Stem Sel Darah Menstruasi Berpotensi Mengobati Stroke dan Gangguan Sistem Syaraf Pusat

Cryo-Cell International, Inc mengumumkan hasil dari sebuah penelitian yang dipublikasikan bulan ini dalam ‘Stem Cell and Development’. Penelitian tersebut memperlihatkan bahwa stem sel yang ditemukan di darah menstruasi suatu saat akan menjadi sumber potensial untuk terapi stroke dan gangguan sistem syaraf pusat yang lain. Stem sel darah menstruasi, yang diberi sebutan MenSCs, mudah diperoleh, tidak kontroversial dan dapat diperbaharui berdasarkan beberapa penelitian sebelumnya mempunyai potensi untuk dapat mengobati pasien dengan stroke, osteoporosis, alzheimer, dan parkinson. Penelitian yang diberi judul, “Menstrual Blood Cells Display Stem Cell-Like Phenotypic Markers and Exert Neuroprotection Following Transplantation in Experimental Stroke,” ini dilakukan oleh para peneliti di Cryo-Cell International, The University of South Florida, Saneron-CCEL Therapeutics and the Medical College of Georgia.

Read Article »

Advertisements

Peta Otak Manusia Selesai Dalam 5 Tahun

Peta jalur saraf di dalam otak apabila dipetakan dan diberi warna-warna dan kode sesuai jenis sarafnya akan menjadi pemandangan yang sangat indah.

Otak manusia tak hanya canggih tapi juga indah

Dalam membuat peta planet bumi, butuh penjelajahan selama ribuan tahun sehingga didapatkan secara rinci peta setiap sudut, celah, dan jurang di planet bumi. Saat ini, sebuah konsorsium peneliti dari seluruh Amerika Serikat akan mencoba untuk memetakan seluruh otak manusia hanya dalam waktu lima tahun. Total biaya untuk proyek ini adalah 30 juta dolar Amerika dan ditargetkan hanya dalam setengah dekade. Dana proyek ini sendiri berasal dari berbagai badan dalam National Institute of Health (NIH).

Human Connectome Project (HCP) bertujuan untuk membuat peta pertama dari sirkuit kompleks otak dan merinci setiap koneksi yang menghubungkan ribuan berbagai wilayah di otak. Tim HCP terdiri dari 33 orang peneliti dari sembilan lembaga yang berbeda, diantaranya dari Washington University School of Medicine di St Louis dan University of Minnesota. Kedua universitas tersebut menjadi pemimpin penelitian dan menjadi tempat dalam melakukan proses pemindaian otak.

Read Article »

Mengintip Upaya Ilmuwan Membuat Peta Otak Manusia


Suatu saat nanti, peta koneksi antara sel-sel otak manusia akan menjadi sebuah revolusi, seperti halnya peta genom manusia. Human connectome project, itulah namanya. Namun, saat ini upaya tersebut masih terbentur banyak kendala.

Diagram kawat hubungan antara neuron dan otot interscutularis telinga tikus.

Read Article »

Pengaruh Antidepresan terhadap Risiko terkena Stroke pada Wanita Pascamenopause

Antidepresan merupakan obat yang paling banyak diresepkan oleh dokter di Amerika Serikat. Apakah benar pada wanita pascamenopause, mengonsumsi antidepresan meningkatkan risiko terkena stroke?

Penelitian terbaru memperlihatkan bahwa wanita pascamenopause yang mengonsumsi antidepresan semakin tinggi risikonya mengalami stroke dan kematian. Penelitian ini dilakukan oleh Women’s Health Initiative Study, disponsori oleh National Institute of Health. Hasilnya memperlihatkan bahwa wanita pascamenopause yang mengonsumsi antidepresan mempunyai risiko terkena stroke lebih tinggi dibandingkan dengan wanita yang tidak mengonsumsi antidepresan.

Data diperoleh dari 136.293 partisipan, berumur 50-79 tahun, yang tidak mengonsumsi antidepresan pada awal penelitian. Enam tahun kemudian pada saat tindak lanjut, 5.496 perempuan mengonsumsi antidepresan. Penelitian membandingkan 130.797 wanita yang tidak mengonsumsi antidepresan terhadap mereka yang mengonsumsi. Selain peningkatan risiko terkena stroke, wanita yang mengonsumsi antidepresan juga ditemukan mempunyai 32% risiko yang lebih tinggi mengalami kematian oleh berbagai sebab.

Read article »

Patogenesis Neuropati pada Diabetes Mellitus

Pasien diabetes sering mengalami kerusakan saraf di seluruh tubuhnya. Gangguan saraf dapat terjadi pada berbagai sistem organ, seperti saluran cerna, jantung dan organ reproduksi. Bagaimanakah para ilmuwan menerangkan proses terjadinya neuropati pada pasien diabetes mellitus?

diabetic-neuropathySelama lebih dari 20 tahun, ada tiga teori utama untuk menjelaskan neuropati diabetik, yaitu teori polyol pathway, teori mikrovaskuler, dan teori produk akhir glikosilasi. Namun ternyata tidak hanya teori itu saja. Terlalu sederhana untuk menjelaskan berbagai gambaran klinis dan penemuan patologis dari neuropati diabetik dengan hanya satu, dua, atau tiga teori.

Teori Polyol Pathway
Ambilan glukosa di saraf perifer tidak hanya bergantung pada insulin. Oleh karena itu, kadar gula darah yang tinggi pada pasien diabetes menyebabkan konsentrasi glukosa yang tinggi di saraf. Hal itu kemudian menyebabkan konversi glukosa menjadi sorbitol melalui jalur polyol melalui reaksi beruntun dikatalisasi oleh aldose reductase. Kadar fruktose saraf juga meningkat. Fruktose dan sorbitol saraf yang berlebihan menurunkan ekspresi dari kotransporter sodium/myoinositol sehingga menurunkan kadar myoinositol. Hal ini menyebabkan penurunan kadar phosphoinositide, bersama-sama dengan aktivasi pompa Na dan penurunan aktivitas Na/K ATPase. Aktivasi aldose reductase mendeplesi kofaktornya, NADPH, yang menghasilkan penurunan kadar nitric oxide dan glutathione, yang berperan dalam melawan perusakan oksidatif. Kurangnya nitric oxide juga menghambat relaksasi vaskuler yang dapat menyebabkan iskemia kronik.

Read Article »

Perkembangan Terbaru Terapi Stroke Perdarahan Intraserebral

Stroke perdarahan intraserebral terkenal sangat mematikan. Beberapa penelitian terbaru memperlihatkan setitik cahaya terang dalam kemajuan terapinya meskipun belum sepenuhnya dapat diterapkan secara klinis.

Read Article »

Posted in Neurology. Tags: . 6 Comments »

Mengoptimalkan Daya Ingat

Jika kita berbicara tentang daya ingat, maka tidak terlepas dari belajar (learning). Belajar merupakan proses untuk memperoleh informasi atau pengetahuan baru. Sedangkan daya ingat (memori) adalah proses untuk menyimpan pengetahuan yang diperoleh itu dalam jangka waktu lama agar dapat mengingatnya kembali ketika dibutuhkan. Jelas, dalam menyerap informasi dari lingkungan, kita sangat bergantung kepada kemampuan daya ingat ini.Banyak pertanyaan tentang proses mengingat yang masih belum terjawab. Hal itu dikarenakan, “Belajar dan memori merupakan fenomena yang kompleks,” kata John Byrne, Ph. D., Guru Besar dan Ketua Jurusan Neurobiologi dan Anatomi Sekolah Kedokteran Universitas Texas di Houston, AS. “Karena melibatkan seluruh bagian otak,” tambahnya.

Otak kita memerlukan beberapa langkah untuk mengingat suatu informasi. Dimulai dengan proses mencatat (register), menyimpan, kemudian mengambilnya kembali. Pencatatan akan lebih efektif apabila kita memiliki perhatian dan motivasi lebih terhadap informasi tersebut. Informasi pun akan disimpan lebih lama apabila kita sering mengingat-ingatnya kembali. Hal itu memindahkan status memori jangka pendek tersebut menjadi memori jangka panjang. Di dalam memori jangka panjang ini, informasi diatur, disusun, dan dipadatkan sehingga tertata menurut petunjuk (clue) tertentu, yang bisa dipanggil sewaktu-waktu apabila kita membutuhkannya. Tapi proses itu tidak selalu berjalan mulus, karena ada banyak penghalang yang dapat membuat informasi tersebut tidak mengendap sebagaimana mestinya.

Penghambat Proses Mengingat

Terlalu sibuk dan terlalu banyak tugas dan masalah yang harus diselesaikan bisa membuat otak kita overloaded. Terdapat sebuah penelitian yang dilakukan terhadap 15.000 manajer dan eksekutif di Insead, sebuah sekolah bisnis di Eropa. Selama lima tahun, angka yang menyatakan persoalan besar pada memori dan konsentrasi mereka meningkat dari 15% menjadi 25%. Kesibukan, seperti diungkapkan oleh dr. Michael McGannon, kepala bagian Pendidikan Bisnis Kesehatan Insead, dapat membuat seseorang tenggelam dalam suasana tertekan yang bisa berakibat buruk, yaitu kegagalan proses penyimpanan informasi.

Read Article »

Posted in Neurology. Tags: , . 9 Comments »