Posted by prima almazini on 1 July 2009
Pasien diabetes sering mengalami kerusakan saraf di seluruh tubuhnya. Gangguan saraf dapat terjadi pada berbagai sistem organ, seperti saluran cerna, jantung dan organ reproduksi. Bagaimanakah para ilmuwan menerangkan proses terjadinya neuropati pada pasien diabetes mellitus?

Selama lebih dari 20 tahun, ada tiga teori utama untuk menjelaskan neuropati diabetik, yaitu teori polyol pathway, teori mikrovaskuler, dan teori produk akhir glikosilasi. Namun ternyata tidak hanya teori itu saja. Terlalu sederhana untuk menjelaskan berbagai gambaran klinis dan penemuan patologis dari neuropati diabetik dengan hanya satu, dua, atau tiga teori.
Teori Polyol Pathway
Ambilan glukosa di saraf perifer tidak bergantung pada insulin. Oleh karena itu, kadar gula darah yang tinggi pada pasien diabetes menyebabkan konsentrasi glukosa yang tinggi di saraf. Kemudian menyebabkan konversi glukosa menjadi sorbitol melalui jalur polyol melalui reaksi beruntun dikatalisasi oleh aldose reductase. Kadar fruktose saraf juga meningkat. Fruktose dan sorbitol saraf yang berlebihan menurunkan ekspresi dari kotransporter sodium/myoinositol sehingga menurunkan kadar myoinositol. Hal ini menyebabkan penurunan kadar phosphoinositide, bersama-sama dengan aktivasi pompa Na dan penurunan aktivitas Na/K ATPase. Aktivasi aldose reductase mendeplesi kofaktornya, NADPH, yang menghasilkan penurunan kadar nitric oxide dan glutathione, yang berperan dalam melawan perusakan oksidatif. Kurangnya nitric oxide juga menghambat relaksasi vaskuler yang dapat menyebabkan iskemia kronik.
Read the rest of this entry »
Posted in Neurologi | Leave a Comment »
Posted by prima almazini on 13 June 2009
Sabun adalah bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan kita sehari-hari. Kesehatan kulit sangat bergantung pada pilihan produk sabun yang kita pilih. Semakin basa suatu sabun semakin buruk efeknya pada kulit. Jadi, perhatikan dahulu profil produknya sebelum menjatuhkan pilihan sabun untuk kulit Anda.

Kulit adalah pertahanan pertama melawan seluruh elemen dari luar tubuh, seperti mikroorganisme, angin dan polutan. Di permukaan kulit terdapat struktur mantel asam. Mantel asam adalah lapisan film yang bersifat asam di permukaan kulit yang berfungsi melindungi kulit. Lapisan ini memegang peranan penting sebagai bagian integral dari fungsi perlindungan stratum korneum.
Membersihkan kulit dengan sabun atau detergen dapat menyebabkan hilangnya mantel asam. Pencucian berulang-ulang mengubah stratum korneum dan fungsi perlindungan, termasuk pH kulit. Jika mantel asam menjadi rusak, atau hilang keasamannya, kulit menjadi lebih rentan rusak dan infeksi.
Read the rest of this entry »
Posted in Skin Health | 1 Comment »
Posted by prima almazini on 1 June 2009

Gastroparesis diabetik adalah kondisi klinik yang mengenai pasien-pasien diabetes mellitus. Kondisi ini ditandai oleh perlambatan pengosongan lambung dan dihubungkan dengan gejala gastrointestinal bagian atas tanpa adanya obstruksi mekanik. Perlambatan pengosongan lambung pada pasien-pasien diabetes diakibatkan oleh hiperglikemia yang tidak terkontrol, gizi buruk, dan dehidrasi, yang akan menyebabkan kualitas hidup yang buruk, perawatan lama di rumah sakit, dan menurunnya tingkat produktivitas. Namun, mendiagnosis gastroparesis diabetik tidak semudah yang dibayangkan, gejalanya tidak spesifik dan banyaknya diagnosis banding. Begitu pula, penatalaksanaannya juga tak mudah, diagnosis umumnya terlambat, pelayan kesehatan tidak mengenali gastroparesis diabetik sebelum timbul komplikasi serta masih adanya bias terapi. Penelitian terkontrol acak mengenai terapi gastroparesis diabetik pun masih sangat sedikit. Sehingga, keterampilan menegakkan diagnosis serta menatalaksana pasien gastroparesis diabetik penting diketahui dan dikuasai oleh dokter umum.
Read the rest of this entry »
Posted in Gastroenterologi | Leave a Comment »
Posted by prima almazini on 1 April 2009
Kebahagiaan orang tua saat melahirkan anak sungguh sangat tak terkira. Namun mereka takkan pernah tahu, bilakah kelak sang bayi menderita penyakit keganasan atau tidak. Kebahagiaan akan tetap bersemi dan merekah bila mereka sempat menyimpan tali pusat si kecil. Tali pusat itu mungkin tinggal satu-satunya harapan kala sel kanker telah bersemayam dan menggerogoti setiap inci tubuh sang buah hati.

Dulu maupun sekarang, pepatah menabung untuk bekal di hari tua sepertinya tidak akan pudar dimakan waktu. Namun, sekarang yang bisa disimpan di bank bukan hanya uang tapi juga stem sel. Seperti kita tahu, darah tali pusat bayi mengandung stem sel hematopoietik, sel progenitor yang dapat membentuk sel darah merah, sel darah putih dan platelet. Sejak keberhasilan pengobatan Anemia Fanconi tahun 1988, tali pusat telah dikenal sebagai sumber stem sel yang dapat digunakan untuk terapi stem sel.
Kini, terapi stem sel dari tali pusat terbukti dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit mulai dari parkinson hingga kanker. Sel darah tali pusat pun telah digunakan untuk mengobati penyakit genetik terkait sistem imun dan darah, kanker dan kelainan darah.
Read the rest of this entry »
Posted in Stem Cell | 1 Comment »
Posted by prima almazini on 4 March 2009
Di era sekarang ini, praktik kedokteran dilandaskan pada bukti-bukti ilmiah dan tidak lagi hanya mengandalkan pengalaman seorang dokter. Hal ini menuntut seorang dokter untuk terus senantiasa mengikuti perkembangan ilmu kedokteran terbaru dalam mendiagnosis dan memberikan terapi pada pasiennya.
Tema tersebut menjadi pembahasan utama pada acara peluncuran program AsiaLink di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia yang saya hadiri beberapa waktu lalu. Dalam rangka memfasilitasi hal tersebut, Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta dengan University Medical Centre Ultrecht, The Netherlands; University of Oxford, United Kingdom; dan University of Malaya, Malaysia mengadakan kerjasama dalam bidang epidemiologi klinik dan Evidence Based Medicine. Program yang diberi nama AsiaLink Clinical Epidemiology and Evidence Based Medicine (AsiaLink CE-EBM) ini telah resmi diluncurkan tahun 2008 lalu.
Read the rest of this entry »
Posted in Kunjungan Ilmiah | 2 Comments »
Posted by prima almazini on 8 February 2009
“In-do-ne-sia dug..dug..dug..tak dug..dug. In-do-ne-sia dug..tak..dug..tak..dug..dug.” Kalau nasionalisme diukur dari berapa banyak menyebut kata Indonesia dan seberapa sering mengibarkan merah putih, maka tak ada yang lebih nasionalis daripada para suporter sepakbola.

Saya adalah seorang mahasiswa perantau. Sudah 4 tahun saya tinggal di kota rantauan. Namun saya tak akan pernah lupa berbagai kebiasaan di kampung halaman saya. Rumah saya terletak di pusat kota. Kami tinggal satu keluarga terdiri dari ibu dan 4 orang anak. Salah satunya, saya, anak paling sulung.
Salah satu kebiasaan yang saya ingat adalah tentang bendera merah putih. Saya selalu terkenang saat ibu saya menyuruh mencari bendera merah putih menjelang hari kemerdekaan tiba. “Cari di gudang ya nak,“ pintanya. Bendera itu berdebu terjepit di antara benda-benda tak terpakai lainnya seperti buku-buku sekolah bekas dan kardus bekas TV. Ukuran benderanya pun tidak sama dengan ukuran bendera standar seperti yang saya pelajari di pelajaran PPKN. Keluarga kami tidak ada keturunan dari tokoh nasionalis seperti bung Karno ataupun Ki Hajar Dewantara, tidak ada pula yang veteran pejuang 45, aktivis partai, apalagi calon presiden. Kami tidak begitu peduli dengan tetek bengek perayaan kemerdekaan. Gembar-gembor Ketua RT di TOA mesjid adalah satu-satunya alasan keluarga kami memasang bendera merah putih di depan rumah.
Read the rest of this entry »
Posted in Cerita Pengalaman | 6 Comments »
Posted by prima almazini on 24 January 2009

Before its establishment in 1950, the Faculty of Medicine Universitas Indonesia (FMUI) was known as STOVIA. In STOVIA, there were only two social classes allowed to study medicine. They were either Indonesian people with high economic and social status or the Dutch people. Therefore, the amount of doctors in Indonesia is countable.
However, since Orde Baru, the quality of life of most Indonesian has improved due to the economical and political stability maintained by the government. Parallel with the improvement, the demand for adequate medical services was also increased. Therefore, the government published a policy that endorsed increased production of medical doctors. Parents who wish to see their child serve as a doctor could submit the application to available state-owned faculty of medicine without any fear of facing discrimination related with economical/social status. The government’s sole prerequisite was that the child managed to pass the entrance test, named UMPTN. This policy effectively boosted the number of doctors in Indonesia.
Read the rest of this entry »
Posted in Pendidikan Dokter | 1 Comment »
Posted by prima almazini on 15 December 2008
Obat murah. Oh obat murah. Kehadiranmu bak oase di tengah gersangnya gurun pasir. Sayang, percikan kesegarannya belum bisa diteguk oleh semua orang.

Secara global, harga obat di Indonesia terbilang mahal. Harganya mencapai 25%-30% di atas harga rujukan internasional. Padahal sebagian besar penduduk Indonesia adalah rakyat miskin. Dampaknya daya beli masyarakat terhadap obat rendah. Hal ini sudah lama menjadi salah satu dari daftar panjang masalah sistem pelayanan kesehatan di Indonesia.
Namun saat ini, pemerintah telah resmi meluncurkan program obat murah. Obat hasil produksi PT. Indofarma ini dijual dengan harga Rp. 1.000 per strip. Satu strip berisi 5-6 tablet. Dua belas dari dua puluh jenis obat murah tersebut saat ini telah resmi beredar di pasaran. Obat-obat tersebut merupakan obat yang banyak dikonsumsi masyarakat, yaitu obat penurun panas, obat penurun panas anak, obat sakit kepala, obat flu, obat batuk dan flu, obat batuk cair, obat batuk berdahak, obat maag, obat asma, obat tambah darah, obat cacing, dan obat cacing anak.
Read the rest of this entry »
Posted in Kebijakan Kesehatan | 5 Comments »