Sejarah Pembuatan Vaksin

“Vaksin” berasal dari kata vacca yang berarti sapi. Penemuan vaksin telah mencegah kesakitan bahkan kematian jutaan orang di seluruh dunia.

Edward Jenner sedang menyuntikkan vaksin

Dunia sudah selayaknya mengucapkan terima kasih untuk pionir-pionir seperti Jenner dan Pasteur. Mereka telah menemukan vaksin yang mencegah tingginya angka kesakitan dan kematian. Namun demikian, kondisi masih memprihatinkan, bahkan dirasakan tragis, karena menurut laporan Badan Kesehatan Dunia (WHO), hampir dua juta anak-anak masih menjadi korban penyakit tiap tahun. Lebih dari 90.000 orang anak mengalami kelumpuhan polio yang mestinya bisa dicegah melalui imunisasi.

Menutup tahun-tahun pada abad ke-19 dan memasuki abad ke-20 ditandai dengan munculnya achievements of great vaccine scientist seperti Pasteur. Sejak Jenner vaccinia 200 tahun yang lalu diperkenalkan, sembilan penyakit utama manusia telah dapat dikendalikan dengan penggunaan vaksin: smallpox (1798), rabies (1885), plague (1897), difteri (1923), pertusis (1926), tuberculosis/BCG (1927), tetanus (1927), dan yellow fever (1935). Beberapa vaksin digunakan secara individu di daerah dengan risiko penyakit seperti rabies dan plague, tetapi tidak pernah digunakan secara sistematis dalam skala global. Sementara BCG telah secara meluas digunakan untuk bayi-bayi, yang secara sukses dapat mencegah komplikasi seperti meningitis dan miliary tuberculosis.

Ada banyak informasi mengenai sejarah penggunaan vaksin yang telah dipublikasikan. Antara lain pada vaksin BCG pada tanggal 24 April 1927, dokter Albert Calmette dan seorang peneliti bernama Camille Guerin berhasil menemukan vaksin untuk mengobati penyakit TBC, yang dinamakan vaksin bacillus calmette guerin (BCG). Penelitian mereka untuk menemukan vaksin itu telah dimulai sejak 1906 ketika Guerin menemukan bahwa ketahanan terhadap penyakit TBC berkaitan dengan adanya bakteri tubercle bacilli yang hidup di dalam darah.

Pada tahun 1921 mereka berhasil mengembangkan jenis basil yang tidak berbahaya bagi manusia. Setelah kedua peneliti berhasil menemukan vaksin BCG, vaksin ini diujicobakan kepada bayi-bayi di Paris. Namun, pada 1930 program vaksinasi BCG sempat menimbulkan bencana dengan meninggalnya sejumlah bayi di Jerman akibat TBC justru setelah mereka divaksin. Pada 1950 University Illinois di AS mendapat lisensi untuk memproduksi vaksin ini dan menjualnya di AS. Namun, karena pertentangan di masyarakat AS atas penggunaan vaksin BCG masih kuat, maka vaksin ini tidak digunakan secara rutin.

Vaksin cacar tidak dapat dipisahkan dari Edward Jenner (1749-1823). Jenner mendengar cerita bahwa jika seorang tertular cacar sapi yang sering terjadi pada pemerah sapi pada waktu itu, maka dia akan menjadi kebal dan terlindung dari penyakit cacar yang pada saat itu masih mewabah. Ia melakukan observasi sistematis dan melakukan eksperimen terhadap seorang anak. Jenner mengambil darah dari vesikel di tangan pemerah susu yang tertular cacar sapi, kemudian menginokulasi cairan tersebut pada dua irisan sepanjang 2,5 inci pada lengan anak tersebut. Enam minggu kemudian ia memvariolasi (memaparkan virus cacar dari penderita cacar ke manusia sehat) ke lengan anak tersebut dan tidak menunjukkan suatu reaksi.

Variolasi diulang beberapa bulan kemudian ternyata hasilnya tetap sama. Jenner menyusun tulisan ilmiahnya tentang kekebalan terhadap cacar pada manusia yang pernah tertular cacar sapi. Ia juga melakukan survei nasional yang mendukung teorinya. Sesudah penemuan Jenner diujicoba dan dikonfirmasi banyak ilmuwan lain, vaksinasi cacar mulai meluas di London untuk kemudian menyebar di Inggris, seluruh Eropa, dan dunia.

Pasteur (1885) memperkenalkan cara penanggulangan penyakit akibat gigitan tersangka rabies dengan menggunakan cara vaksinasi menggunakan vaksin anti rabies (VAR). VAR yang digunakan ini kemudian mengalami perkembangan berupa perbaikan, baik menyangkut substrat yang digunakan maupun yang menyangkut cara inaktivasi dari virus hasil panen. Ini sebagai usaha untuk mendapatkan vaksin yang lebih imunogenik dan lebih aman.

Seperti diketahui rabies adalah penyakit menular yang akut dari susunan syaraf pusat yang disebabkan virus RNA dari golongan famili Rhabdoviridae yang terdapat dalam air ludah dari hewan ataupun manusia yang menderita anjing gila. Virus yang bersifat neurotrop ini sebetulnya penyebab penyakit terutama pada hewan, namun dapat menular kepada manusia terutama melalui gigitan hewan.

Beberapa vaksin yang masih digunakan saat ini adalah vaksin yang perkembangannya sudah sangat tua, dan telah dikembangkan 50-80 tahun yang lalu dan hanya terdapat perubahan sedikit dari perkembangannya dari kurun setelah itu. Meskipun vaksin yang lebih baru telah berubah dari vaksin lama, konstruksinya tetap berdasarkan dari ekstrak larutan (suspension) bakterial atau viral. Beberapa vaksin yang dipasarkan pada saat ini masih menggunakan teknologi lama. Sebagai contoh difteri dan tetanus toxoid, whole cell pertusis vaccine, dan BCG.

Produksi dan metoda pengujian secara esensial relatif tidak pernah berubah dari saat mendapatkan lisensi. Vaksin viral hidup, seperti oral polio vaksin (OPV), masih digunakan diseluruh dunia kecuali di AS. Campak, dan vaksin yellow fever tidak pernah berubah dari sejak era 1960. Bahkan, vaksin yang relatif baru, yaitu vaksin recombinant hepatitis B, sudah berumur lebih dari 20 tahun.

Pengujian vaksin
Vaksin diketahui sebagai alat yang paling efektif dalam pencegahan infectious diseases (penyakit-penyakit infeksi). Karena itu, vaksin mempunyai peran yang sangat penting untuk kesehatan manusia maupun dunia veteriner. Pengontrolan terhadap vaksin diatur dalam monograph dan guidelines yang diterbitkan secara nasional maupun farmakope internasional seperti European Pharmacopoeia (Ph.Eur), council of Europe,Strasbourg, France, organisasi internasional seperti Badan Kesehatan Dunia (WHO Geneva Switzerland).

Pengujian mutu vaksin, khususnya pengujian pada produk akhir di Pusat Pengujian Obat dan Makanan Nasional (PPOMN) Badan POM, dilakukan sesuai dengan WHO Expert Committee and Technical Report Series. Bermacam-macam publikasi Technical Report Series telah diterbitkan sesuai jenis vaksinnya. Secara umum pembuatan vaksin harus memenuhi persyaratan pengujian selama proses pembuatan maupun untuk produk akhir sehingga dapat diperoleh vaksin yang aman dan efektif sesuai maksud penggunaannya. Bermacam-macam uji perlu dilakukan terhadap bahan yang digunakan untuk produksi seperti substrat untuk pembiakan virus maupun media untuk bakteri dan lain-lain bahan tambahan serta terhadap produk setengah jadi.

Jenis pengujian yang dilakukan meliputi uji terhadap adanya cemaran virus, bakteri, fungi, mikoplasma, uji pirogen, uji terhadap sisa adanya kontaminan yang mungkin ada dan lain-lain. Ini tergantung pada jenis bahan yang digunakan. Untuk berbagai jenis vaksin dilakukan serangkaian pengujian seperti uji identitas, uji stabilitas, uji potensi, uji toksisitas, uji sterilitas, uji thiomersal, uji kelembaban pada vaksin beku kering.[primz, dari berbagai sumber]

Artikel yang berhubungan:
* Proses Pembuatan Vaksin
* RV 144 : Vaksin HIV Pertama di Dunia
* Vaksin H1N1 2009 Siap Melawan Pandemi

Simpan halaman ini dalam PDF?

Post artikel ini di tempat lain? Bookmark and Share

Seluruh artikel di myhealing.wordpress.com dapat Anda perbanyak dan digunakan untuk keperluan apapun, asal tetap mencantumkan sumber URL. Silakan berikan rating untuk artikel ini.

Copyright © 2007 – 2010 Stetoskop. All Rights Reserved.
About these ads

8 Responses to “Sejarah Pembuatan Vaksin”

  1. fatutuz Says:

    tolong di jelaskan scra langsung bagaimana tahapan-tahapan pembuatan vaksin….mohon di balas cepat

  2. Prima Almazini Says:

    @ fatutuz:
    Bagaimana proses pembuatan vaksin dapat dibaca di sini.

  3. SEJARAH MIKROBIOLOGI DAN PENGARUHNYA DALAM MEMBANGUN PERADABAN MANUSIA SEJAHTERA « Pondok Ilmu Says:

    [...] penyakit virus adalah salah satu keunggulan dari pengobatan modern. Vaksin pertama diproduksi oleh Edward Jenner pada tahun 1796 untuk memberikan perlindungan terhadap penyakit cacar. Jenner menyadari bahwa [...]

  4. ayukk Says:

    cara pembuatan vaksinnya koq ga ada??

  5. Prima Almazini Says:

    @ ayukk:
    Bagaimana cara pembuatan vaksin dapat dibaca di sini.

  6. my LIBRARY-LAB Says:

    [...] penyakit virus adalah salah satu keunggulan dari pengobatan modern. Vaksin pertama diproduksi oleh Edward Jenner pada tahun 1796 untuk memberikan perlindungan terhadap penyakit cacar. Jenner menyadari bahwa [...]

  7. rey Says:

    kalo tahap2 pengujian vaksinnya ada ga?

  8. nhytha Says:

    siapa penemu teknik pembuatan vaksin ini ?


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: