelompok kontrol yang menerima pelayanan standar, meskipun kadar BNP serial menurun secara signifikan pada kelompok IABP. Bukti yang tidak meyakinkan tersebut mungkin menjadi penjelasan mengapa penggunaan IABP hanya 25-40% dari pasien dengan syok kardiogenik, tidak sesuai dengan yang direkomendasikan.

Read Article »